<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537</id><updated>2011-04-22T08:42:06.246+07:00</updated><category term='Fione is Death'/><category term='article'/><category term='leterkunde'/><category term='bulk'/><category term='skripsie'/><title type='text'>thewann</title><subtitle type='html'>I'm the most predictable
and the most unpredictable</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>22</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-4152561582033802308</id><published>2007-12-19T10:46:00.000+07:00</published><updated>2007-12-19T10:50:29.215+07:00</updated><title type='text'>RUMI</title><content type='html'>Sudah berkali-kali bunga tidur itu bermekaran, membentuk taman malam penuh duri yang menusukkan teror pada jiwanya. Sebagai perempuan yang perasa Rumi menjadi selalu khawatir dengan segala hal. Jiwanya menjadi ciut dan senantiasa diselimuti rasa takut. Tak ayal lagi, wajahnya yang hitam manis menjadi pucat pasi. Bercampuran warna rasa terlukis di wajahnya, resah, lelah, takut, dan bimbang.&lt;br /&gt;Dalam satu mimpinya Rumi membunuh Sulaiman, suaminya. Kala itu Rumi membantai Sulaiman saat mencoba merayunya di tempat tidur. Dalam mimpinya yang lain Rumi mendorong suaminya yang nelayan itu dari atas perahu ke tengah badai laut utara. Dalam setiap mimpinya Rumi mendengar suara yang membisikinya untuk melakukan perlawanan, kekerasan yang berujung pembunuhan itu. Parahnya, si pembisik mimpi itu datang pula pada mimpinya yang lain. Kali ini yang menjadi sasaran adalah bayi kecilnya, Putra. Namun, untuk mimpinya yang terakhir ini Rumi tak sangguip menggambarkannya. Singkatnya, Rumi membunuh Putra dengan cara di luar batas kemanusiaan. Mimpi itu seolah nyata, dan Rumi selalu menolaknya. Namun semua itu terus terjadi dalam mimpi. Dalam mimpi.&lt;br /&gt;Memang hanya mimpi. Akan tetapi mimpi yang terus menghujam ke hampir setiap tidurnya sangat menggoncangkan jiwa Rumi. Ia merasa tak enak makan, tak enak tidur. Bahkan tak enak berjumpa dengan orang-orang. Mulailah perasaan-perasaan itu membuat Rumi menjadi sensitif, rapuh, hingga akhirnya mengalienasi diri dari lingkungan. Namun pada sisi lain ia tak bisa ditolak. Segala keinginannya harus segera diikuti. Sulaiman yang paling mengerti selalu mengikuti permintaan Rumi walaupun hatinya kadang bergumam.&lt;br /&gt;Hari ini Rabu, awal musim hujan bulan September. Sejak subuh mula Rumi terus merajuk pada suaminya. Ia minta diantar ke tengah laut berdua, melihat matahari tenggelam dari tengah laut. Sebuah permintaan aneh dan merepotkan. Siapa pula yang menunggu Putra bila anak itu ditinggalkan di rumah.&lt;br /&gt;“Mas, sudah siang nih, sana geh siapkan perahu, minjem sama Mas Topik!” Rumi kembali mendesak.&lt;br /&gt;“Iya, iya, tenang saja. Perahu mas topik itu banyak. Yang biasa dipake Anis bisa kita pakai hari ini. Aku Wis ngomong karo Anis, dia dan grupnya nda melaut malam ini.”&lt;br /&gt;“Yo wis, aku masak nasi dulu, masak sayur, netekin Si Putra, nanti abis ashar, abis si Putra dikelonin, kita cepet-cepet pergi ya, Mas.”&lt;br /&gt;“Iya, iya,” jawab Sulaiman jengkel, “ya... beginilah punya bini lagi Suetress.”&lt;br /&gt;Ashar pun tibasetelah siap dan bersiap diri, Rumi merapikan rumah, menutup jendela, memeriksa dapur: kompor sudah dimatikan. Terakhir ia meyakinkan Si Putra sudah tidur. Ia juga sudah sejak tadi berpesan pada Umi, tetangganya agar menengoki Si Putra bila ia dan suaminya sedang ke laut. Sementara Sulaiman memeriksa onkelnya yang sudah tua.&lt;br /&gt;“Ayo, Mas!” Rumi duduk menyamping di bagasi onkel.&lt;br /&gt;“Si Putra wiss turu?”&lt;br /&gt;“Wiss, ayo jalan!”dalam perjalanan di atas onkel Rumi memeluk pinggang Sulaiman erat-erat. Kepalanya bersandar pada punggung suaminya yang berkeringat. Tubuh mereka lekat seolah tak ingin terpisah satu sama lain. Sementara dalam kayuhan yang lelah Sulaiman merasakan sesuatu menusuk-nusuk hatinya. Sedih, takut sesuatu akan hilang, terenggut darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah laut.&lt;br /&gt;Angin menderu. Ombak mendayu. Sulaiman mematikan motor perahu. Matahari sebesar meja makan memerah di tepi fatamorgana laut. Warnanya merah merayu. Rumi berdiri merenung di tepi belakang perahu. Ia menarik nafas panjang. Ada sesuatu yang ia lepas ke udara bersama hembusan nafasnya.&lt;br /&gt;“Mas, bila aku tak pulang hari ini, jaga anak kita baik-baik.”&lt;br /&gt;Rumi mulai terbata-bata sambil meneteskan air mata.&lt;br /&gt;“Apa maksudmu? Memangnya kamu mau ke mana?” Sulaiman keheranan.&lt;br /&gt;“Pulang, Mas.”&lt;br /&gt;“Pulang ke mana? Hmm kita sama-sama pulang ke rumah, sama-sama menjaga dan membesarkan Putra, menyekolahkannya hingga kelak ia jadi orang besar.”&lt;br /&gt;“Tapi aku takut, Mas.”&lt;br /&gt;“Takut apa?”&lt;br /&gt;“Aku takut, Mas.”&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;Rumi tak menjawab. Ia menyusupkan wajahnya pada dada Sulaiman yang bidang, memeluknya erat-erat.&lt;br /&gt;Gelap mulai datang. Angin makin kencang, ombak berkejaran menuju tepi pantai, berdebur sebelum pecah di sela-sela batu karang. Kapal motor itu mneraung menuju bibir pantai. Rumi masih di tempatnya, di belakang kapal. Sementara Sulaiman sibuk dengan kemudi. Tanpa alat navigasi ia tahu jalan pulang, namun ombak semakin besar, dan lagi banyak karang yang merintang yang dapat membuat kapalnya karam setiap waktu.&lt;br /&gt;Dalam riuh ombak, deru angin, dan raung kapal motor, perlahan Rumi mendekati bibir kapal. Dengan lirih ia celupkan kedua ujung kakinya ke air laut. Tubuhnya mengikuti. Rumi telah menyatukan dirinya dengan laut.&lt;br /&gt;Sulaiman masih memegang kemudi. Sinar petromak mulai kelihatan, berderet seolah memagari desanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-4152561582033802308?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/4152561582033802308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/4152561582033802308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/12/rumi.html' title='RUMI'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-5136560134121024623</id><published>2007-12-18T11:28:00.000+07:00</published><updated>2007-12-18T11:34:48.551+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bulk'/><title type='text'>the power of loss</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#cc0000;"&gt;Pernahkah Anda sadar?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#cc0000;"&gt;Saat kita kehilangan sesuatu yang sangat berarti, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#cc0000;"&gt;Jiwa kita merayakannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#cc0000;"&gt;Ada euforia dan gejolak jiwa yang mengobarkan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#cc0000;"&gt;semangat kemenangan saat kita kalah.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-5136560134121024623?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/5136560134121024623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/5136560134121024623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/12/power-of-loss.html' title='the power of loss'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-6268332050475846383</id><published>2007-11-30T13:09:00.007+07:00</published><updated>2007-11-30T13:18:28.204+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='skripsie'/><title type='text'>daftar pustaka</title><content type='html'>DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aminuddin. 1995. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: PT Sinar Baru Algensindo&lt;br /&gt;Bratawidjaja. 2002. Perkawianan Adat Sunda. Bandung: Pustaka Setia&lt;br /&gt;Danandjaya, James. 2002. Folklor Indonesia ilmu gosip dongeng dan lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Garafiti&lt;br /&gt;Danandjaya, James. “Pendekatan Folklor dalam Penelitian Bahan-bahan Tradisi Lisan” dalam Pudentia. Ed. 1998. Metodologi Kajian Sastra Lisan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia&lt;br /&gt;Danandjaya, James  dalam Sutrisno, Sulastin. dkk. 1991. Bahasa, Sastra, Budaya. Yogyakarta: Gajah Mada University Press&lt;br /&gt;Departemen Agama RI. 2002. Al Quran dan Terjemahnya Al Aliyy. Bandung: Diponegoro&lt;br /&gt;Durkheim, Emile. 2005. Sejarah Agama, The Elementary forms of the religious (terjemahan Muzir). Yogyakarta: IRCiSoD&lt;br /&gt;Ekadjati, Edi Suhardi. 1982. Ceritera Dipati Ukur Karya Sastra Sejarah Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya&lt;br /&gt;Eliade, Mircea. 2002. Sakral dan Profan. (terjemahan Nuwanto). Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru&lt;br /&gt;Endraswara, Suwardi. 2004. Dunia Hantu Orang Jawa: Alam Misteri, Magis, dan Fantasi Kejawen. Yogyakarta: Narasi&lt;br /&gt;Faruk. 2005. Pengantar Sosiologi Sastra dari Strukturalisme Genetik sampai Postmodernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar&lt;br /&gt;Finnegan, Ruth. 1992. Oral Tradition and The Verbal Art. A Guide ro Research and Practices. London: Routledge.&lt;br /&gt;Hardjasaputra, A. Sobana. 2004 Bupati di Priangan. Bandung: Pusat Studi Sunda&lt;br /&gt;Isnendes, Retty. “Semiotika Siliwangi pada Masyarakat Sunda” dalam Bahasa dan Sastra, Oktober 2005&lt;br /&gt;Jabrohim. 1996. Pasar dalam Perspektif Greimas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar&lt;br /&gt;Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka&lt;br /&gt;Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Antropologi Pokok-Pokok Etnografi II. Jakarta: Rineka Cipta&lt;br /&gt;Lembaga Sejarah dan Antropologi Departremen Pendidikan dan Kebudayaan. 1972. Tjerita Rakjat IV. Jakarta: Balai Pustaka&lt;br /&gt;Lubis, Nina Herlina. Dkk. 2003. Sejarah Tatar Sunda Jilid I. Bandung: Satya Historika&lt;br /&gt;Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yagyakarta: Gadjah Mada University Press&lt;br /&gt;Ong, Walter J. 1982. Orality And Literacy The Technologizing of The Word. London: Mathuen&lt;br /&gt;Ranggawaluya, H.S dan Darkat Darjusman. 1980. Wawacan Pangeran Dipati Ukur. Jakarta : Proyek Penerbitan Buku Bacaan Sastra Indonesia dan Daerah&lt;br /&gt;Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar&lt;br /&gt;Rusyana, Yus. 1981. Cerita Rakyat Nusantara Kumpulan Makalah tentang Cerita Rakyat. Bandung: Fakultas keguruan sastra dan seni IKIP Bandung&lt;br /&gt;________ 1970. Bagbagan Puisi Mantra Sunda. Bandung: Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda&lt;br /&gt;________ dan Ami Raksanagara. 1978. Sastra Lisan Sunda: Cerita Karuhun, Kajajaden, dan Dedemit. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud.&lt;br /&gt; ________ dkk. 2000. Prosa Tradisional: Pengertian, Klasifikasi dan Teks. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional&lt;br /&gt; ________.  “Perlu dilakukan talaah perbandingan terhadap sastra nusantara” makalah disajikan dalam konferensi nasional I Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI), Jakarta, tanggal 2-4 Februari 1987&lt;br /&gt;________. “Pare di dalam Sastra Sunda” Makalah Disampaikan dalam Seminar Sastra Nusantara mengenai Makanan Rakyat, di Denpasar, 22-24 Februari 1991&lt;br /&gt;Sarup, Madan. 2003. Post Structuralism and Post Modernism. Yogyakarta: Jendela&lt;br /&gt;Sumardjo, Jakob. 2004. Hermeuneutika Sunda: Simbol-Simbol Babad Pakuan Guru Gantangan. Bandung: Kelir&lt;br /&gt;Sutarto. 1997. Legenda Kasada dan Karo Orang Tengger Lumajang. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia&lt;br /&gt;Sweeney, Amin. “Surat Naskah Angka Bersuara ke Arah Mencari Kelisanan” dalam Pudentia. Ed. 1998. Metodologi Kajian Sastra Lisan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia&lt;br /&gt;Tarno, dkk. 2000. Tuturan Ritual dalam Sastra Lisan Lio. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional&lt;br /&gt;Teeuw, A. 1988. Sastra Dan Ilmu Sastra. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya&lt;br /&gt;Todorov, Tzvetan. 1985. Tata Sastra (diterjemahkan oleh Okke K.S Zaimar, dkk). Jakarta: Djambatan&lt;br /&gt;Wellek, Rene dan Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan (diterjemahkan oleh Melani Budianta). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Winangun, Darpan A dkk. 2004. Ensiklopedi Alit Garut. Garut: Dinas Pendidikan Kabupaten Garut&lt;br /&gt;Zaimar, Okke KS. “Wayang Wong Betawi” makalah untuk Seminar Asosiasi Tradisi Lisan, Jakarta, 14-16 Oktober 1999.&lt;br /&gt;Zaimar, Okke KS. “Penelitian tentang Wayang Golek” makalah untuk Seminar Asosiasi Tradisi Lisan, Jakarta, 14-16 Oktober 1999.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-6268332050475846383?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/6268332050475846383/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=6268332050475846383' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/6268332050475846383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/6268332050475846383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/daftar-pustaka.html' title='daftar pustaka'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-4513035029992402799</id><published>2007-11-30T13:09:00.006+07:00</published><updated>2007-11-30T13:17:57.270+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='skripsie'/><title type='text'>bab 6</title><content type='html'>BAB VI&lt;br /&gt;SIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1 Simpulan&lt;br /&gt;Menurut stukturnya CCB dapat dikelompokkan ke dalam legenda pembangun masyarakat dan budaya. C-1 sampai C-5 menceritakan asal mula penamaan suatu tempat, menjelaskan kondisi geografis suatu tempat, pemberian gelar, dan pada akhirnya menciptakan aturan-aturan adat yang harus diikuti oleh keturunan Eyang Batuwangi. Sementara itu, C-4 yang mengisahkan Eyang Batuwangi dikejar-kejar musuh dapat pula dikelompokkan sebagai legenda penyebar agama Islam.&lt;br /&gt;Struktur CCB tidaklah rumit. Setiap cerita terbangun sederhana dan tidak terlalu panjang. Latar CCB seluruhnya terjadi pada masa Eyang Batuwangi masih hidup. Masa ini bila dibandingkan terhadap hubungannya dengan Dipati Ukur pada C-1, maka harusnya terjadi pada akhir kekuasaan Majapahit, dan mulai berkembangnya kesultanan Islam (Mataram) di pulau Jawa. Oleh karena itu wajar bila masyarakat menganggap Eyang Batuwangi sebagai salah seorang penyebar agama Islam di Jawa Barat yang sebanding dengan seorang wali. Di samping itu, Eyang Batuwangi adalah nenek moyang masyarakat Batuwangi yang telah banyak berjasa kepada masyarakat di masa lalu. Dalam analisis struktur telah terungkap bahwa Eyang Batuwangi lebih sering menjadi pengirim dan subjek daripada sebagai penerima.    &lt;br /&gt;Di sisi lain, bila dilihat dari lingkungan penceritaannya, CCB dapat pula dikelompokkan sebagai legenda perseorangan (personal legend) maupun legenda setempat (local legend). Dalam hal ini CCB selalu mengisahkan seorang tokoh utama, yaitu Eyang Batuwangi yang mempunyai pengaruh besar bagi masyarakat. Lingkungan penceritaan serta latar setiap cerita selalu tidak jauh dari lingkungan masyarakat Batuwangi, sehingga unsur-unsur lokal sangat kuat dalam setiap cerita. &lt;br /&gt; Masyarakat Batuwangi memperlakukan CCB dengan cukup istimewa, meskipun tidak selamanya CCB dianggap sakral. Pada kenyataannya masyarakat tidak sembarangan menceritakan CCB kepada setiap orang. Selain itu, hanya orang yang sudah tua yang benar-benar menguasai cerita. Jadi, merekalah yang diangap berwenang untuk mewariskan cerita. Adapun CCB hanya diwariskan kepada keturunan baik anak-anak maupun orang yang telah dewasa, terutama laki-laki. Itupun tidak sebatas cerita, ada hal-hal lain yang juga diwariskan seperti larangan memakan kepala ayam, serta pengamalan asihan Batuwangi.&lt;br /&gt;Begitulah CCB dapat terus bertahan di masyarakat. CCB diperlakukan istimewa oleh masyarakat, dan sebaliknya, CCB pun sedikit banyak mempengaruhi corak hidup, alam pikiran, serta aktivitas masyarakat pemiliknya. Dengan kata lain CCB mempunyai fungsi sosial yang cukup signifikan bagi masyarakatnya. Fungsi-fungsi tersebut di antaranya adalah membentuk identitas dan mendasari tatanan sosial masyarakat Batuwangi, membentuk pandangan dan kepribadian masyarakat Batuwangi, dan menyebarkan kaidah ritual yang kini masih berlaku di kalangan masyarakat Batuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2 Saran&lt;br /&gt;Untuk kemajuan dunia sastra, terutama penelitian sastra lisan dan folklor, maka perlu diperhatikan hal-hal berikut.&lt;br /&gt;a.       Terus menerus melakukan penelitian sastra lisan dan folklor, khususnya folklor lokal yang relatif lebih mudah dikenali sehingga memudahkan penelitian.&lt;br /&gt;b.      Memanfaatkan hasil penelitian tentang Batuwangi ini untuk berbagai keperluan lainnya terutama penelitian. Selain itu, perlu pula melakukan penelitian tentang Batuwangi dari segi keilmuan yang lain.&lt;br /&gt;c.       Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai cerita-cerita rakyat yang berlatar era peralihan Majapahit (Hindu-Budha) ke Mataram sampai munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa. Hal ini akan menjadi pekerjaan besar dengan asumsi bahwa cerita rakyat, terutama legenda seperti ini jumlahnya paling banyak dibandingkan dengan legenda-lehenda pada waktu lain.&lt;br /&gt;d.      Membuat karya transformasi dari cerita-cerita rakyat ke dalam sastra modern, film, kartun, dan sebagainya dengan penuh inovasi sehingga cerita rakyat tidak hanya dapat bertahan, tetapi juga memiliki nilai jual.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-4513035029992402799?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/4513035029992402799/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=4513035029992402799' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/4513035029992402799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/4513035029992402799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/bab-6.html' title='bab 6'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-2296001540927935601</id><published>2007-11-30T13:09:00.005+07:00</published><updated>2007-11-30T13:17:17.068+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='skripsie'/><title type='text'>bab 5</title><content type='html'>BAB V&lt;br /&gt;KONTEKS PENCERITAAN DAN FUNGSI SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1 Konteks Penceritaan&lt;br /&gt;5.1.1 Lingkungan  Penceritaan&lt;br /&gt;5.1.1.1 Penutur Cerita&lt;br /&gt;Tidak semua masyarakat Batuwangi bersedia untuk menuturkan cerita. Mereka yang usianya lebih muda pada suatu desa atau kampung akan menunjuk seseorang yang lebih tua di lingkungannya untuk diwawancarai. Orang yang sudah tua diyakini mengetahui CCB dengan baik. Selain mereka merupakan penduduk asli, mereka juga dianggap paling berwenang menuturkan cerita kepada orang lain. Semua cerita dikumpulkan melalui wawancara di tempat tinggal penutur sehingga hubungan cerita dengan lingkungannya dapat pula dirasakan. Penutur bertempat tinggal di kecamatan Banjarwangi dan kecamatan Singajaya Kabupaten Garut.&lt;br /&gt;Tanpa rencana, semua penutur yang berhasil diwawancarai adalah laki-laki. Hal ini terjadi karena masyarakat yang menjadi subjek penelitian merupakan pewaris budaya patriarkal. Pada masyarakat Batuwangi, laki-laki dianggap mengetahui sejarah dan cerita-cerita tentang desanya sejak masa lampau.Umumnya penutur berusia antara 60 hingga 80 tahun. Bahkan seorang penutur telah berusia 104 tahun. Meskipun usia mereka terhitung sudah sangat tua, mereka masih dapat berkomunikasi dengan baik. Penutur pada usia seperti inilah yang diyakini masyarakat sebagai orang yang paling mengetahui keadaan desanya sejak masa lampau.&lt;br /&gt;Penutur yang pernah mendapatkan pendidikan formal sebanyak 60 %. Sisanya, 40 % tidak pernah mendapatkan pendidikan formal di sekolah. Mereka yang mendapatkan pendidikan formal mengaku pernah bersekolah pada masa penjajahan Belanda. Hal ini dapat dibuktikan karena penutur tersebut dapat membaca tulisan latin. Sedangkan penutur yang tidak pernah bersekolah, mereka umumnya pernah belajar agama di pesantren atau pada guru mengaji. Buktinya, mereka dapat membaca Al-Quran dan tulisan Arab pegon.&lt;br /&gt;Hampir semua penutur bekerja sebagai petani. Meskipun usia mereka telah lanjut, namun mereka masih sering melakukan pekerjaan sebagai petani. Tentu saja mereka melakukan pekerjaannya saat ini tidak lagi seperti masa mudanya. Selain petani, ada juga kuncen makam Batuwangi. Akan tetapi, pada kenyataannya kuncen pun melakukan pekerjaan sebagai petani.&lt;br /&gt;Penutur mendapatkan cerita dari orang tua (ayah), kakek, paman, dan dari guru mengaji. Penutur mendapatkan cerita sejak masih kanak-kanak, namun ada juga yang mendapatkan cerita setelah ia dewasa. Memang, kebanyakan masyarakat Batuwangi tidak sembarangan menuturkan CCB. Cerita-cerita Batuawangi baru akan disampaikan kepada anak yang telah dianggap dewasa atau baligh. Jadi, bila dilihat dari penuturnya CCB memiliki nilai-nilai sakral bagi masyarakatnya. Selain itu, biasanya ada hubungan yang dekat antar penutur dengan pendengarnya, misalnya, kakek dengan cucunya, ayah dengan anaknya, atau guru mengaji dengan muridnya. Demikianlah CCB diturunkan dan disebarluaskan sehingga dikenal oleh masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1.1.2 Kesempatan Bercerita&lt;br /&gt;         Masyarakat Batuwangi adalah masyarakat petani. Aktivitas sehari-hari mereka adalah bekerja dari pagi hingga siang hari di sawah atau di kebun. Sebagian waktu mereka digunakan untuk kegiatan keagamaan, membangun rumah, bergotong royong mengerjakan pembangunan kampungnya, dan kegiatan lainnya. Mereka, terutama yang tua-tua pada umumnya jarang bepergian ke luar desa, apalagi ke luar kota.&lt;br /&gt;Mereka biasanya bercerita pada saat ada pertemuan, baik formal maupun tidak formal. Pada sela-sela acara musyawarah, pesta pernikahan, tahlilan, dan marhaba mereka biasanya terpancing untuk menuturkan cerita. Meskipun pertemuan tersebut bukan bertujuan untuk bercerita, tetapi bila mereka berkesempatan bercerita di tempat itu, maka mereka pun bertukar pengetahuan cerita. Pada pertemuan-pertemuan seperti ini, mereka yang terlibat biasanya orang yang sudah dewasa sampai orang lanjut usia. Selain itu, pertemuan-pertemuan tersebut bisanya dihadiri oleh sebagian besar laki-laki, dan jarang sekali wanita dan anak-anak. Adapun wanita dan anak-anak biasanya tidak ikut aktif bercerita, mereka biasanya menjadi pendengar saja. Oleh karena itu masyarakat Batuwangi menganggap laki-laki yang sudah tualah yang nyepeng sajarah (mengetahui sejarah atau cerita) di desanya.&lt;br /&gt;         Selain dalam sela-sela waktu pertemuan formal, penuturan cerita pun dapat terjadi dalam pertemuan yang santai seperti berjemur pada pagi hari, pada saat anak memijat orang tuanya menjelang tidur, saat keluarga berkumpul di dalam rumah, dan di dalam perjalanan atau sela-sela pekerjaan yang menjadi mata pencaharian mereka. Selain itu, penuturan CCB dapat terjadi pada saat ada orang yang bertanya mengenai cerita tersebut.&lt;br /&gt;         Contoh-contoh di atas merupakan kesempatan bercerita yang tidak menentu tempat dan waktunya. Penuturan cerita dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Ada pula kesempatan bercerita yang dibuat rutin dan pasti dilakukan, yaitu setiap tanggal 12 Rabbiul Awal di rumah kuncen. Pada saat itu, banyak orang yang berdatangan dari berbagai daerah untuk melakukan ziarah, serta mengikuti ritual penyiraman senjata Eyang Batuwangi. Mereka yang dating pada umumnya mengaku masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Eyang Batuwangi, baik itu keturunan langsung, maupun keturunan dari kerabat Eyang Batuwangi yang lain.  Dalam rangkaian acara ini biasanya muncul kesempatan bercerita. Para pengunjung yang hadir di rumah kuncen sebelum atau sesudah berziarah biasanya membahas keberadaan Eyang Batuwangi serta cerita-cerita tentangnya.&lt;br /&gt;           Pada tanggal 14 Rabbiul awal atau 14 Maulud ini dilakukan acara Hajat Maulud, rangkaian acaranya dimulai pada malam hari dengan tawasul di makam, kemudian kembali ke rumah kuncen untuk mendengarkan pembacaan silsilah dalam naskah yang berjudul Punika Ikilah Sajarah Batara Terusbawa. Naskah ini selalu dibacakan oleh kuncen hanya pada waktu yang sudah menjadi pakem ini. Selain itu, isi naskah tidak seluruhnya dibacakan karena dianggap sakral, tidak semua orang boleh mengetahui isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1.1.3 Tujuan Bercerita&lt;br /&gt;Seperti telah dibahas sebelumnya, CCB berbentuk legenda, tepatnya legenda pembangun masyarakat dan budaya. Di dalamnya diceritakan tentang Eyang Batuwangi, asal usul suatu daerah, asal-usul suatu aturan, dan sebagainya. Oleh karena itu, tujuan penuturan CCB berhubungan erat dengan bentuk, isi, dan sifat-sifat yang dikandung di dalam masing-masing cerita.&lt;br /&gt; Adapun tujuan penuturan CCB di antaranya.&lt;br /&gt;a.       Memberikan informasi kepada orang yang lebih muda bahwa Eyang Batuwangi adalah karuhun (nenek moyang) masyarakat Batuwangi. Sebagai nenek moyang mereka, Eyang Batuwangi telah berjasa di masa lalu.&lt;br /&gt;b.      Menjelaskan alasan mengenai pantangan memakan kepala ayam bagi keturunan Batuwangi. Hal ini dijelaskan melalui C-2.&lt;br /&gt;c.       Memberikan informasi tentang asal mula suatu daerah. Misal, tentang asal mula tanah gagayunan di Ciudian, dan asal mula nama kampung Garasay.&lt;br /&gt;d.      Menjelaskan bentuk unik suatu benda. Misal, bentuk unik Batu Munding dapat dijelaskan dengan C-1, demikian juga mengapa banyak batu yang bergelimpangan di dekat makam Batuwangi dan bentuk unik Pasir Murungkut dapat dijelaskan dengan C-3. &lt;br /&gt;e.       Agar masyarakat mengetahui hubungan kekerabatan, bahwa mereka semua adalah keturunan Batuwangi. Dengan demikian terjadi hubungan emosi yang dekat, meskipun mereka tinggal berjauhan.&lt;br /&gt;f.        Menjelaskan asal usul senjata milik Eyang Batuwangi yang disimpan oleh kuncen, serta memberikan alasan tentang ziarah ke makam Eyang Batuwangi.&lt;br /&gt;g.       Menjelaskan hubungan antara makam Eyang Batuwangi dengan makam keramat di sekitarnya, misal dengan makam Sembah Ibu Purbakawasa di Ciwindu, dengan makam Eyang Surapati di Cigintung, dengan makam Padabeunghar di Sareupeun Padabeunghar, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1.1.4 Hubungan Cerita dengan Lingkungannya.&lt;br /&gt;Keberadaan masyarakat Batuwangi pada saat ini sulit ditentukan berdasarkan tempat tinggalnya. Mereka kebanyakan bertempat tinggal di desa-desa di kecamatan Singajaya, dan Banjar Wangi. Selain itu, mereka juga sudah merambah ke beberapa kecamatan di sekitarnya hingga Cikajang, Cihurip dan Peundeuy. Sementara itu ada pula yang merantau ke luar daerah seperti Bandung, Jakarta, bahkan luar Jawa. Mereka hidup berbaur dengan masyarakat lainnya, sehingga identitas kebatuwangiannya baru akan diketahui setelah kita mengenal mereka.&lt;br /&gt;CCB berhubungan erat dengan lingkungan masyarakatnya serta lingkungan alamnya. Hubungan tersebut sebenarnya telah tergambar melalui latar CCB. Dalam hal ini CCB dapat pula dikelompokkan sebagai legenda setempat, atau local legends (Danandjaya dalam Sutrisno, 1991: 469). Sebagai legenda setempat, latar dalam CCB tidak jauh dari lingkungan sekitar masyarakat Batuwangi.&lt;br /&gt;Dalam hubungan antara cerita dengan lingkungan alamnya, latar tempat CCB pada umumnya dapat dilacak keberadaannya hingga saat ini. Akan tetapi dinamika sosial penduduk mungkin dapat mengubah keberadaannya. Misal, dalam C-1 diceritakan bahwa pada saat itu Tanah Batuwangi merupakan wilayah kekuasaan Sukapura, Tasik Malaya, sedangkan sekarang tempat tersebut berada di wilayah Kabupaten Garut. Tempat-tempat lain yang disebutkan dalam CCB seperti Gunung Lumbung, Kampung Garasay, Ciwindu, sungai Ciudian, dan sebagainya memang ada hingga sekarang.&lt;br /&gt;Demikian pula benda-benda yang memiliki keunikan yang dapat dijelaskan dengan CCB, kini benda-benda tersebut masih ada di tempatnya. Dalam C-1 diceritakan adanya kerbau yang setelah dilemparkan oleh Batuwangi berubah menjadi batu. Pada saat ini batu tersebut masih ada di sekitar Limus Tilu, Singajaya.&lt;br /&gt;Keberadaan benda dan tempat yang secara fisik dapat dibuktikan keberadaannya menjadikan CCB sangat diyakini kebenarannya. Selain itu, Eyang Batuwangi dipercaya sebagai nenek moyang yang menurunkan anak cucunya, yaitu masyarakat Batuwangi pada saat ini. Dengan dmikian apa yang telah diatur oleh Eyang Batuwangi berlaku pula bagi mereka. C-2 yang mengisahkan pernikahan putri Eyang Batuwangi telah mengakibatkan sumpah Eyang Batuwangi agar semua keturunannya kelak cadu atau pantang memakan kepala ayam. Aturan ini sekarang masih berlaku bagi masyarakat Batuwangi.&lt;br /&gt;Keyakinan masyarakat terhadap kebenaran cerita dapat mempengaruhi pola hidup dan tingkah laku mereka. Kepercayaan terhadap jasa-jasa Eyang Batuwangi pada masa hidupnya, serta keajaiban-keajaiban yang dimilikinya, menjadikan masyarakat merasa segan dan ingin memenziarahi makamnya. Selain itu, peninggalan Eyang Batuwangi yang masih tersisa kini disakralkan oleh masyarakat. sampai saat ini terdapat sebuah duhung, yaitu sejenis keris bermata dua, dan bertahta batu permata, dengan gagangnya berbentuk kepala burung garuda yang dijadikan pusaka Batuwangi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1.2 Situasi Penceritaan&lt;br /&gt;Berkaitan dengan situasi penceritaan seperti diungkapkan oleh Finnegan pada bab sebelumnya, situasi penceritaan CCB dapat terjadi dalam dua cara, yaitu, pertama, Audience dan penyaji relatif dipisahkan dengan pembatas yang tidak jelas, audience tidak banyak terlibat dalam penyampaian teks. Dan kedua, Penyaji dan audience bergiliran. Pada waktu seorang penyaji bukan gilirannya bercerita atau bermain, maka ia berperan sebagai audience.&lt;br /&gt;Situasi pertama terjadi misalnya ketika ada anak atau orang yang lebih muda bertanya kepada orang tua yang benar-benar mengetahui CCB. Selain itu, ketika wawancara terjadi pun demikian. Pengumpul atau pewawancara yang awam dan ingin mengetahui cerita tidak banyak terlibat dalam penceritaan, kecuali mengajukan pertanyaan-pertanyaan, sebaliknya nara sumber yang menjadi pencerita berperan sebagai penyaji aktif.&lt;br /&gt;Sementara itu, situasi kedua dapat terjadi apabila dalam sebuah penuturan CCB hadir lebih dari satu orang penutur. Apabila masing-masing pendengar mengetahui juga CCB, kadang-kadang mereka saling menambahkan atau mengklarifikasi  penuturan yang dilakukan oleh yang lainnya. Hal ini misalnya terjadi pada wawancara 2 dan wawancara 3. Pada saat itu, wawancara dilakukan pada waktu bersamaan. Oleh karena itu, ketika narasumber kedua menyajikan ceritanya, kadang-kadang disela oleh narasumber ketiga, dan sebaliknya, saat narasumber ketiga bercerita, sekali-0sekali disela pula oleh narasumber kedua.&lt;br /&gt;Situasi di atas dapat pula terjadi pada kesempatan bercerita yang lainnya. Misal, ketika pertemuan keluarga, pada sela-sela pekerjaan, atau pada saat berjemur di halaman. Pada kesempatan-kesempatan yang biasanya dihadiri oleh orang tua-tua yang sama-sama tahu mengenai CCB, penceritaan dapat dilakukan secara bergiliran oleh lebih dari seorang penutur.&lt;br /&gt;Satu hal yang perlu diperhatikan dalam situasi penceritaan adalah bahwa penutur tidak begitu saja bercerita secara langsung. Rupanya ada hal-hal yang sedikit membatasi atau menjadi pertimbangan bagi penutur. Misal dalam wawancara dengan Aki Nana (nara sumber 1, 86 tahun) pada tanggal 19 Maret 2005. Sebelum bercerita, penutur meminta izin kepada seseorang yang dalam konteks ini adalah Eyang Batuwangi, serta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam wawancara penutur berkata, “Lepat atuh. Mudah-mudahan aya dina panghampura anjeuna. Ageungna mah ka Gusti Nu Maha Suci.” (TW-1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2 Fungsi Sosial&lt;br /&gt;5.2.1 Membentuk Identitas dan Mendasari Tatanan Sosial Masyarakat Batuwangi.&lt;br /&gt;         Dalam berbagai hal, masyarakat Batuwangi tidak berbeda dengan masyarakat lain, terutama masyarakat Sunda pada umumnya. Mereka mengenal teknologi, politik, pendidikan, dan berbagai sisi kehidupan lainnya. Mereka juga membuka diri terhadap perubahan zaman dan perkembangan kebudayaan. Akan tetapi ada beberapa hal yang sifatnya tetap dan menjadi identitas masyarakat Batuwangi.&lt;br /&gt;Eksistensi sosial masyarakat Batuwangi banyak didasari oleh CCB. Secara geografis, sekarang yang dimaksud dengan Batuwangi sebagai tempat adalah sebidang tanah yang luasnya tidak lebih dari satu Hektar. Tanah yang di sanalah Eyang Batuwangi dikuburkan ini terletak di tengah pesawahan di desa Ciudian Kecamatan Singajaya. Desa Ciudian sendiri merupakan sebuah lembah yang diapit oleh dua sungai yaitu Sungai Ciudian dan Sungai Cikaengan. Kedua sungai ini bertemu di sebelah timur desa dan akhirnya bermuara di pantai timur Tasik Malaya. Sedangkan Kecamatan Singajaya dulunya berada di wilayah Kabupaten Tasik Malaya dengan nama Batuwangi. Nama Singajaya adalah nama baru setelah bergabung dengan Kabupaten Garut. Kemudian Kecamatan Singajaya dimekarkan menjadi tiga kecamatan, yaitu Singajaya, Banjarwangi dan Peundeuy. Dengan demikian saat ini telah terjadi penyempitan makna Batuwangi sebagai nama tempat.&lt;br /&gt;         Sesuai tempatnya, maka yang seharusnya disebut masyarakat Batuwangi adalah mereka yang tinggal di tanah tersebut. Akan tetapi, pada kenyataannya di atas tanah tersebut hanya ada sebuah makam keramat yaitu makam Batuwangi. Selain itu ada juga sebuah bangunan tempat tawasul di depan makam, sebuah sumur, sebuah kamar mandi dan sebuah mushola. Sisanya hanya belantara yang ditumbuhi pepohonan tua dan rumpun-rumpun bambu yang tak terganggu. Hanya kuncen yang secara teratur datang ke tempat itu. Sementara itu pada bulan-bulan tertentu banyak juga peziarah yang datang setiap tahunnya.&lt;br /&gt;   Jadi perlu ditekankan di sini bahwa yang dimaksud dengan masyarakat Batuwangi adalah mereka yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan Eyang Ragabaya Maragahiang Bayu Prabu Sangadipati Bin Guru Gantangan (Eyang Batuwangi). Menurut Koentjaraningrat (2002: 123-124) hubungan kekerabatan ditentukan oleh adanya hubungan darah (sebenarnya gen) yang dihubungkan baik dari pihak ayah maupun pihak ibu. Prinsip kekerabatan masyarakat Batuwangi diikat oleh kesadaran akan hubungan kekerabatan. Berdasarkan hubungan inilah mereka secara selektif memiliki hak dan kewajiban tertentu. Hak dan kewajiban tersebut pada masyarakat Batuwangi diwujudkan dengan adanya beberapa norma sosial yang harus diikuti oleh anggotanya. Norma-norma sosial tersebut tercermin dalam mitos-mitos yang berlaku di masyarakat berkenaan dengan CCB, larangan-larangan melakukan sesuatu, serta kegiatan-kegiatan ritual tertentu yang biasa dilakukan oleh masyarakat.&lt;br /&gt;Kita juga tidak bisa mengabaikan peran sentral seorang kuncen pada masyarakat Batuwangi. Ia dianggap sebagai orang terpercaya sebagai keturunan asli Eyang Batuwangi. Tugas sebagai kuncen ini didapatkan secara turun temurun. Bila seorang kuncen tidak mempunyai keturunan, maka tugasnya diberikan kepada adik atau kakaknya, ataupun anak dari saudaranya tersebut. Sebagai juru kunci makam, ia tidak hanya bertanggungjawab untuk mengurus makam dan membantu orang yang akan berziarah. Ia juga yang merawat barang-barang peninggalan Batuwangi. Beberapa peninggalan berbentuk senjata pusaka. Ia juga menyimpan naskah Punika Ikilah Sajarah Batara Terus Bawa yang berisi silsilah dan kisah Batuwangi. Hanya kuncen yang boleh membaca naskah ini setiap tanggal 14 maulud pada acara Hajat Maulud.&lt;br /&gt;Selain itu, kuncen bagi masyarakat Batuwangi juga berfungsi sebagai pemimpin spiritual mereka. Di samping ulama sebagai pemuka agama Islam, kuncen juga biasa memimpin doa, terutama yang berhubungan dengan ritual yang berhubungan dengan Batuwangi. Selain itu, kuncen juga sering kali berperan sebagai orang pintar yang menjadi tumpuan banyak orang. Kuncen sebagai satu-satunya orang yang memegang otoritas makam dipercaya mampu mengantarkan kehendak orang yang mempunyai maksud tertentu untuk mendapatkan karomah Eyang Batuwangi. Buktinya, sering ada masyarakat yang datang untuk berobat dari sakit, ingin naik jabatan, ingin sukses berdagang, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Singkatnya, masyarakat Batuwangi merupakan prototipe masyarakat Indonesia pada umumnya sebagai masyarakat tradisional, masyarakat religius atau menurut Finnegan, masyarakat primitif atau masyarakat nonindustri. masyarakat seperti ini memliliki ciri-ciri: hidup dalam skala kecil yang homogen, mengutamakan kelisanan daripada keberaksaraan, komunal, didominasi oleh religi dan nilai-nilai tradisi dan lebih dekat dengan alam, serta jauh dari sentuhan teknologi (Finnegan dalam Hutomo, 1991: 20). Ciri-ciri ketradisionalan mereka memang tidak dapat dilihat secara kontras dari tingkat ekonomi, teknologi yang dipakai, maupun tingkat pendidikan formal. Ciri-ciri ketradisionalan mereka merupakan manifestasi dari pola pikir sebagai masyarakat religius, sakral, bahkan animis.      &lt;br /&gt;Sebagai masyarakat religius, masyarakat Batuwangi memiliki identitas tersendiri yang khas dan sampai saat ini masih berlaku di masyarakat. Identitas tersebut tercermin dari berlakunya larangan larangan tertentu, ajaran-ajaran tertentu dan sebagainya. Namun demikian, pengaruh dari luar sedikit demi sedikit telah melunturkan beberapa norma tersebut. Sehingga saat ini ada beberapa norma yang berlaku sangat ketat dan menyeluruh, dan ada juga yang tidak begitu ketat atau hanya berlaku pada sebagian kecil dari mereka. Norma-norma yang dihasilkan oleh CCB tersebut adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.1.1 Asihan Batuwangi&lt;br /&gt;Asihan adalah bentuk mantra Sunda yang digunakan untuk menguasai sukma orang lain supaya menyayangi orang yang menggunakan asihan tersebut (Rusyana, 1970:11). Masyarakat Batuwangi mengenal sebuah asihan yang disebut Asihan Batuwangi. Sebenarnya masyarakat mengenal juga bentuk-bentuk asihan yang lainnya, namun hanya Asihan Batuwangi yang berkaitan dengan Batuwangi. Para orang tua akan mewariskan asihan ini kepada anak-anaknya yang telah baligh. Jadi asihan ini tidak bisa diturunkan kepada sembarang orang, dengan kata lain asihan Batuwangi hanya berlaku untuk masyarakat Batuwangi.&lt;br /&gt;Masyarakat Batuawangi mengenal berbagai asihan. Asihan batuwangi adalah yang paling penting. Menurut mereka asihan ini merupakan bekal hidup yang sangat penting. Dengan menguasai asihan ini, mereka yakin akan selalu “dilindungi” dan akan mendapatkan kasih sayang dari orang lain. Dalam sebuah pembicaraan dengan nara sumber terungkap sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…kapungkur tataros ka sepuh weh kitu, ka Uwa Kiyai Sepuh weh kitu ti Samping Hilir. Cepeng heula weh cenah elmuna Batuwangi, jung Maneh rek meuntas lautan oge. Da karaos: diturut ku jalema, kitu (TW-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dipercaya memiliki fungsi magis, asihan ini pun tidak sembarangan diturunkan, serta tidak sembarangan boleh diketahui olrh seseorang. Dari konteks penuturan wawancara 3 dapat diambil kesimpulan bahwa asihan Batuwangi bagi pemiliknya bersifat sakral. “… kieu geura nya, tapi punten ah da sanes heureuy. Ieu mah putra ayeuna naroskeun bade diwartoskeun bae da moal hade disumputkeun. Mudah-mudahan ngijinkeu (TW 3). Pada saat itu penutur meminta izin kepada Eyang untuk membacakan asihanBatuwangi yang ia kuasai..&lt;br /&gt;Akan tetapi, karena asihan ini diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi, maka timbul varian-varian yang berbeda. Jadi ada beberapa kata atau bagian asihan yang tidak persis sama dari tiap-tiap pemiliknya. Meskipun demikian masyarakat tidak mempersoalkan perbedaan bentuk asihan ini. Semuanya dikembalikan kepada individu yang menggunakannya. Terkadang muncul anggapan bahwa banyak di antara mereka telah kehilangan kebatuwangiannya karena jalan hidup yang ditempuhnya salah. Berikut adalah contoh asihan Batuwangi yang didapatkan dari Aki Nana (86 tahun) dan Aki Suha (78 tahun), keduanya adalah nara sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        a.  Los leumpang tiheula&lt;br /&gt;ear nu ceurik nuturkeun pandeuri&lt;br /&gt;asupkeun ka bumi weuteuh&lt;br /&gt;rancamaya payung buana&lt;br /&gt;asihan Sangga Buana&lt;br /&gt;mangka tumurun tumeka&lt;br /&gt;maring seuweu putu&lt;br /&gt;marajahyang ing Batruwangi&lt;br /&gt;rahayu kinasihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         b  tumika kinasihan Batuwangi&lt;br /&gt;allohuma payung agung sanggabuana&lt;br /&gt;asihan sangadipati&lt;br /&gt;ingsun seuweu putu kangjeng&lt;br /&gt;susunan Marajahiyang Bayu&lt;br /&gt;nam lalo leumpang tiheula&lt;br /&gt;ear nu ceurik nuturkeun pandeuri&lt;br /&gt;antosan di bumi weuteuh&lt;br /&gt;rancamaya nu gaduh asihan sanggabuana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.1.2  Cadu Ngadahar Hulu Hayam&lt;br /&gt;Cadu memakan kepala ayam merupakan dampak dari kejadian dalam C-2. Pantangan yang sekilas sangat sepele ini bagi masyarakat Batuwangi berlaku dengan ketat. Pada bulan Zulhijjah atau bulan haji misalnya, kita akan melihat fenomena di desa-desa sekitar Batuwangi. Pada bulan ini bisaanya banyak terjadi hajatan pernikahan maupun khitanan. Banyak ayam yang dipotong, maka kita bisa melihat kepala ayam bergelimpangan di kolam ikan. Mereka benar-benar tidak memakan kepala ayam, bahkan tidak pula menyertakannya dalam masakan. Dalam keadaan apapun mereka akan mengatakan “cadu” makan kepala ayam.&lt;br /&gt;Kalangan ulama banyak yang mengeritik sikap masyarakat seperti ini. Menurut para ulama tidak baik mengharamkan sesuatu yang halal. Akan tetapi dengan tegas mereka membantah bahwa bagi mereka kepala ayam bukan haram melainkan hanya pantangan saja. “Janten sanes haram, tapi cadu. Cadu kana mastaka hayam, margi kapungkur nuju oleng panganten putrana…” (TW 4). Bila pantangan itu dilanggar, mereka percaya bahwa yang bersangkutan akan mendapat bencana atau bahaya. Kejadian tersebut bisa berupa datangnya penyakit, kecelakaan atau kesialan lainnya. &lt;br /&gt;Di sisi lain, pantangan ini memiliki nilai simbolik yang sangat berarti bagi solidaritas masyarakat Batuwangi. Hal ini tampak pada kutipan wawancara dengan kuncen Batuwangi berikut.&lt;br /&gt;Janten cadu kana hulu hayam teh ulah silih pacok sareng dulur, silih bintih sareng dulur, kudu rapih jeung dulur, nanging da eta, janten eta teh maknaaneun. Aya amanat ka abdi oge kitu. Ulah silih pacok jeung dulur, eureunan urang teh. Cadu kana hulu hayam sabab hayam mah sok silih pacok jeung dulur. Ari bangsa urang, dulur jeung dulur teh silih bintih (TW 4).&lt;br /&gt;Jadi, larangan memakan kepala ayam bagi masyarakat Batuwangi merupakan sebuah mitos yang mempunyai makna. Dalam hal ini masyarakat Batuwangi mematuhi mitos dengan tidak memakan kepala ayam, sekaligus selalu mengusahakan tercapainya makna dari mitos tersebut. Oleh karena itu rasa persaudaraan masyarakat Batuwangi tetap solid meskipun mereka tinggal berjauhan dan tidak saling mengenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.1.3 Cadu Beunghar&lt;br /&gt;Sebagian orang beranggapan bahwa dulunya Eyang Batuwangi pernah bekerja sebagai kamasan (tukang membuat perhiasan emas). Dalam pembacaan naskah memang disebutkan “Lawas-lawas mulih ka Batuwangi. Embah Demang Genjreng Kamasan sumping ka Batuwangi” (TPN). Ia mempunyai banyak harta kekayaan. Karena kebaikannya, ia terbuka pada siapapun yang membutuhkan pertolongannya. Pada waktu itu banyak orang yang datang ke rumahnya untuk meminjam beras atau uang. Batuwangi memang memberikan pinjaman, tapi karena terlalu banyaknya orang yang bergantian meminta pinjaman dan banyak yang tidak membayar, ia menjadi jengkel, maka keluarlah serapah “cadu beunghar”&lt;br /&gt;            Akan tetapi kuncen mengklarifikasi anggapan sebagian masyarakat tersebut. Menurutnya kejadian seperti itu memang pernah terjadi tapi yang melakukannya bukan Batuwangi melainkan anaknya yang bernama Pada Beunghar. Jadi bila sumpah serapahnya itu berlaku, maka yang pantang kaya itu hanya keturunan Batuwangi dari anaknya yang bernama Pada Beunghar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eta teh kieu, sanes Batu Wangi eta mah. Cadu beunghar, cadu panjang rambut. Putrana teh Eyang Wira, anu dimakamkeun di Pada beunghar, karamat Pada beunghar: Wira Tanubaya.  Di palih dinya, Pada Beunghar. Kumargi beunghar ku putra, beunghar ku harta, teu kaur meuneutkeun panto anu beunghar mah. Janten cape weh. Cadu! Cadu beunghar, sanes Batu Wangi (TW-4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.1.4 Cadu Panjang Buuk&lt;br /&gt;Pantangan ini tidak berlaku secara ketat pada wanita Batuwangi saat ini. Pantangan ini didasarkan pada sebuah cerita tentang salah seorang anak perempuan Batuwangi. Batuwangi mempunyai seorang putri yang sangat cantik dan mempunyai rambut sangat panjang sampai tumit. “Cadu rambut panjang mah saurna nuju moe rambut.Muhun, putri. Kakojot ku kuda samparani. Kagusur dugi ka tewas” (TW-4). Putri tersebut pada suatu hari sedang menyisir rambutnya di halaman. Rambutnya yang terurai panjang tiba-tiba tersangkut pada kaki seekor kuda (ada juga yang mengatakan rusa) yang sedang berlari. Akhirnya sang putri terseret hingga tewas. Sejak saat itulah konon Eyang Batuwangi melarang keturunannya untuk berambut panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.1.5 Cadu Geulis&lt;br /&gt;Pantang cantik ini diartikan sebagai larangan untuk bersolek (menggunakan make up) secara berlebihan bagi wanita Batuwangi. Namun karena batas-batas bersolek yang berlebihan ini tidak jelas, maka saat ini wanita Batuwangi sulit dibedakan dari masyarakat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Identitas yang masih mencirikan masyarakat Batuwangi secara ketat di antaranya adalah Asihan Batuwangi dan larangan memakan kepala ayam. Sementara itu aturan lainnya yang berupa pantangan-pantangan di atas tidak berlaku secara ketat dan tidak menyeluruh di masyarakat Batuwangi. Hal ini diakibatkan dinamika perubahan sosial masyarakat. Selain itu, aturan yang lambat laun menjadi longgar tersebut memang tidak berdasarkan sebuah cerita, tetapi hanya berupa anggapan masyarakat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.3  Membentuk Pandangan dan Kepribadian Masyarakat Batuwangi&lt;br /&gt;Dari uraian sebelumnya ditemukan beberapa norma yang menjadi identitas masyarakat Batuwangi. Mereka memiliki asihan Batuwangi, juga memiliki beberapa pantangan di antaranya pantang memakan kepala ayam, pantang kaya, pantang berambut panjang, dan pantang bersolek. Dengan identitas tersebut kita bisa sedikit memahami masyarakat Batuwangi. Identitas tersebut dapat menumbuhkan solidaritas dan rasa persaudaraan yang tinggi antar anggota masyarakat Batuwangi. Lebih jauh lagi ternyata identitas tersebut memberi pengaruh besar terhadap paradigma sosial masyarakat Batuwangi.&lt;br /&gt;Menurut masyarakat Batuwangi pengamalan asihan akan mendatangkan perlindungan di dalam dan kejayaan di luar asalkan asihan ini dibawa dalam jalan kebenaran. Yang dimaksud dengan perlindungan di dalam adalah seseorang akan dilindungi dalam segala hal selama ia tinggal di wilayah dalam. Beberapa narasumber memberikan batas-batas wilayah luar dan wilayah dalam. Batas tersebut adalah tempat (desa atau kampung) yang bernama Pamegatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malahan ceuk urang dieu, ah da ieu mah urang Pamegatan. Mun indit ka dieu, ari didieu mah ngan ukur dilindungi, tapi datang ka ditu bakal aya rahayu kinasihan. Lamun geus liwat Pamegatan ka ditu, geus weh tamplok kabeh kadeudeuhna, kanyaahna ka urang (TW 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mereka di setiap arah mata angin akan ditemukan nama Pamegatan. Memang penulis mengetahui beberapa tempat-tempat tersebut di antaranya di perbatasan Banjarwangi-Cikajang (ini berarti sebelah Barat), di sebelah utara Singajaya, dan sebelah selatan di Pameungpeuk. Anggapan seperti ini memberi pengaruh yang signifikan. Di dalam lingkungannya mereka sangat solid dan tampak kesetaraan dalam lingkungan sosial. Mereka menjalin persaudaraan dengan erat. Mereka juga saling mengenal satu sama lain meskipun jarak yang memisahkan tempat tinggal mereka cukup jauh.&lt;br /&gt;Bila seseorang telah keluar dalam arti menetap di wilayah luar batas yang telah ditentukan, maka ia akan mendapat kejayaan atau menurut istilah mereka rahayu kinasihan. Di luar ia akan sejahtera dan mendapatkan kepercayaan dan kasih sayang dari setiap orang. Akibatnya banyak anggota masyarakat yang merantau ke wilayah luar untuk berdagang, kerja bangunan atau pekerjaan lainnya. Biasanya mereka pergi ke kota besar seperti Jakarta ataupun Bandung. Penghasilannya memang relatif, tetapi ada selalu cerita tentang kesuksesan atau keunggulan yang mereka bawa. Di rantau ia merasa dipercaya dan dikasihi oleh banyak orang, sementara keluarga yang ditinggalkan biasanya menceritakan kesuksesan-kesuksesan yang diraih oleh orang tersebut.&lt;br /&gt;Sementara itu pantangan untuk menjadi kaya bagi sebagian orang tidak menjadikannya merasa nyaman. Pantang menjadi kaya tidak hanya diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak boleh terjadi, tetapi juga tidak mungkin terjadi. Padahal kaya atau tidaknya seseorang ditentukan oleh Tuhan dan kesadarannya untuk berikhtiar. Kesadaran inilah yang melunturkan pantangan menjadi kaya sehingga sebagian besar masyarakat tidak lagi memercayai pantangan ini.&lt;br /&gt;Perlu diperhatikan juga bahwa masyarakat Batuwangi tetap mempertahankan nilai-nilai Budaya yang memang tidak dilarang oleh Eyang Batuwangi. Misal tradisi pernikahan dengan acara huap lingkung. Meskipun acara ini telah menimbulkan prahara yang merenggut nyawa putra-putranya, Eyang Batuwangi tidak lantas melarang acara huap lingkung yang memang syarat nilai simbolik bagi kehidupan rumah tangga.&lt;br /&gt;Di sisi lain CCB juga menolak nilai nilai budaya yang tidak relevan menurut ajaran agama maupun nilai-nilai kebenaran. Dalam hal ini dapat dicontohkan melalui kebijakan Eyang Batuwangi dalam C-2. ia mengixinkan anak perempuannya menikah lebih dulu daripada kakak laki-lakinya. Padahal masyarakat sering menganggap tindakan ngarunghal tersebut sebagi perbuatan yang negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.4        Menyebarkan Kaidah Ritual&lt;br /&gt;Ritual merupakan kata sifat atau adjektiva yang merngandung makna berkenaan dengan ritus. Ritus dapat diartikan sebagai tata cara dalam ritual upacara keagamaan (Tarno dkk, 2000: 5). Lebih lanjut Sutarto memberikan pengertian bahwa ritual berarti kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang dan obsesif, dan seringkali merupakan dramatisasi simbolis dari kebutuhan masyarakat yang mendasar, apakah itu kebutuhan ekonomi, biologis, sosial, atau seksual (Sutarto, 1991: 16).&lt;br /&gt;Sebuah ritual dilaksanakan oleh masyarakat pendukungnya karena merupakan warisan dari leluhur, itu artinya otoritas yang memerintahkan ritual ini sama dengan otoritas yang dimiliki tradisi, yang tentu saja bersifat sosial. Ritus-ritus ini dilaksanakan demi memelihara hubungan dengan masa lalu dan melestarikan identitas moral kelompok, bukan karena ada tujuan atau dampak fisikal yang ingin dicapai (Durkheim, terjemahan Muzir, 2005: 533)&lt;br /&gt;Masyarakat Batuwangi melakukan beberapa ritual yang rutin dilakukan. Ritual yang utama adalah ziarah kubur di makam Batuwangi, ritual pembacaan naskah Punika Ikilah Sajarah Batara Terus Bawa, serta ritual ngalungsur atau mencuci senjata pusaka Eyang Batuwangi. Ketiga ritual ini dilakukan dalam rangkaian acara Hajat Mulud secara rutin setiap tanggal 13-14 Rabbiul Awal atau bulan Mulud, kecuali ritual ziarah kubur yang sebenarnya dapat dilakukan kapan saja selain pada bulan Ramadhan dan bulan Shafar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.4.1 Ritual Ziarah Kubur di Makam Batuwangi&lt;br /&gt;Makam keramat sering diziarahi oleh berbagai lapisan masyarakat karena makam tersebut dianggap tempat keramat. Tempat keramat adalah ruang yang suci, di mana ada ritual-ritual tertentu untuk dapat memasukinya. Sebagai tempat suci, makam keramat memiliki batas-batas keramat. Dalam hal ini istilah tempat keramat dapat disamakan dengan istilah tempat atau ruang sakral. Manusia religius memandang ruang tidak homogen. Ruang sakral mengalami interupsi, perubahan di dalamnya, serta ada beberapa ruang yang secara kualitatif berbeda dari yang lain (Eliade, 2002: 13). &lt;br /&gt;Masyarakat pada umumnya berkeyakinan bahwa tak lama setelah orang meninggal, jiwanya akan berubah menjadi mahluk halus (roh) yang selanjutnya roh halus tersebut berada di sekitar ahli waris (Endraswara, 2004: 30). Anggapan seperti inilah yang melatar belakangi ritual ziarah kubur di makam Batuwangi. Eyang batuwangi dianggap sebagai penyebar Islam bahkan diyakini sebagai seorang wali oleh masyarakat. Dengan mendatangi makamnya, masyarakat percaya akan mendapatkan keramat. Dalam hal ini, istilah keramat sesuai dengan asal katanya (Arab: karomah), yang berarti berkah atau kasih sayang.&lt;br /&gt;Masyarakat mengetahui berbagai hal tentang Eyang Batuwangi terutama berkaitan dengan makam yang mereka Ziarahi berdasarkan CCB. Kehidupan masa lalu Eyang Batuwangi yang tergambar dalam CCB menjadikan tokoh ini dikeramatkan. Ritual ziarah kubur yang dilakukan oleh masyarakat pada saat ini seakan mengaktualisasikan kembali kejadian-kejadian yang terjadi di masa lampau. Hal ini penting karena bagi masyarakat religius, seluruh ritual merupakan perayaan atau peringatan. Oleh karena itu memori yang direaktualisasikan memainkan sebuah peranan yang menentukan (Eliade, 2002: 102).&lt;br /&gt;Salah satu dasar keyakinan masyarakat untuk melakukan ziarah kubur ke makam Eyang Batuwangi adalah peristiwa yang dikisahkan dalam C-4. sebagai seorang wali, Eyang Batuwangi telah ma’rifat atau dekat dengan Yang Maha Kuasa, sehingga doanya mudah dikabulkan. Oleh karena itu, ada baiknya berdoa pun dilaksanakan di tempat yang dirahmati oleh-Nya, yaitu makam Eyang Batuwangi. Hal ini diungkapkan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantena mah tos caket ka Allah. Ma’rifat ka Allah, waliyullah, kakasihna Gusti Allah, tiasa diizabah. Numawi dina ziarah oge ngadua di tempat anu dimulyakeun ku Allah (paragraf 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.4.2 Ritual Pembacaan Naskah Punika Ikilah Sajarah Batara Terus Bawa&lt;br /&gt;Menurut kuncen, naskah ini sekarang sudah tidak utuh lagi. Sebagian naskah telah hilang. Sementara itu, sepenggal naskah yang tersisa kini disimpan baik-baik di rumah kuncen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eta teh kieu, riwayat eta kapungkur teh, ku pun Bapa teh nu aslina disalin, taun 55 panginten waktos nyalin sajarah teh. Atuh anu aslina disimpen satoromol, sawadah kitu. Teu acan beres sadayana pun bapa teh nyalin, ti hiji dugi ka.. da acak-acakan ku pun bapa dibereskeun. Sami-sami sareng kieu nu aslina mah, acak-acakan. Koneng sapertos hanalam. Ari pun bapa pupus, ku pun Uwa dirawat. Abdi nuju alit keneh. Anu kenging nyalin mah dicandak ku abdi, anu aslina dicandak ku Uwa.Uwa Haji Syukur. Abi mah nyalametkeun anu kenging nyalin. Anu aslina mah dicandak ku Uwa di Cibogo. Wa Haji pupus, abdi sanes ninggal kana harta banda, abdi teh hak warisna, tapi eta nu diperyogikeun nu ditaroskeun. Teu aya. Duka kunu nyolong, duka ical… ah wallohu a’lam dasar sepuh (TW 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah ini hanya dibaca satu kali dalam setahun, yakni pada dini hari.tanggal 14 Maulud. Ritual ini termasuk ke dalam rangkaian acara hajat maulud, tepatnya setelah ritual ziarah kubur selesai, barulah naskah ini dikeluarkan dan dibaca oleh kuncen di depan khalayak. Hanya kuncen yang boleh membaca naskah ini. Di dalamnya ada bagian-bagian yang dianggap papakem yang tidak boleh didengar oleh khalayak (lihat lampiran TPN).&lt;br /&gt;            Ternyata di dalam naskah yang berbahasa Sunda-Jawa (Cirebon) ini tidak tercantum CCB. Naskah ini hanya memuat silsilah Batuwangi serta beberapa ajian yang tidak boleh dibaca. Jadi penuturan dan pewarisan CCB hanya berlangsung secara lisan, bukan tulisan.&lt;br /&gt;            Pembacaan naskah ini merupakan sebuah ritual yang sangat sakral. Selain ada beberapa bagian naskah yang benar-benar tidak boleh diketahui oleh orang lain selain kuncen, naskah ini tidak boleh diambil gambarnya. Selain itu, pada saat pembacaan naskah berlangsung, berbagai makanan sebagai sesaji dihadirkan di depan khalayak. Makanan ini terdiri atas nasi rawon, opor ayam dan ayam bakar (tentunya tanpa kepala), telur ayam, telur bebek, dan sayur-sayuran. Selain itu terdapat juga opak, ranginang, dan wajit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;5.2.4.3  Ritual Ngalungsur&lt;br /&gt;Ngalungsur berarti menurunkan, atau mengeluarkan. Maksudnya, sebuah duhung atau senjata pusaka peninggalan Eyang Batuwangi dikeluarkan dan dicuci pada tanggal 14 Rabiul awal, setelah ziarah kedua yang dilakukan pagi hari. Senjata ini berbentuk sebilah keris bermata dua dengan panjang sekitar 30 cm, bergagang kayu bentuk burung garuda, dan bertahtakan empat butir permata (sekarang tinggal satu).  Namun sayang sekali senjata ini pun tidak boleh diambil gambarnya.&lt;br /&gt;Sebelum dan sesudah dicuci tanggal 14 Maulud, keris ini dibungkus dengan kain putih lalu diikat dengan tujuh ikatan. Kemudian keris disimpan di dalam sebuah peti di dalam kamar sebuah rumah khusus milik kuncen. Selain pada saat pencucian, keris ini tidak boleh disentuh dan dibuka.&lt;br /&gt;Seluruh ritual ini dilakukan oleh kuncen dengan dibantu oleh anak laki-lakinya. Keris dikeluarkan dari peti, dibuka dari bungkusan kain, kemudian dengan doa-doa tertentu keris dikeluarkan dari bungkusnya. Sementara itu telah tersedia satu nampan air berisi bunga tujuh rupa dan jeruk yang dibelah-belah. keris dicuci oleh kuncen dengan air kembang dan jeruk ini. Setelah cukup bersih, kemudian diseka dengan kapas lalu dikeringkan. Setelah kering keris dimasukkan kembali ke dalam bungkusnya, diselimuti kain putih, diikat, dan kembali dimasukkan ke dalam peti.&lt;br /&gt;Ada dua hal yang memaknai ritual ini. Pertama, setiap keganjilan yang muncul dalam ritual dianggap pertanda yang menunjukkan kejadian yang akan menimpa bangsa ini. Misal, pada pencucian tahun ini. Sebelum keris dicuci, salah satu tali pengikat lawon pembungkus bagian bawah ada yang lepas. Hal ini segera diumumkan oleh kuncen bahwa keganjilan ini berarti akan ada banyak prahara menimpa masyarakat kalangan bawah. Begitulah masyarakat, khususnya kuncen memaknai segala keganjilan yang menimpa keris dikaitkan dengan keadaan bangsa ini setiap tahunnya.&lt;br /&gt;Kedua, air sisa mencuci senjata ini dibagi-bagikan kepada masyarakat yang hadir dalam ritual. Sebagian menggunakannya langsung di tempat: ada yang mencuci wajahnya, membasahi kepalanya, mencuci matanya, dan ada pula yang meminumnya. Sisanya dibawa dengan menggunakan botol ke rumah masing-masing. Air yang tersisa kemudian digunakan untuk mencuci barang yang lain-lain. pada saat ritual, banyak masyarakat yang juga membawa barang-barang pusaka seperti keris, pedang, golok, batu ali, bahkan tusuk konde.&lt;br /&gt;Ketiga ritual tersebut dilakukan dalam sebuah rangkaian acara hajat Maulud setiap tanggal 14 Rabbiul Awal. Selain berfungsi untuk mengaktualkan kembali peristiwa masa lalu, masyarakat meyakini akan adanya berkah yang akan mereka terima dengan melibatkan diri dalam berbagai ritual tersebut. Oleh karena itu, banyak kalangan masyarakat yang datang dan mengikuti ritual dengan mambawa maksud dan tujuan tertentu. Biasanya, pejabat yang ingin naik pangkat, pedagang yang ingin berkembang, orang yang sakit ingin sembuh, yang belum menikah ingin segera mendapatkan jodoh, dan sebagainya  sering terlibat dalam berbagai ritual tersebut. Alasan mereka satu, yaitu dengan berdoa di tempat keramat, berarti mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa dengan media Eyang Batuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3 Hasil Analisis Konteks Penceritaan dan Fungsi Sosial&lt;br /&gt;CCB sebagai sebuah sastra lisan yang berupa legenda tidak dapat dipisahkan dari masyarakat pemiliknya. CCB lahir, berkembang dan tetap dipertahankan oleh masyarakat Batuwangi. Oleh karena itu, CCB selalu mengungkapkan berbagai hal yang tidak jauh dari kehidupan mereka. Hal ini tampak dari konteks penceritaan CCB yang meliputi lingkungan penceritaan dan situasi penceritaan. Apabila kita melihat lingkungan penceritaannya maka CCB pun dapat dikategorikan sebagai legenda perseorangan yang selalu menampilkan seorang tokoh yang sama, yaitu Eyang Batuwangi. Di sisi lain, dapat juga dikategorikan sebagai legenda lokal yang selalu mengungkapkan setting daerah asli sekitar Batuwangi. &lt;br /&gt;Dalam keterkaitan yang erat antara cerita dengan pemiliknya ini, CCB juga mempunyai fungsi yang signifikan yang tampak dalam kehidupan masyarakatnya. CCB telah membentuk identitas dan mendasari tatanan sosial masyarakat Batuwangi, membentuk pandangan dan kepribadian masyarakat, terutama berkaitan dengan asihan Batuwangi dan aturan-aturan adat, serta pengaruh aturan-aturan tersebut bagi kehidupan masyarakat. Terakhir, CCB pun mendasari serta menyebarkan kaidah ritual ziarah kubur, pembacaan naskah Punika Ikilah Sajarah Batara Terus Bawa, serta ritual pencucian duhung &amp;shy;atau keris pusaka peninggalan Eyang Batuwangi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-2296001540927935601?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/2296001540927935601/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=2296001540927935601' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/2296001540927935601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/2296001540927935601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/bab-5.html' title='bab 5'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-1686730739700257790</id><published>2007-11-30T13:09:00.004+07:00</published><updated>2007-11-30T13:15:58.173+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='skripsie'/><title type='text'>bab 4</title><content type='html'>BAB V&lt;br /&gt;KONTEKS PENCERITAAN DAN FUNGSI SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1 Konteks Penceritaan&lt;br /&gt;5.1.1 Lingkungan  Penceritaan&lt;br /&gt;5.1.1.1 Penutur Cerita&lt;br /&gt;Tidak semua masyarakat Batuwangi bersedia untuk menuturkan cerita. Mereka yang usianya lebih muda pada suatu desa atau kampung akan menunjuk seseorang yang lebih tua di lingkungannya untuk diwawancarai. Orang yang sudah tua diyakini mengetahui CCB dengan baik. Selain mereka merupakan penduduk asli, mereka juga dianggap paling berwenang menuturkan cerita kepada orang lain. Semua cerita dikumpulkan melalui wawancara di tempat tinggal penutur sehingga hubungan cerita dengan lingkungannya dapat pula dirasakan. Penutur bertempat tinggal di kecamatan Banjarwangi dan kecamatan Singajaya Kabupaten Garut.&lt;br /&gt;Tanpa rencana, semua penutur yang berhasil diwawancarai adalah laki-laki. Hal ini terjadi karena masyarakat yang menjadi subjek penelitian merupakan pewaris budaya patriarkal. Pada masyarakat Batuwangi, laki-laki dianggap mengetahui sejarah dan cerita-cerita tentang desanya sejak masa lampau.Umumnya penutur berusia antara 60 hingga 80 tahun. Bahkan seorang penutur telah berusia 104 tahun. Meskipun usia mereka terhitung sudah sangat tua, mereka masih dapat berkomunikasi dengan baik. Penutur pada usia seperti inilah yang diyakini masyarakat sebagai orang yang paling mengetahui keadaan desanya sejak masa lampau.&lt;br /&gt;Penutur yang pernah mendapatkan pendidikan formal sebanyak 60 %. Sisanya, 40 % tidak pernah mendapatkan pendidikan formal di sekolah. Mereka yang mendapatkan pendidikan formal mengaku pernah bersekolah pada masa penjajahan Belanda. Hal ini dapat dibuktikan karena penutur tersebut dapat membaca tulisan latin. Sedangkan penutur yang tidak pernah bersekolah, mereka umumnya pernah belajar agama di pesantren atau pada guru mengaji. Buktinya, mereka dapat membaca Al-Quran dan tulisan Arab pegon.&lt;br /&gt;Hampir semua penutur bekerja sebagai petani. Meskipun usia mereka telah lanjut, namun mereka masih sering melakukan pekerjaan sebagai petani. Tentu saja mereka melakukan pekerjaannya saat ini tidak lagi seperti masa mudanya. Selain petani, ada juga kuncen makam Batuwangi. Akan tetapi, pada kenyataannya kuncen pun melakukan pekerjaan sebagai petani.&lt;br /&gt;Penutur mendapatkan cerita dari orang tua (ayah), kakek, paman, dan dari guru mengaji. Penutur mendapatkan cerita sejak masih kanak-kanak, namun ada juga yang mendapatkan cerita setelah ia dewasa. Memang, kebanyakan masyarakat Batuwangi tidak sembarangan menuturkan CCB. Cerita-cerita Batuawangi baru akan disampaikan kepada anak yang telah dianggap dewasa atau baligh. Jadi, bila dilihat dari penuturnya CCB memiliki nilai-nilai sakral bagi masyarakatnya. Selain itu, biasanya ada hubungan yang dekat antar penutur dengan pendengarnya, misalnya, kakek dengan cucunya, ayah dengan anaknya, atau guru mengaji dengan muridnya. Demikianlah CCB diturunkan dan disebarluaskan sehingga dikenal oleh masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1.1.2 Kesempatan Bercerita&lt;br /&gt;         Masyarakat Batuwangi adalah masyarakat petani. Aktivitas sehari-hari mereka adalah bekerja dari pagi hingga siang hari di sawah atau di kebun. Sebagian waktu mereka digunakan untuk kegiatan keagamaan, membangun rumah, bergotong royong mengerjakan pembangunan kampungnya, dan kegiatan lainnya. Mereka, terutama yang tua-tua pada umumnya jarang bepergian ke luar desa, apalagi ke luar kota.&lt;br /&gt;Mereka biasanya bercerita pada saat ada pertemuan, baik formal maupun tidak formal. Pada sela-sela acara musyawarah, pesta pernikahan, tahlilan, dan marhaba mereka biasanya terpancing untuk menuturkan cerita. Meskipun pertemuan tersebut bukan bertujuan untuk bercerita, tetapi bila mereka berkesempatan bercerita di tempat itu, maka mereka pun bertukar pengetahuan cerita. Pada pertemuan-pertemuan seperti ini, mereka yang terlibat biasanya orang yang sudah dewasa sampai orang lanjut usia. Selain itu, pertemuan-pertemuan tersebut bisanya dihadiri oleh sebagian besar laki-laki, dan jarang sekali wanita dan anak-anak. Adapun wanita dan anak-anak biasanya tidak ikut aktif bercerita, mereka biasanya menjadi pendengar saja. Oleh karena itu masyarakat Batuwangi menganggap laki-laki yang sudah tualah yang nyepeng sajarah (mengetahui sejarah atau cerita) di desanya.&lt;br /&gt;         Selain dalam sela-sela waktu pertemuan formal, penuturan cerita pun dapat terjadi dalam pertemuan yang santai seperti berjemur pada pagi hari, pada saat anak memijat orang tuanya menjelang tidur, saat keluarga berkumpul di dalam rumah, dan di dalam perjalanan atau sela-sela pekerjaan yang menjadi mata pencaharian mereka. Selain itu, penuturan CCB dapat terjadi pada saat ada orang yang bertanya mengenai cerita tersebut.&lt;br /&gt;         Contoh-contoh di atas merupakan kesempatan bercerita yang tidak menentu tempat dan waktunya. Penuturan cerita dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Ada pula kesempatan bercerita yang dibuat rutin dan pasti dilakukan, yaitu setiap tanggal 12 Rabbiul Awal di rumah kuncen. Pada saat itu, banyak orang yang berdatangan dari berbagai daerah untuk melakukan ziarah, serta mengikuti ritual penyiraman senjata Eyang Batuwangi. Mereka yang dating pada umumnya mengaku masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Eyang Batuwangi, baik itu keturunan langsung, maupun keturunan dari kerabat Eyang Batuwangi yang lain.  Dalam rangkaian acara ini biasanya muncul kesempatan bercerita. Para pengunjung yang hadir di rumah kuncen sebelum atau sesudah berziarah biasanya membahas keberadaan Eyang Batuwangi serta cerita-cerita tentangnya.&lt;br /&gt;           Pada tanggal 14 Rabbiul awal atau 14 Maulud ini dilakukan acara Hajat Maulud, rangkaian acaranya dimulai pada malam hari dengan tawasul di makam, kemudian kembali ke rumah kuncen untuk mendengarkan pembacaan silsilah dalam naskah yang berjudul Punika Ikilah Sajarah Batara Terusbawa. Naskah ini selalu dibacakan oleh kuncen hanya pada waktu yang sudah menjadi pakem ini. Selain itu, isi naskah tidak seluruhnya dibacakan karena dianggap sakral, tidak semua orang boleh mengetahui isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1.1.3 Tujuan Bercerita&lt;br /&gt;Seperti telah dibahas sebelumnya, CCB berbentuk legenda, tepatnya legenda pembangun masyarakat dan budaya. Di dalamnya diceritakan tentang Eyang Batuwangi, asal usul suatu daerah, asal-usul suatu aturan, dan sebagainya. Oleh karena itu, tujuan penuturan CCB berhubungan erat dengan bentuk, isi, dan sifat-sifat yang dikandung di dalam masing-masing cerita.&lt;br /&gt; Adapun tujuan penuturan CCB di antaranya.&lt;br /&gt;a.       Memberikan informasi kepada orang yang lebih muda bahwa Eyang Batuwangi adalah karuhun (nenek moyang) masyarakat Batuwangi. Sebagai nenek moyang mereka, Eyang Batuwangi telah berjasa di masa lalu.&lt;br /&gt;b.      Menjelaskan alasan mengenai pantangan memakan kepala ayam bagi keturunan Batuwangi. Hal ini dijelaskan melalui C-2.&lt;br /&gt;c.       Memberikan informasi tentang asal mula suatu daerah. Misal, tentang asal mula tanah gagayunan di Ciudian, dan asal mula nama kampung Garasay.&lt;br /&gt;d.      Menjelaskan bentuk unik suatu benda. Misal, bentuk unik Batu Munding dapat dijelaskan dengan C-1, demikian juga mengapa banyak batu yang bergelimpangan di dekat makam Batuwangi dan bentuk unik Pasir Murungkut dapat dijelaskan dengan C-3. &lt;br /&gt;e.       Agar masyarakat mengetahui hubungan kekerabatan, bahwa mereka semua adalah keturunan Batuwangi. Dengan demikian terjadi hubungan emosi yang dekat, meskipun mereka tinggal berjauhan.&lt;br /&gt;f.        Menjelaskan asal usul senjata milik Eyang Batuwangi yang disimpan oleh kuncen, serta memberikan alasan tentang ziarah ke makam Eyang Batuwangi.&lt;br /&gt;g.       Menjelaskan hubungan antara makam Eyang Batuwangi dengan makam keramat di sekitarnya, misal dengan makam Sembah Ibu Purbakawasa di Ciwindu, dengan makam Eyang Surapati di Cigintung, dengan makam Padabeunghar di Sareupeun Padabeunghar, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1.1.4 Hubungan Cerita dengan Lingkungannya.&lt;br /&gt;Keberadaan masyarakat Batuwangi pada saat ini sulit ditentukan berdasarkan tempat tinggalnya. Mereka kebanyakan bertempat tinggal di desa-desa di kecamatan Singajaya, dan Banjar Wangi. Selain itu, mereka juga sudah merambah ke beberapa kecamatan di sekitarnya hingga Cikajang, Cihurip dan Peundeuy. Sementara itu ada pula yang merantau ke luar daerah seperti Bandung, Jakarta, bahkan luar Jawa. Mereka hidup berbaur dengan masyarakat lainnya, sehingga identitas kebatuwangiannya baru akan diketahui setelah kita mengenal mereka.&lt;br /&gt;CCB berhubungan erat dengan lingkungan masyarakatnya serta lingkungan alamnya. Hubungan tersebut sebenarnya telah tergambar melalui latar CCB. Dalam hal ini CCB dapat pula dikelompokkan sebagai legenda setempat, atau local legends (Danandjaya dalam Sutrisno, 1991: 469). Sebagai legenda setempat, latar dalam CCB tidak jauh dari lingkungan sekitar masyarakat Batuwangi.&lt;br /&gt;Dalam hubungan antara cerita dengan lingkungan alamnya, latar tempat CCB pada umumnya dapat dilacak keberadaannya hingga saat ini. Akan tetapi dinamika sosial penduduk mungkin dapat mengubah keberadaannya. Misal, dalam C-1 diceritakan bahwa pada saat itu Tanah Batuwangi merupakan wilayah kekuasaan Sukapura, Tasik Malaya, sedangkan sekarang tempat tersebut berada di wilayah Kabupaten Garut. Tempat-tempat lain yang disebutkan dalam CCB seperti Gunung Lumbung, Kampung Garasay, Ciwindu, sungai Ciudian, dan sebagainya memang ada hingga sekarang.&lt;br /&gt;Demikian pula benda-benda yang memiliki keunikan yang dapat dijelaskan dengan CCB, kini benda-benda tersebut masih ada di tempatnya. Dalam C-1 diceritakan adanya kerbau yang setelah dilemparkan oleh Batuwangi berubah menjadi batu. Pada saat ini batu tersebut masih ada di sekitar Limus Tilu, Singajaya.&lt;br /&gt;Keberadaan benda dan tempat yang secara fisik dapat dibuktikan keberadaannya menjadikan CCB sangat diyakini kebenarannya. Selain itu, Eyang Batuwangi dipercaya sebagai nenek moyang yang menurunkan anak cucunya, yaitu masyarakat Batuwangi pada saat ini. Dengan dmikian apa yang telah diatur oleh Eyang Batuwangi berlaku pula bagi mereka. C-2 yang mengisahkan pernikahan putri Eyang Batuwangi telah mengakibatkan sumpah Eyang Batuwangi agar semua keturunannya kelak cadu atau pantang memakan kepala ayam. Aturan ini sekarang masih berlaku bagi masyarakat Batuwangi.&lt;br /&gt;Keyakinan masyarakat terhadap kebenaran cerita dapat mempengaruhi pola hidup dan tingkah laku mereka. Kepercayaan terhadap jasa-jasa Eyang Batuwangi pada masa hidupnya, serta keajaiban-keajaiban yang dimilikinya, menjadikan masyarakat merasa segan dan ingin memenziarahi makamnya. Selain itu, peninggalan Eyang Batuwangi yang masih tersisa kini disakralkan oleh masyarakat. sampai saat ini terdapat sebuah duhung, yaitu sejenis keris bermata dua, dan bertahta batu permata, dengan gagangnya berbentuk kepala burung garuda yang dijadikan pusaka Batuwangi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1.2 Situasi Penceritaan&lt;br /&gt;Berkaitan dengan situasi penceritaan seperti diungkapkan oleh Finnegan pada bab sebelumnya, situasi penceritaan CCB dapat terjadi dalam dua cara, yaitu, pertama, Audience dan penyaji relatif dipisahkan dengan pembatas yang tidak jelas, audience tidak banyak terlibat dalam penyampaian teks. Dan kedua, Penyaji dan audience bergiliran. Pada waktu seorang penyaji bukan gilirannya bercerita atau bermain, maka ia berperan sebagai audience.&lt;br /&gt;Situasi pertama terjadi misalnya ketika ada anak atau orang yang lebih muda bertanya kepada orang tua yang benar-benar mengetahui CCB. Selain itu, ketika wawancara terjadi pun demikian. Pengumpul atau pewawancara yang awam dan ingin mengetahui cerita tidak banyak terlibat dalam penceritaan, kecuali mengajukan pertanyaan-pertanyaan, sebaliknya nara sumber yang menjadi pencerita berperan sebagai penyaji aktif.&lt;br /&gt;Sementara itu, situasi kedua dapat terjadi apabila dalam sebuah penuturan CCB hadir lebih dari satu orang penutur. Apabila masing-masing pendengar mengetahui juga CCB, kadang-kadang mereka saling menambahkan atau mengklarifikasi  penuturan yang dilakukan oleh yang lainnya. Hal ini misalnya terjadi pada wawancara 2 dan wawancara 3. Pada saat itu, wawancara dilakukan pada waktu bersamaan. Oleh karena itu, ketika narasumber kedua menyajikan ceritanya, kadang-kadang disela oleh narasumber ketiga, dan sebaliknya, saat narasumber ketiga bercerita, sekali-0sekali disela pula oleh narasumber kedua.&lt;br /&gt;Situasi di atas dapat pula terjadi pada kesempatan bercerita yang lainnya. Misal, ketika pertemuan keluarga, pada sela-sela pekerjaan, atau pada saat berjemur di halaman. Pada kesempatan-kesempatan yang biasanya dihadiri oleh orang tua-tua yang sama-sama tahu mengenai CCB, penceritaan dapat dilakukan secara bergiliran oleh lebih dari seorang penutur.&lt;br /&gt;Satu hal yang perlu diperhatikan dalam situasi penceritaan adalah bahwa penutur tidak begitu saja bercerita secara langsung. Rupanya ada hal-hal yang sedikit membatasi atau menjadi pertimbangan bagi penutur. Misal dalam wawancara dengan Aki Nana (nara sumber 1, 86 tahun) pada tanggal 19 Maret 2005. Sebelum bercerita, penutur meminta izin kepada seseorang yang dalam konteks ini adalah Eyang Batuwangi, serta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam wawancara penutur berkata, “Lepat atuh. Mudah-mudahan aya dina panghampura anjeuna. Ageungna mah ka Gusti Nu Maha Suci.” (TW-1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2 Fungsi Sosial&lt;br /&gt;5.2.1 Membentuk Identitas dan Mendasari Tatanan Sosial Masyarakat Batuwangi.&lt;br /&gt;         Dalam berbagai hal, masyarakat Batuwangi tidak berbeda dengan masyarakat lain, terutama masyarakat Sunda pada umumnya. Mereka mengenal teknologi, politik, pendidikan, dan berbagai sisi kehidupan lainnya. Mereka juga membuka diri terhadap perubahan zaman dan perkembangan kebudayaan. Akan tetapi ada beberapa hal yang sifatnya tetap dan menjadi identitas masyarakat Batuwangi.&lt;br /&gt;Eksistensi sosial masyarakat Batuwangi banyak didasari oleh CCB. Secara geografis, sekarang yang dimaksud dengan Batuwangi sebagai tempat adalah sebidang tanah yang luasnya tidak lebih dari satu Hektar. Tanah yang di sanalah Eyang Batuwangi dikuburkan ini terletak di tengah pesawahan di desa Ciudian Kecamatan Singajaya. Desa Ciudian sendiri merupakan sebuah lembah yang diapit oleh dua sungai yaitu Sungai Ciudian dan Sungai Cikaengan. Kedua sungai ini bertemu di sebelah timur desa dan akhirnya bermuara di pantai timur Tasik Malaya. Sedangkan Kecamatan Singajaya dulunya berada di wilayah Kabupaten Tasik Malaya dengan nama Batuwangi. Nama Singajaya adalah nama baru setelah bergabung dengan Kabupaten Garut. Kemudian Kecamatan Singajaya dimekarkan menjadi tiga kecamatan, yaitu Singajaya, Banjarwangi dan Peundeuy. Dengan demikian saat ini telah terjadi penyempitan makna Batuwangi sebagai nama tempat.&lt;br /&gt;         Sesuai tempatnya, maka yang seharusnya disebut masyarakat Batuwangi adalah mereka yang tinggal di tanah tersebut. Akan tetapi, pada kenyataannya di atas tanah tersebut hanya ada sebuah makam keramat yaitu makam Batuwangi. Selain itu ada juga sebuah bangunan tempat tawasul di depan makam, sebuah sumur, sebuah kamar mandi dan sebuah mushola. Sisanya hanya belantara yang ditumbuhi pepohonan tua dan rumpun-rumpun bambu yang tak terganggu. Hanya kuncen yang secara teratur datang ke tempat itu. Sementara itu pada bulan-bulan tertentu banyak juga peziarah yang datang setiap tahunnya.&lt;br /&gt;   Jadi perlu ditekankan di sini bahwa yang dimaksud dengan masyarakat Batuwangi adalah mereka yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan Eyang Ragabaya Maragahiang Bayu Prabu Sangadipati Bin Guru Gantangan (Eyang Batuwangi). Menurut Koentjaraningrat (2002: 123-124) hubungan kekerabatan ditentukan oleh adanya hubungan darah (sebenarnya gen) yang dihubungkan baik dari pihak ayah maupun pihak ibu. Prinsip kekerabatan masyarakat Batuwangi diikat oleh kesadaran akan hubungan kekerabatan. Berdasarkan hubungan inilah mereka secara selektif memiliki hak dan kewajiban tertentu. Hak dan kewajiban tersebut pada masyarakat Batuwangi diwujudkan dengan adanya beberapa norma sosial yang harus diikuti oleh anggotanya. Norma-norma sosial tersebut tercermin dalam mitos-mitos yang berlaku di masyarakat berkenaan dengan CCB, larangan-larangan melakukan sesuatu, serta kegiatan-kegiatan ritual tertentu yang biasa dilakukan oleh masyarakat.&lt;br /&gt;Kita juga tidak bisa mengabaikan peran sentral seorang kuncen pada masyarakat Batuwangi. Ia dianggap sebagai orang terpercaya sebagai keturunan asli Eyang Batuwangi. Tugas sebagai kuncen ini didapatkan secara turun temurun. Bila seorang kuncen tidak mempunyai keturunan, maka tugasnya diberikan kepada adik atau kakaknya, ataupun anak dari saudaranya tersebut. Sebagai juru kunci makam, ia tidak hanya bertanggungjawab untuk mengurus makam dan membantu orang yang akan berziarah. Ia juga yang merawat barang-barang peninggalan Batuwangi. Beberapa peninggalan berbentuk senjata pusaka. Ia juga menyimpan naskah Punika Ikilah Sajarah Batara Terus Bawa yang berisi silsilah dan kisah Batuwangi. Hanya kuncen yang boleh membaca naskah ini setiap tanggal 14 maulud pada acara Hajat Maulud.&lt;br /&gt;Selain itu, kuncen bagi masyarakat Batuwangi juga berfungsi sebagai pemimpin spiritual mereka. Di samping ulama sebagai pemuka agama Islam, kuncen juga biasa memimpin doa, terutama yang berhubungan dengan ritual yang berhubungan dengan Batuwangi. Selain itu, kuncen juga sering kali berperan sebagai orang pintar yang menjadi tumpuan banyak orang. Kuncen sebagai satu-satunya orang yang memegang otoritas makam dipercaya mampu mengantarkan kehendak orang yang mempunyai maksud tertentu untuk mendapatkan karomah Eyang Batuwangi. Buktinya, sering ada masyarakat yang datang untuk berobat dari sakit, ingin naik jabatan, ingin sukses berdagang, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Singkatnya, masyarakat Batuwangi merupakan prototipe masyarakat Indonesia pada umumnya sebagai masyarakat tradisional, masyarakat religius atau menurut Finnegan, masyarakat primitif atau masyarakat nonindustri. masyarakat seperti ini memliliki ciri-ciri: hidup dalam skala kecil yang homogen, mengutamakan kelisanan daripada keberaksaraan, komunal, didominasi oleh religi dan nilai-nilai tradisi dan lebih dekat dengan alam, serta jauh dari sentuhan teknologi (Finnegan dalam Hutomo, 1991: 20). Ciri-ciri ketradisionalan mereka memang tidak dapat dilihat secara kontras dari tingkat ekonomi, teknologi yang dipakai, maupun tingkat pendidikan formal. Ciri-ciri ketradisionalan mereka merupakan manifestasi dari pola pikir sebagai masyarakat religius, sakral, bahkan animis.      &lt;br /&gt;Sebagai masyarakat religius, masyarakat Batuwangi memiliki identitas tersendiri yang khas dan sampai saat ini masih berlaku di masyarakat. Identitas tersebut tercermin dari berlakunya larangan larangan tertentu, ajaran-ajaran tertentu dan sebagainya. Namun demikian, pengaruh dari luar sedikit demi sedikit telah melunturkan beberapa norma tersebut. Sehingga saat ini ada beberapa norma yang berlaku sangat ketat dan menyeluruh, dan ada juga yang tidak begitu ketat atau hanya berlaku pada sebagian kecil dari mereka. Norma-norma yang dihasilkan oleh CCB tersebut adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.1.1 Asihan Batuwangi&lt;br /&gt;Asihan adalah bentuk mantra Sunda yang digunakan untuk menguasai sukma orang lain supaya menyayangi orang yang menggunakan asihan tersebut (Rusyana, 1970:11). Masyarakat Batuwangi mengenal sebuah asihan yang disebut Asihan Batuwangi. Sebenarnya masyarakat mengenal juga bentuk-bentuk asihan yang lainnya, namun hanya Asihan Batuwangi yang berkaitan dengan Batuwangi. Para orang tua akan mewariskan asihan ini kepada anak-anaknya yang telah baligh. Jadi asihan ini tidak bisa diturunkan kepada sembarang orang, dengan kata lain asihan Batuwangi hanya berlaku untuk masyarakat Batuwangi.&lt;br /&gt;Masyarakat Batuawangi mengenal berbagai asihan. Asihan batuwangi adalah yang paling penting. Menurut mereka asihan ini merupakan bekal hidup yang sangat penting. Dengan menguasai asihan ini, mereka yakin akan selalu “dilindungi” dan akan mendapatkan kasih sayang dari orang lain. Dalam sebuah pembicaraan dengan nara sumber terungkap sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…kapungkur tataros ka sepuh weh kitu, ka Uwa Kiyai Sepuh weh kitu ti Samping Hilir. Cepeng heula weh cenah elmuna Batuwangi, jung Maneh rek meuntas lautan oge. Da karaos: diturut ku jalema, kitu (TW-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dipercaya memiliki fungsi magis, asihan ini pun tidak sembarangan diturunkan, serta tidak sembarangan boleh diketahui olrh seseorang. Dari konteks penuturan wawancara 3 dapat diambil kesimpulan bahwa asihan Batuwangi bagi pemiliknya bersifat sakral. “… kieu geura nya, tapi punten ah da sanes heureuy. Ieu mah putra ayeuna naroskeun bade diwartoskeun bae da moal hade disumputkeun. Mudah-mudahan ngijinkeu (TW 3). Pada saat itu penutur meminta izin kepada Eyang untuk membacakan asihanBatuwangi yang ia kuasai..&lt;br /&gt;Akan tetapi, karena asihan ini diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi, maka timbul varian-varian yang berbeda. Jadi ada beberapa kata atau bagian asihan yang tidak persis sama dari tiap-tiap pemiliknya. Meskipun demikian masyarakat tidak mempersoalkan perbedaan bentuk asihan ini. Semuanya dikembalikan kepada individu yang menggunakannya. Terkadang muncul anggapan bahwa banyak di antara mereka telah kehilangan kebatuwangiannya karena jalan hidup yang ditempuhnya salah. Berikut adalah contoh asihan Batuwangi yang didapatkan dari Aki Nana (86 tahun) dan Aki Suha (78 tahun), keduanya adalah nara sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        a.  Los leumpang tiheula&lt;br /&gt;ear nu ceurik nuturkeun pandeuri&lt;br /&gt;asupkeun ka bumi weuteuh&lt;br /&gt;rancamaya payung buana&lt;br /&gt;asihan Sangga Buana&lt;br /&gt;mangka tumurun tumeka&lt;br /&gt;maring seuweu putu&lt;br /&gt;marajahyang ing Batruwangi&lt;br /&gt;rahayu kinasihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         b  tumika kinasihan Batuwangi&lt;br /&gt;allohuma payung agung sanggabuana&lt;br /&gt;asihan sangadipati&lt;br /&gt;ingsun seuweu putu kangjeng&lt;br /&gt;susunan Marajahiyang Bayu&lt;br /&gt;nam lalo leumpang tiheula&lt;br /&gt;ear nu ceurik nuturkeun pandeuri&lt;br /&gt;antosan di bumi weuteuh&lt;br /&gt;rancamaya nu gaduh asihan sanggabuana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.1.2  Cadu Ngadahar Hulu Hayam&lt;br /&gt;Cadu memakan kepala ayam merupakan dampak dari kejadian dalam C-2. Pantangan yang sekilas sangat sepele ini bagi masyarakat Batuwangi berlaku dengan ketat. Pada bulan Zulhijjah atau bulan haji misalnya, kita akan melihat fenomena di desa-desa sekitar Batuwangi. Pada bulan ini bisaanya banyak terjadi hajatan pernikahan maupun khitanan. Banyak ayam yang dipotong, maka kita bisa melihat kepala ayam bergelimpangan di kolam ikan. Mereka benar-benar tidak memakan kepala ayam, bahkan tidak pula menyertakannya dalam masakan. Dalam keadaan apapun mereka akan mengatakan “cadu” makan kepala ayam.&lt;br /&gt;Kalangan ulama banyak yang mengeritik sikap masyarakat seperti ini. Menurut para ulama tidak baik mengharamkan sesuatu yang halal. Akan tetapi dengan tegas mereka membantah bahwa bagi mereka kepala ayam bukan haram melainkan hanya pantangan saja. “Janten sanes haram, tapi cadu. Cadu kana mastaka hayam, margi kapungkur nuju oleng panganten putrana…” (TW 4). Bila pantangan itu dilanggar, mereka percaya bahwa yang bersangkutan akan mendapat bencana atau bahaya. Kejadian tersebut bisa berupa datangnya penyakit, kecelakaan atau kesialan lainnya. &lt;br /&gt;Di sisi lain, pantangan ini memiliki nilai simbolik yang sangat berarti bagi solidaritas masyarakat Batuwangi. Hal ini tampak pada kutipan wawancara dengan kuncen Batuwangi berikut.&lt;br /&gt;Janten cadu kana hulu hayam teh ulah silih pacok sareng dulur, silih bintih sareng dulur, kudu rapih jeung dulur, nanging da eta, janten eta teh maknaaneun. Aya amanat ka abdi oge kitu. Ulah silih pacok jeung dulur, eureunan urang teh. Cadu kana hulu hayam sabab hayam mah sok silih pacok jeung dulur. Ari bangsa urang, dulur jeung dulur teh silih bintih (TW 4).&lt;br /&gt;Jadi, larangan memakan kepala ayam bagi masyarakat Batuwangi merupakan sebuah mitos yang mempunyai makna. Dalam hal ini masyarakat Batuwangi mematuhi mitos dengan tidak memakan kepala ayam, sekaligus selalu mengusahakan tercapainya makna dari mitos tersebut. Oleh karena itu rasa persaudaraan masyarakat Batuwangi tetap solid meskipun mereka tinggal berjauhan dan tidak saling mengenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.1.3 Cadu Beunghar&lt;br /&gt;Sebagian orang beranggapan bahwa dulunya Eyang Batuwangi pernah bekerja sebagai kamasan (tukang membuat perhiasan emas). Dalam pembacaan naskah memang disebutkan “Lawas-lawas mulih ka Batuwangi. Embah Demang Genjreng Kamasan sumping ka Batuwangi” (TPN). Ia mempunyai banyak harta kekayaan. Karena kebaikannya, ia terbuka pada siapapun yang membutuhkan pertolongannya. Pada waktu itu banyak orang yang datang ke rumahnya untuk meminjam beras atau uang. Batuwangi memang memberikan pinjaman, tapi karena terlalu banyaknya orang yang bergantian meminta pinjaman dan banyak yang tidak membayar, ia menjadi jengkel, maka keluarlah serapah “cadu beunghar”&lt;br /&gt;            Akan tetapi kuncen mengklarifikasi anggapan sebagian masyarakat tersebut. Menurutnya kejadian seperti itu memang pernah terjadi tapi yang melakukannya bukan Batuwangi melainkan anaknya yang bernama Pada Beunghar. Jadi bila sumpah serapahnya itu berlaku, maka yang pantang kaya itu hanya keturunan Batuwangi dari anaknya yang bernama Pada Beunghar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eta teh kieu, sanes Batu Wangi eta mah. Cadu beunghar, cadu panjang rambut. Putrana teh Eyang Wira, anu dimakamkeun di Pada beunghar, karamat Pada beunghar: Wira Tanubaya.  Di palih dinya, Pada Beunghar. Kumargi beunghar ku putra, beunghar ku harta, teu kaur meuneutkeun panto anu beunghar mah. Janten cape weh. Cadu! Cadu beunghar, sanes Batu Wangi (TW-4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.1.4 Cadu Panjang Buuk&lt;br /&gt;Pantangan ini tidak berlaku secara ketat pada wanita Batuwangi saat ini. Pantangan ini didasarkan pada sebuah cerita tentang salah seorang anak perempuan Batuwangi. Batuwangi mempunyai seorang putri yang sangat cantik dan mempunyai rambut sangat panjang sampai tumit. “Cadu rambut panjang mah saurna nuju moe rambut.Muhun, putri. Kakojot ku kuda samparani. Kagusur dugi ka tewas” (TW-4). Putri tersebut pada suatu hari sedang menyisir rambutnya di halaman. Rambutnya yang terurai panjang tiba-tiba tersangkut pada kaki seekor kuda (ada juga yang mengatakan rusa) yang sedang berlari. Akhirnya sang putri terseret hingga tewas. Sejak saat itulah konon Eyang Batuwangi melarang keturunannya untuk berambut panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.1.5 Cadu Geulis&lt;br /&gt;Pantang cantik ini diartikan sebagai larangan untuk bersolek (menggunakan make up) secara berlebihan bagi wanita Batuwangi. Namun karena batas-batas bersolek yang berlebihan ini tidak jelas, maka saat ini wanita Batuwangi sulit dibedakan dari masyarakat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Identitas yang masih mencirikan masyarakat Batuwangi secara ketat di antaranya adalah Asihan Batuwangi dan larangan memakan kepala ayam. Sementara itu aturan lainnya yang berupa pantangan-pantangan di atas tidak berlaku secara ketat dan tidak menyeluruh di masyarakat Batuwangi. Hal ini diakibatkan dinamika perubahan sosial masyarakat. Selain itu, aturan yang lambat laun menjadi longgar tersebut memang tidak berdasarkan sebuah cerita, tetapi hanya berupa anggapan masyarakat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.3  Membentuk Pandangan dan Kepribadian Masyarakat Batuwangi&lt;br /&gt;Dari uraian sebelumnya ditemukan beberapa norma yang menjadi identitas masyarakat Batuwangi. Mereka memiliki asihan Batuwangi, juga memiliki beberapa pantangan di antaranya pantang memakan kepala ayam, pantang kaya, pantang berambut panjang, dan pantang bersolek. Dengan identitas tersebut kita bisa sedikit memahami masyarakat Batuwangi. Identitas tersebut dapat menumbuhkan solidaritas dan rasa persaudaraan yang tinggi antar anggota masyarakat Batuwangi. Lebih jauh lagi ternyata identitas tersebut memberi pengaruh besar terhadap paradigma sosial masyarakat Batuwangi.&lt;br /&gt;Menurut masyarakat Batuwangi pengamalan asihan akan mendatangkan perlindungan di dalam dan kejayaan di luar asalkan asihan ini dibawa dalam jalan kebenaran. Yang dimaksud dengan perlindungan di dalam adalah seseorang akan dilindungi dalam segala hal selama ia tinggal di wilayah dalam. Beberapa narasumber memberikan batas-batas wilayah luar dan wilayah dalam. Batas tersebut adalah tempat (desa atau kampung) yang bernama Pamegatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malahan ceuk urang dieu, ah da ieu mah urang Pamegatan. Mun indit ka dieu, ari didieu mah ngan ukur dilindungi, tapi datang ka ditu bakal aya rahayu kinasihan. Lamun geus liwat Pamegatan ka ditu, geus weh tamplok kabeh kadeudeuhna, kanyaahna ka urang (TW 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mereka di setiap arah mata angin akan ditemukan nama Pamegatan. Memang penulis mengetahui beberapa tempat-tempat tersebut di antaranya di perbatasan Banjarwangi-Cikajang (ini berarti sebelah Barat), di sebelah utara Singajaya, dan sebelah selatan di Pameungpeuk. Anggapan seperti ini memberi pengaruh yang signifikan. Di dalam lingkungannya mereka sangat solid dan tampak kesetaraan dalam lingkungan sosial. Mereka menjalin persaudaraan dengan erat. Mereka juga saling mengenal satu sama lain meskipun jarak yang memisahkan tempat tinggal mereka cukup jauh.&lt;br /&gt;Bila seseorang telah keluar dalam arti menetap di wilayah luar batas yang telah ditentukan, maka ia akan mendapat kejayaan atau menurut istilah mereka rahayu kinasihan. Di luar ia akan sejahtera dan mendapatkan kepercayaan dan kasih sayang dari setiap orang. Akibatnya banyak anggota masyarakat yang merantau ke wilayah luar untuk berdagang, kerja bangunan atau pekerjaan lainnya. Biasanya mereka pergi ke kota besar seperti Jakarta ataupun Bandung. Penghasilannya memang relatif, tetapi ada selalu cerita tentang kesuksesan atau keunggulan yang mereka bawa. Di rantau ia merasa dipercaya dan dikasihi oleh banyak orang, sementara keluarga yang ditinggalkan biasanya menceritakan kesuksesan-kesuksesan yang diraih oleh orang tersebut.&lt;br /&gt;Sementara itu pantangan untuk menjadi kaya bagi sebagian orang tidak menjadikannya merasa nyaman. Pantang menjadi kaya tidak hanya diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak boleh terjadi, tetapi juga tidak mungkin terjadi. Padahal kaya atau tidaknya seseorang ditentukan oleh Tuhan dan kesadarannya untuk berikhtiar. Kesadaran inilah yang melunturkan pantangan menjadi kaya sehingga sebagian besar masyarakat tidak lagi memercayai pantangan ini.&lt;br /&gt;Perlu diperhatikan juga bahwa masyarakat Batuwangi tetap mempertahankan nilai-nilai Budaya yang memang tidak dilarang oleh Eyang Batuwangi. Misal tradisi pernikahan dengan acara huap lingkung. Meskipun acara ini telah menimbulkan prahara yang merenggut nyawa putra-putranya, Eyang Batuwangi tidak lantas melarang acara huap lingkung yang memang syarat nilai simbolik bagi kehidupan rumah tangga.&lt;br /&gt;Di sisi lain CCB juga menolak nilai nilai budaya yang tidak relevan menurut ajaran agama maupun nilai-nilai kebenaran. Dalam hal ini dapat dicontohkan melalui kebijakan Eyang Batuwangi dalam C-2. ia mengixinkan anak perempuannya menikah lebih dulu daripada kakak laki-lakinya. Padahal masyarakat sering menganggap tindakan ngarunghal tersebut sebagi perbuatan yang negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.4        Menyebarkan Kaidah Ritual&lt;br /&gt;Ritual merupakan kata sifat atau adjektiva yang merngandung makna berkenaan dengan ritus. Ritus dapat diartikan sebagai tata cara dalam ritual upacara keagamaan (Tarno dkk, 2000: 5). Lebih lanjut Sutarto memberikan pengertian bahwa ritual berarti kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang dan obsesif, dan seringkali merupakan dramatisasi simbolis dari kebutuhan masyarakat yang mendasar, apakah itu kebutuhan ekonomi, biologis, sosial, atau seksual (Sutarto, 1991: 16).&lt;br /&gt;Sebuah ritual dilaksanakan oleh masyarakat pendukungnya karena merupakan warisan dari leluhur, itu artinya otoritas yang memerintahkan ritual ini sama dengan otoritas yang dimiliki tradisi, yang tentu saja bersifat sosial. Ritus-ritus ini dilaksanakan demi memelihara hubungan dengan masa lalu dan melestarikan identitas moral kelompok, bukan karena ada tujuan atau dampak fisikal yang ingin dicapai (Durkheim, terjemahan Muzir, 2005: 533)&lt;br /&gt;Masyarakat Batuwangi melakukan beberapa ritual yang rutin dilakukan. Ritual yang utama adalah ziarah kubur di makam Batuwangi, ritual pembacaan naskah Punika Ikilah Sajarah Batara Terus Bawa, serta ritual ngalungsur atau mencuci senjata pusaka Eyang Batuwangi. Ketiga ritual ini dilakukan dalam rangkaian acara Hajat Mulud secara rutin setiap tanggal 13-14 Rabbiul Awal atau bulan Mulud, kecuali ritual ziarah kubur yang sebenarnya dapat dilakukan kapan saja selain pada bulan Ramadhan dan bulan Shafar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.4.1 Ritual Ziarah Kubur di Makam Batuwangi&lt;br /&gt;Makam keramat sering diziarahi oleh berbagai lapisan masyarakat karena makam tersebut dianggap tempat keramat. Tempat keramat adalah ruang yang suci, di mana ada ritual-ritual tertentu untuk dapat memasukinya. Sebagai tempat suci, makam keramat memiliki batas-batas keramat. Dalam hal ini istilah tempat keramat dapat disamakan dengan istilah tempat atau ruang sakral. Manusia religius memandang ruang tidak homogen. Ruang sakral mengalami interupsi, perubahan di dalamnya, serta ada beberapa ruang yang secara kualitatif berbeda dari yang lain (Eliade, 2002: 13). &lt;br /&gt;Masyarakat pada umumnya berkeyakinan bahwa tak lama setelah orang meninggal, jiwanya akan berubah menjadi mahluk halus (roh) yang selanjutnya roh halus tersebut berada di sekitar ahli waris (Endraswara, 2004: 30). Anggapan seperti inilah yang melatar belakangi ritual ziarah kubur di makam Batuwangi. Eyang batuwangi dianggap sebagai penyebar Islam bahkan diyakini sebagai seorang wali oleh masyarakat. Dengan mendatangi makamnya, masyarakat percaya akan mendapatkan keramat. Dalam hal ini, istilah keramat sesuai dengan asal katanya (Arab: karomah), yang berarti berkah atau kasih sayang.&lt;br /&gt;Masyarakat mengetahui berbagai hal tentang Eyang Batuwangi terutama berkaitan dengan makam yang mereka Ziarahi berdasarkan CCB. Kehidupan masa lalu Eyang Batuwangi yang tergambar dalam CCB menjadikan tokoh ini dikeramatkan. Ritual ziarah kubur yang dilakukan oleh masyarakat pada saat ini seakan mengaktualisasikan kembali kejadian-kejadian yang terjadi di masa lampau. Hal ini penting karena bagi masyarakat religius, seluruh ritual merupakan perayaan atau peringatan. Oleh karena itu memori yang direaktualisasikan memainkan sebuah peranan yang menentukan (Eliade, 2002: 102).&lt;br /&gt;Salah satu dasar keyakinan masyarakat untuk melakukan ziarah kubur ke makam Eyang Batuwangi adalah peristiwa yang dikisahkan dalam C-4. sebagai seorang wali, Eyang Batuwangi telah ma’rifat atau dekat dengan Yang Maha Kuasa, sehingga doanya mudah dikabulkan. Oleh karena itu, ada baiknya berdoa pun dilaksanakan di tempat yang dirahmati oleh-Nya, yaitu makam Eyang Batuwangi. Hal ini diungkapkan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantena mah tos caket ka Allah. Ma’rifat ka Allah, waliyullah, kakasihna Gusti Allah, tiasa diizabah. Numawi dina ziarah oge ngadua di tempat anu dimulyakeun ku Allah (paragraf 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.4.2 Ritual Pembacaan Naskah Punika Ikilah Sajarah Batara Terus Bawa&lt;br /&gt;Menurut kuncen, naskah ini sekarang sudah tidak utuh lagi. Sebagian naskah telah hilang. Sementara itu, sepenggal naskah yang tersisa kini disimpan baik-baik di rumah kuncen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eta teh kieu, riwayat eta kapungkur teh, ku pun Bapa teh nu aslina disalin, taun 55 panginten waktos nyalin sajarah teh. Atuh anu aslina disimpen satoromol, sawadah kitu. Teu acan beres sadayana pun bapa teh nyalin, ti hiji dugi ka.. da acak-acakan ku pun bapa dibereskeun. Sami-sami sareng kieu nu aslina mah, acak-acakan. Koneng sapertos hanalam. Ari pun bapa pupus, ku pun Uwa dirawat. Abdi nuju alit keneh. Anu kenging nyalin mah dicandak ku abdi, anu aslina dicandak ku Uwa.Uwa Haji Syukur. Abi mah nyalametkeun anu kenging nyalin. Anu aslina mah dicandak ku Uwa di Cibogo. Wa Haji pupus, abdi sanes ninggal kana harta banda, abdi teh hak warisna, tapi eta nu diperyogikeun nu ditaroskeun. Teu aya. Duka kunu nyolong, duka ical… ah wallohu a’lam dasar sepuh (TW 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah ini hanya dibaca satu kali dalam setahun, yakni pada dini hari.tanggal 14 Maulud. Ritual ini termasuk ke dalam rangkaian acara hajat maulud, tepatnya setelah ritual ziarah kubur selesai, barulah naskah ini dikeluarkan dan dibaca oleh kuncen di depan khalayak. Hanya kuncen yang boleh membaca naskah ini. Di dalamnya ada bagian-bagian yang dianggap papakem yang tidak boleh didengar oleh khalayak (lihat lampiran TPN).&lt;br /&gt;            Ternyata di dalam naskah yang berbahasa Sunda-Jawa (Cirebon) ini tidak tercantum CCB. Naskah ini hanya memuat silsilah Batuwangi serta beberapa ajian yang tidak boleh dibaca. Jadi penuturan dan pewarisan CCB hanya berlangsung secara lisan, bukan tulisan.&lt;br /&gt;            Pembacaan naskah ini merupakan sebuah ritual yang sangat sakral. Selain ada beberapa bagian naskah yang benar-benar tidak boleh diketahui oleh orang lain selain kuncen, naskah ini tidak boleh diambil gambarnya. Selain itu, pada saat pembacaan naskah berlangsung, berbagai makanan sebagai sesaji dihadirkan di depan khalayak. Makanan ini terdiri atas nasi rawon, opor ayam dan ayam bakar (tentunya tanpa kepala), telur ayam, telur bebek, dan sayur-sayuran. Selain itu terdapat juga opak, ranginang, dan wajit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;5.2.4.3  Ritual Ngalungsur&lt;br /&gt;Ngalungsur berarti menurunkan, atau mengeluarkan. Maksudnya, sebuah duhung atau senjata pusaka peninggalan Eyang Batuwangi dikeluarkan dan dicuci pada tanggal 14 Rabiul awal, setelah ziarah kedua yang dilakukan pagi hari. Senjata ini berbentuk sebilah keris bermata dua dengan panjang sekitar 30 cm, bergagang kayu bentuk burung garuda, dan bertahtakan empat butir permata (sekarang tinggal satu).  Namun sayang sekali senjata ini pun tidak boleh diambil gambarnya.&lt;br /&gt;Sebelum dan sesudah dicuci tanggal 14 Maulud, keris ini dibungkus dengan kain putih lalu diikat dengan tujuh ikatan. Kemudian keris disimpan di dalam sebuah peti di dalam kamar sebuah rumah khusus milik kuncen. Selain pada saat pencucian, keris ini tidak boleh disentuh dan dibuka.&lt;br /&gt;Seluruh ritual ini dilakukan oleh kuncen dengan dibantu oleh anak laki-lakinya. Keris dikeluarkan dari peti, dibuka dari bungkusan kain, kemudian dengan doa-doa tertentu keris dikeluarkan dari bungkusnya. Sementara itu telah tersedia satu nampan air berisi bunga tujuh rupa dan jeruk yang dibelah-belah. keris dicuci oleh kuncen dengan air kembang dan jeruk ini. Setelah cukup bersih, kemudian diseka dengan kapas lalu dikeringkan. Setelah kering keris dimasukkan kembali ke dalam bungkusnya, diselimuti kain putih, diikat, dan kembali dimasukkan ke dalam peti.&lt;br /&gt;Ada dua hal yang memaknai ritual ini. Pertama, setiap keganjilan yang muncul dalam ritual dianggap pertanda yang menunjukkan kejadian yang akan menimpa bangsa ini. Misal, pada pencucian tahun ini. Sebelum keris dicuci, salah satu tali pengikat lawon pembungkus bagian bawah ada yang lepas. Hal ini segera diumumkan oleh kuncen bahwa keganjilan ini berarti akan ada banyak prahara menimpa masyarakat kalangan bawah. Begitulah masyarakat, khususnya kuncen memaknai segala keganjilan yang menimpa keris dikaitkan dengan keadaan bangsa ini setiap tahunnya.&lt;br /&gt;Kedua, air sisa mencuci senjata ini dibagi-bagikan kepada masyarakat yang hadir dalam ritual. Sebagian menggunakannya langsung di tempat: ada yang mencuci wajahnya, membasahi kepalanya, mencuci matanya, dan ada pula yang meminumnya. Sisanya dibawa dengan menggunakan botol ke rumah masing-masing. Air yang tersisa kemudian digunakan untuk mencuci barang yang lain-lain. pada saat ritual, banyak masyarakat yang juga membawa barang-barang pusaka seperti keris, pedang, golok, batu ali, bahkan tusuk konde.&lt;br /&gt;Ketiga ritual tersebut dilakukan dalam sebuah rangkaian acara hajat Maulud setiap tanggal 14 Rabbiul Awal. Selain berfungsi untuk mengaktualkan kembali peristiwa masa lalu, masyarakat meyakini akan adanya berkah yang akan mereka terima dengan melibatkan diri dalam berbagai ritual tersebut. Oleh karena itu, banyak kalangan masyarakat yang datang dan mengikuti ritual dengan mambawa maksud dan tujuan tertentu. Biasanya, pejabat yang ingin naik pangkat, pedagang yang ingin berkembang, orang yang sakit ingin sembuh, yang belum menikah ingin segera mendapatkan jodoh, dan sebagainya  sering terlibat dalam berbagai ritual tersebut. Alasan mereka satu, yaitu dengan berdoa di tempat keramat, berarti mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa dengan media Eyang Batuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3 Hasil Analisis Konteks Penceritaan dan Fungsi Sosial&lt;br /&gt;CCB sebagai sebuah sastra lisan yang berupa legenda tidak dapat dipisahkan dari masyarakat pemiliknya. CCB lahir, berkembang dan tetap dipertahankan oleh masyarakat Batuwangi. Oleh karena itu, CCB selalu mengungkapkan berbagai hal yang tidak jauh dari kehidupan mereka. Hal ini tampak dari konteks penceritaan CCB yang meliputi lingkungan penceritaan dan situasi penceritaan. Apabila kita melihat lingkungan penceritaannya maka CCB pun dapat dikategorikan sebagai legenda perseorangan yang selalu menampilkan seorang tokoh yang sama, yaitu Eyang Batuwangi. Di sisi lain, dapat juga dikategorikan sebagai legenda lokal yang selalu mengungkapkan setting daerah asli sekitar Batuwangi. &lt;br /&gt;Dalam keterkaitan yang erat antara cerita dengan pemiliknya ini, CCB juga mempunyai fungsi yang signifikan yang tampak dalam kehidupan masyarakatnya. CCB telah membentuk identitas dan mendasari tatanan sosial masyarakat Batuwangi, membentuk pandangan dan kepribadian masyarakat, terutama berkaitan dengan asihan Batuwangi dan aturan-aturan adat, serta pengaruh aturan-aturan tersebut bagi kehidupan masyarakat. Terakhir, CCB pun mendasari serta menyebarkan kaidah ritual ziarah kubur, pembacaan naskah Punika Ikilah Sajarah Batara Terus Bawa, serta ritual pencucian duhung &amp;shy;atau keris pusaka peninggalan Eyang Batuwangi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-1686730739700257790?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/1686730739700257790/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=1686730739700257790' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/1686730739700257790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/1686730739700257790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/bab-4_29.html' title='bab 4'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-2486950245206506350</id><published>2007-11-30T13:09:00.003+07:00</published><updated>2007-11-30T13:14:59.423+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='skripsie'/><title type='text'>bab 4</title><content type='html'>BAB IV&lt;br /&gt;ANALISIS STRUKTUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1 Analisis Struktur Cerita 1 (C-1)&lt;br /&gt;4.1.1 Teks C-1&lt;br /&gt;Kieu ari anu katampi ku aki mah. Eyang Batuwangi teh putrana Batara Terus Bawa anu katutuh ti istri. Jadi raina, saderekna teh Mbah Tanjung anu di Bojong. Tah eta pang ageungna teh. Tah hiji waktos anu katampi ku aki mah, kapungkur teh aya anu ngalalana cenah ka dieu teh, Dipati Ukur bade ngarebut nagara. Masalahan di Gunung Lumbung. Tah dinya kulantaran duka kunaon atuh, da ngaratu teh ka Sukapura kapungkur mah. Di dieu teh malah panghuluna teh kapan buyut aki, nya. Ibuna ibu Murnah, Eyang Nurwajan panghuluna teh. Tilu bulan di Tasik, di Sukapura, tilu bulan di Pakemitan, Banjarwangi.&lt;br /&gt;Nya sayembara di dinya teh. Anu katampi ku aki ti Pun Aki teh nya, Eyang Muhammad Aleh, ajengan di dieu baheula. Sayembara di ditu. Nya Eyang Surapati anu ti dieu teh kaditu. Nya tilu belas jalmi anu nuju di dinya teh. Saur Eyang Surapati teh, “moal aya anu meunangkeun deui iwalti menak Batuwangi”.&lt;br /&gt;Tah anu katampi ku aki sajarahna. “Ayeuna mah Menak Batuwangi ondang weh ka dieu, ka Sukapura.”&lt;br /&gt;“Tah Gusti, abdi teh wantun henteu, teu wantun henteu. Kumargi abdi teu acan berpengalaman, namung abdi teh ngawasa, tiasa. Tapi da teu acan diangge mah da teu terang.”&lt;br /&gt;Masalahan di Gunung Lumbung. Ti Gunung Lumbung ti ditu, Dipati Ukur mentangkeunana pangaji, naon pangarti. Tah kulantaran ilmu panemu teu matih teu asup ka Eyang Batuwangi, teu disinghareupan di ditu, aya munding cenah gigireunana teh, aya munding weh kitu. Di cokot cenah munding teh, pangheulana munding bikang ku Dipati Ukur teh di palempengkeun ti gunung Lumbung ka Ciudian weh kitu. Ka Ciudian. Aya makamna engke. Engke kapanggih lamun bener geus hayang ceuk paribasana sampeur aki urang jarahan. Dipalempengkeun, sedeng rek nepi ka makamna atawa ka gedongna, teu acan pupus Batuwangi, mengpar. Disebut weh ayeuna jadi gunung, gunung Munding Bikang. Tapi kulantaran helok kitu nya, naha asa kacida-kacida teuing. Aya keneh hiji deui jaluna, cokot, dipalempengkeun deui. Dek nepi, mengpar deui weh kaditu, cle! Jadi ngarendeng weh ayeuna dua, antara tonggoheun Limus Tilu. Tonggoheun Limus Tilu aya gunung, Munding Bikang jeung Munding Jalu, batu.* &lt;br /&gt;“Ayeuna mah nyerahkeun weh ka Raden.” Anjeuna angkat ka luhur, nya anjeuna teh hiber. Ana hiber ka gunung Tikukur, Bandung. Numawi perah keris teh jiga manuk tikukur di dieu teh. Kitu asalna teh. Tuluy ka ditu. Atuh udag weh ku anjeunana. Nya di jalan teh cenah aya nu keur calik di dinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Paragraf 5 diambil dari wawancara 1&lt;br /&gt;“Bade ka mana, Eyang?”&lt;br /&gt;“Eyang teh bade ngala Dipati Ukur ka Bandung, ayeuna di gunung Tikukur. Maneh mun dibawa ayeuna daek?”&lt;br /&gt;   “Mangga”&lt;br /&gt;“Ngan maneh diganti ngaran, ayeuna Wira Dadakan.”&lt;br /&gt;Terus cenah ka Bandung. Dugi ka Bandung teh, angkat weh ka lurah. “Lurah, Dipati Ukur rek ngarebut nagara, ayeuna aya di Gunung Tikukur, kade eta jalema ngarti. Di dieu pek nyieun hajat sing gede, engke mun geus asak pasakan panggil Dipati Ukur ka dieu.”&lt;br /&gt;Dongkap teh dipanggil ka dinya. “Aya tamu?”&lt;br /&gt;“Teu aya.”&lt;br /&gt;Turun weh ka dinya, gerewek weh, “Taluk ka urang, moal?” kumargi saur ieu kedah dipotong janggana, heug weh cenah dipotong. Kenging weh cenah.&lt;br /&gt;“Ayeuna Wira, Maneh diganti ku urang jadi Wira Dadaha. Setorkeun ka Gusti di ditu, ieu mastaka Dipati Ukur. Urang, kumargi kagungan putra ngan hiji-hijina nu ti Pangisikan, istri. Lila kula di Bandung, ayeuna urang rek ka Batuwangi. Jig anteurkeun ka ditu!”&lt;br /&gt;Ari dongkap ka ditu,&lt;br /&gt;“Ka mana Raden?”&lt;br /&gt;“Teu aya, puput di pangperangan.”&lt;br /&gt;“Ku saha beunangna?”&lt;br /&gt;“Ieu teh ku Abdi.”&lt;br /&gt;“Ayeuna mah kulantaran di dieu Ratu geus wakca ka Raden, sing saha nu meunangkeun Dipati Ukur, eta dijieun ratu.” &lt;br /&gt;Jleg weh mun jadi raja tea mah jadi raja. Tah Eyang lunggang-linggung sumping ka ditu. Ana sumping anjeuna teh teu sumping ka karaton, tapi ka kantor di Sukapura. Ka gedong kapungkur mah. Mangpuluh-puluh juru silat cenah kadinya, atuh paburantak teu tiasa lebet. Tah sumping weh raja sepuh.&lt;br /&gt;“Oh geuning Raden, yeuh! Raden ayeuna mah nyanggakeun weh ka Raden.”&lt;br /&gt;Nya saurna kieu, “Ama, abdi mah moal nganyenyeri batur, da abdi oge ayeuna nyeri, ngan sakieu weh ayeuna mah, pek weh tuluykeun ku maneh, karunya. Ngan rek nyirian, hiji ulah awet jeneng, dua ulah boga turunan”&lt;br /&gt;Kitu tah sajarah anu katampi ku aki mah (TW 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.2 Terjemahan C-1&lt;br /&gt;Yang kakek terima begini, Eyang Batuwangi adalah putra dari Batara Terus Bawa dari seorang istrinya. Adiknya adalah Mbah Tanjung di Bojong. Dialah yang paling besar. Nah pada suatu hari, yang kakek terima, ada yang mengembara ke sini, yaitu Dipati Ukur. Mau merebut kekuasaan negara. Terjadilah masalah di Gunung Lumbung. Nah di sana, entah kenapa, sebab waktu itu daerah di sini mengabdi ke Sukapura. Malah di sini yang menjadi penghulu adalah kakek buyut saya sendiri, ibunya Ibu Murnah, Eyang Nurwajan namanya. Tiga bulan di Tasik, di Sukapura, tiga bulan di Pakemitan, Banjarwangi.&lt;br /&gt;Diadakanlah sayembara, yang kakek terima dari kakek saya, Eyang Muhammad Aleh, ulama di sini zaman dulu. Sayembara di sana. Lalu Eyang Surapati dari sini datang ke sana. Di sana sudah ada tiga belas orang. Kata Eyang Surapati, “tidak ada lagi yang mampu memenangkannya kecuali penguasa dari Batuwangi.”&lt;br /&gt;Nah menurut cerita yang Kakek terima, “sekarang undanglah penguasa Batuwangi itu ke sini, ke Sukapura.”&lt;br /&gt;“Gusti, hamba merasa sanggup tak sanggup, sebab hamba belum berpengalaman. Tapi hamba tetap merasa mampu. Karena belum dibuktikan, jadi tidak tahu.”&lt;br /&gt;Terjadi sengketa di Gunung Lumbung. dari Gunung Lumbung, Dipati Ukur mengerahkan ilmu kesaktiannya. Nah karena segala kesaktiannya tak dapat menembus Eyang Batuwangi, tidak dihadapi di sana. Di sampingnya ada kerbau. Diambilnyalah kerbau itu. Yang pertama diambil dan dilemparkan dari Gunung Lumbung ke Ciudian oleh Dipati Ukur adalah kerbau betina. Di sana ada makamnya. Nanti dapat ditemui. Kalau mau, jemput saya, kita ziarahi. Dilemparkan, begitu akan sampai ke makamnya atau ke gedongna, belum meninggal Batuwangi, meleset. Jadilah gunung, gunung Munding Bikang. Akan tetapi, karena heran, “keterlaluan”, katanya. Masih ada seekor lagi, yang jantan, diambil lagi, dilemparkan lagi. Begitu akan sampai, meleset lagi. “Cle”, jadi dua-duanya sekarang bersanding di dekat Limus Tilu. Di dekat Limus Tilu ada dua ekor kerbau, jantan dan betina, wujudnya batu.&lt;br /&gt; “Sekarang terserah Raden” Beliau terbang ke angkasa. Terbanglah ke gunung Tikukur, Bandung. Makanya gagang keris yang ada di sini bentuknya seperti burung tekukur. Begitulah asalnya. Terus ke sana dikejar oleh Beliau. Kemudian di perjalanan ada seseorang yang sedang duduk.&lt;br /&gt;“Mau ke mana, Eyang?”&lt;br /&gt;“Saya akan mengejar Dipati Ukur ke Bandung. Sekarang di Gunung Tikukur. Kalau saya bawa kamu sekarang bersedia?”&lt;br /&gt;“Baiklah”&lt;br /&gt;“Tapi sebelumnya saya ganti namamu menjadi Wira Dadakan”&lt;br /&gt;Teruslah ke Bandung. Sesampainya di Bandung, pergilah beliau menemui lurah. “Lurah, Dipati Ukur akan memberontak pada negara, sekarang ada di Gunung Tikukur, hati-hati dia orang yang pandai. Di sini buatlah pesta besar, nanti setelah masakan telah siap dihidangkan, panggil Dipati Ukur ke sini.”&lt;br /&gt;Datanglah Dipati Ukur ke sana.&lt;br /&gt;“Ada tamu?”&lt;br /&gt;“Tidak ada.”&lt;br /&gt;Turunlah ke sana, lalu disergap, “apakah kamu takluk kepadaku atau tidak?” Karena perintah raja harus dipenggal kepalanya, maka dipenggallah kepalanya. Akhirnya berhasil.&lt;br /&gt;“Sekarang Wira, namamu kuganti menjadi Wira Dadaha. Serahkanlah kepala Dipati Ukur ini kepada Gusti di sana. Aku, karena hanya mempunyai satu-satunya anak dari istri di Pangisikan, seorang anak permpuan. Sudah lama aku di Bandung, sekarang aku akan ke Batuwangi dulu. Serahkanlah ke sana sendiri!&lt;br /&gt;Begitu datang ke sana,&lt;br /&gt;“Raden ke mana?”&lt;br /&gt;“Tidak ada, sudah gugur dalam peperangan.”&lt;br /&gt;“lalu siapa yang memenangkan?”&lt;br /&gt;“Ini saya yang memenangkan.”&lt;br /&gt;“Sekarang, karena Ratu telah berikrar kepada Raden bahwa siapa pun yang berhasil menangkap Dipati Ukur, akan dijadikan raja.”&lt;br /&gt;Jadilah kalau istilahnya raja, menjadi raja. Nah Eyang datang ke sana. Beliau tidak langsung datang ke keraton, tetapi ke kantor di Sukapura. Dulu itu ke gedung. Berpuluh-puluh jagoan silat datang ke sana. Acak-acakan tidak dapat masuk. Datanglah raja sepuh&lt;br /&gt;“Oh, ternyata Raden! Raden, sekarang terserah Raden.”&lt;br /&gt;Beginilah jawabnya. “Tuanku, saya tidak akan menyakiti hati orang lain. Sebab hamba juga merasa sakit saat ini. Tapi beginilah sekarang,” katanya,  “lanjutkan saja olehmu (wira), kasihan. tapi lihat saja cirinya, pertama kau tidak akan lama-lama berkuasa, dan kedua kau tidak akan punya keturunan.”&lt;br /&gt;Begitulah sejarah yang kakek terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.3 Latar&lt;br /&gt;Latar yang dominan disebutkan pada C-1 adalah latar tempat. Pada C-1 disebutkan tempat-tempat Gunung Lumbung, Sukapura, sebuah tempat di perjalanan, Gunung Tikukur di Bandung, kediaman seorang lurah di Bandung, dan Batuwangi. Gunung Lumbung adalah sebuah gunung di Kecamatan Singajaya, tepatnya sebelah selatan Batuwangi (Desa Ciudian). Gunung Lumbung merupakan tempat pertama kali Eyang Batuwangi bertarung dengan Dipati Ukur. Penutur mengatakan “masalahan di Gunung Lumbung” (paragraf 1 dan 5).&lt;br /&gt;Selain Gunung Lumbung, diceritakan juga Sukapura. Sekarang daerah ini merupakan salah satu kota kecamatan di kabupaten Tasikmalaya. Sebagian penutur yang lain (lihat lampiran transkrip wawancara) justru mengatakan latar yang sama dengan nama yang berbeda, yaitu Manonjaya. Padahal Manonjaya saat ini adalah kota kecamatan yang lain di Tasikmalaya yang jaraknya cukup jauh dari Sukapura. Dalam cerita disebutkan bahwa seorang ratu (raja atau penguasa) mengadakan sebuah sayembara untuk menangkap dan membunuh Dipati Ukur. Perlu diperhatikan bahwa daerah tersebut termasuk wilayah Galuh yang ditaklukan oleh Mataram pada tahun 1595, kemudian di bawah kerajaan Mataram, Kerajaan Galuh bersama dengan kerajaan Sumedang Larang dijadikan wilayah setingkat kabupaten yang dikepalai oleh seorang bupati (Lubis, 2003: 241). Jadi Sukapura pada C-1 adalah sebuah pars pro toto untuk sebuah kekuasaan yang membawahi daerah-daerah di Singajaya saat ini. Penutur mengatakan, “tah dinya kulantaran duka kunaon atuh, da ngaratu teh ka Sukapura kapungkur mah” (paragraf 1).&lt;br /&gt;Setelah menyanggupi untuk membunuh Dipati Ukur, Batuwangi pergi mengejar Dipati Ukur. Di sebuah perjalanan dari Gunung Lumbung menuju Bandung, Eyang Batuwangi bertemu dengan Wira Dadaha. Sesampainya di Bandung, Batuwangi mendatangi kediaman seorang lurah. Di rumah lurah ini Batuwangi menunggu Dipati Ukur dengan sebuah muslihat, yaitu membuat pesta dan memanggil Dipati Ukur turun dari Gunung Tikukur. Jadi kediaman lurah ini mungkin berada di kaki gunung Tikukur.&lt;br /&gt;Setelah Dipati Ukur berhasil dipenggal kepalanya, Eyang Batuwangi menyuruh Wira Dadaha menyerahkan Kepala tersebut kepada raja di Sukapura. Sedangkan Eyang Batuwangi sendiri kembali ke Batuwangi (Ciudian). Rupa-ruapanya, istilah Batuwangi sebagai nama tempat selain istilah yang dipakai sekarang oleh penutur, istilah ini juga telah berlaku saat Eyang Batuwangi masih hidup. Maka untuk membedakan istilah Batuwangi sebagai nama tokoh dan nama tempat, dalam analisis ini dan selanjutnya akan dibedakan menjadi Eyang Batuwangi sebagai nama tokoh, dan Tanah Batuwangi sebagai nama tempat.&lt;br /&gt;Sementara itu, latar waktu tidak dapat dipisahkan dari latar sosial C-1. Latar waktu tidak dijelaskan melalui angka tanggal, bulan dan tahun. C-1 hanya memberikan informasi dalam kutipan berikut.&lt;br /&gt;“Tah hiji waktos anu katampi ku aki mah, kapungkur teh aya anu ngalalana cenah ka dieu teh, Dipati Ukur bade ngarebut nagara. Masalahan di Gunung Lumbung. Tah dinya kulantaran duka kunaon atuh, da ngaratu teh ka Sukapura kapungkur mah. Di dieu teh malah panghuluna teh kapan buyut aki, nya. Ibuna ibu Murnah, Eyang Nurwajan panghuluna teh…” (paragraf 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata yang dicetak miring pada kutipan menunjukkan latar waktu dan latar sosial masyarakat pada masa C-1. Kapungkur berarti zaman dulu atau masa lalu yang telah lama. Kata ngaratu berarti mengabdi kepada ratu, atau penguasa. Kata ini menunjukkan bahwa pada waktu itu masih berlaku sistem pemerintahan kerajaan yang dikuasai oleh seorang raja, ratu atau raja serta ratu bawahan. Panghulu atau penghulu merupakan penguasa daerah di bawah bupati. Ini pun merupakan istilah pemerintahan pada masa lalu.&lt;br /&gt;Menurut catatan sejarah, Dipati Ukur diangkat menjadi wedana bupati di priangan oleh Sultan Agung pada tahun 1625. Ia diberi tugas oleh Sultan untuk menyerang Belanda di Jakarta. Penyerangan tersebut dilakukan pada tanggal 11 September 1628 dan Dipati Ukur dan pasukan Sunda yang dipimpinnya mundur dari medan perang di Jakarta. Dipati Ukur dianggap berkhianat kepada Mataram karena dianggap melarikan diri dari medan pertempuran. Akhirnya Dipati Ukur ditangkap dan dihukum mati pada tahun 1630 (Lubis, 2003: 243-244). Dengan demikian, bila C-1 dikaitkan dengan catatan sejarah tersebut maka latar waktu C-1 mungkin terjadi di antara tahun 1625-1630. Hal ini dikarenakan C-1 sama dengan catatan sejarah oleh Lubis di atas, yaitu mengisahkan penangkapan Dipati Ukur.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.4 Tokoh&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh dalam C-1 antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;Eyang Batuwangi&lt;br /&gt;Eyang Batuwangi seperti dikatakan oleh penutur adalah anak dari Batara Terus Bawa. Masyarakat percaya bahwa makam Batara Terus Bawa berada di Desa Dangiang, kecamatan Singajaya, tepatnya sekitar 5 KM dari makam Batuwangi. Sementara itu, nama Eyang Batuwangi secara lengkap dan disepakati oleh semua penutur adalah Eyang Luluhur Batuwangi Marajahiang Bayu Prabu Sangadipati bin Guru Gantangan.  &lt;br /&gt;Penambahan kata bin Guru Gantangan menyiratkan bahwa Eyang Batuwangi adalah anak dari Guru Gantangan. Seperti kita ketahui, Guru Gantangan adalah putra dari Prabu Siliwangi, raja Pajajaran yang terkenal (Sumarjo, 2000). Penyebutan bin Guru Gantangan ini sekaligus memberikan keragu-raguan kepada kita mengenai siapa ayah dari Eyang Batuwangi. Di lain pihak, kuncen Batuwangi mengatakan bahwa Batara Terus Bawa adalah nama lain dari Eyang Batuwangi sendiri (lihat TW4).&lt;br /&gt;Eyang Batuwangi adalah orang yang cukup penting (menak) di wilayahnya. Ia juga merupakan orang yang mempunyai kesaktian yang luar biasa sehingga dipanggil untuk mengikuti sayembara. Dalam cerita dapat dilihat misalnya, Saur Eyang Surapati teh, “moal aya anu meunangkeun deui iwalti menak Batuwangi” (Paragraf 2). Selain itu, ia juga begitu dihormati dan disegani, panggilan Raden disematkan kepadanya. “Oh geuning Raden, yeuh! Raden ayeuna mah nyanggakeun weh ka Raden” (Paragraf 10).&lt;br /&gt;Menurut kuncen, Batuwangi juga dikenal dengan nama-nama lain di tempat yang berbeda. Misal di Cibentang dikenal dengan nama Kyai Haji Karang Bentang, di Sirah Ciudian dikenal dengan nama Batara Terus Bawa, dan di Bojong dikenal dengan nama Rangga Buana. Hal ini dibuktikan dengan adanya petilasan pada masing-masing tempat.&lt;br /&gt;Batuwangi adalah orang asli Batuwangi. Tempat ini sekarang tinggal sebidang tanah tidak lebih luas dari satu hektar di desa Ciudian. Di tengah-tengah tanah inilah makam Batuwangi berada. Kemudian Batuwangi pergi ke Mataram untuk belajar agama. Setelah cukup mapan dalam bidang agama dan kesaktian, Batuwangi kembali ke Ciudian, kemudian menikah dengan seorang putri kerajaan Galuh Pakuan yang berkedudukan di Panjalu. Putri tersebut bernama Nyi Mas Gedung Waringin. Darinya ia dikaruniai dua orang anak, masing-masing adalah Seh Keti Nurwahid yang makamnya ada di Panyalahan dan Eyang Margawangsa yang dimakamkan di Sodong Hilir.&lt;br /&gt;Kemudian Batuwangi tinggal di Sumedang. Di sana ia menikah dengan Ibu Ratu Harisbaya. Ratu Harisbaya adalah saudara Panembahan Senapati, ayah Sultan Agung dari Mataram (Hardjasaputra, 2004:15). Darinya ia dikaruniai empat orang anak, namun kuncen hanya mengetahui dua diantaranya. Mereka adalah Sembah Dalem Adipati Wiranata Kusumah dan raden Wijaya Kusuma. Diterangkan bahwa Wiranata Kusumah makamnya ada di Kompleks makam Bupati Bandung (Dalem Kaum). Sedangkan Raden Wijaya Kusumah adalah yang membuat sumber air yang kini dikenal dengan Sumur Bandung (TW-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Eyang Surapati&lt;br /&gt;Eyang Surapati mengusulkan kepada Raja di Sukapura untuk memanggil Eyang Batuwangi. Eyang Surapati berasal dari tempat yang sama dengan Eyang Batuwangi, yaitu dari Ciudian. Pada saat ini masyarakat mengenal Eyang Surapati sebagai karuhun yang makamnya berada di desa Cigintung, Singajaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nya Eyang Surapati anu ti dieu teh kaditu. Nya tilu belas jalmi anu nuju di dinya teh. Saur Eyang Surapati teh, “moal aya anu meunangkeun deui iwalti menak Batuwangi” (Paragraf 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Raja&lt;br /&gt;Raja pada konteks C-1 berarti penguasa wilayah di Sukapura. Padahal pada kenyataannya, Sukapura hanyalah sebuah wilayah yang tidak terlalu besar. Lagi pula wilayah itu merupakan wilayah kerajaan Galuh yang telah dibentuk kabupaten di bawah kerajaan Mataram. Jadi raja pada C-1 berarti, 1) penguasa wilayah semacam Bupati, atau 2) raja dari daerah lain (Mataram) yang datang ke Sukapura sebagai wilayah kekuasaannya untuk mengadakan sayembara.  Sayembara itu sendiri dilaksanakan untuk menyelesaikan pemberontakan Dipati Ukur. Ia menjanjikan hadiah kepada siapa pun yang berhasil membunuh Dipati Ukur berupa jabatan yang sangat tinggi. Alasan kedua diperkuat dengan penuturan Aki Suha (Nara Sumber 3) sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu Kanjeng Sinuwun diserang ku musuh nyaeta Dipati Ukur tea, raja baheula ku kitu teh sayembara. Nya ngungsi ka dieu ka Sukapura, kitu saurna teh. Nya di Tasik sieun ku musuh teh, kitu. Nya sayembara, saha nu meunangkeun musuh nyaeta Dipati ukur tea, engke ku Kami diangkat dalem weh kitu… (TW 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Wira Dadaha.&lt;br /&gt;Wira Dadaha adalah seorang gandek, atau pembantu yang mengawal Eyang Batuwangi sejak diajak oleh Eyang Batuwangi di perjalanan menuju Bandung. Wira Dadaha mengkhianati Eyang Batuwangi dengan mengakui jasa-jasa Eyang Batuwangi sebagai keberhasilan dia sendiri.  Sampai saat ini nama Wira Dadaha diabadikan menjadi sebuah nama kota kecamatan, yaitu Dadaha di Tasik Malaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Dipati Ukur&lt;br /&gt;Dipati Ukur dalam C-1 diceritakan sebagai seorang pengembara yang datang dengan tujuan merebut negara atau melakukan pemberontakan. Hal ini tampak dalam salah satu bagian cerita, “Tah hiji waktos anu katampi ku aki mah, kapungkur teh aya anu ngalalana cenah kadieu teh, Dipati Ukur bade ngarebut nagara” (paragraf 1).&lt;br /&gt;Sementara itu, pada kalangan masyarakat Sunda pada umumnya Dipati Ukur dikenal masyarakat sebagai pahlawan (Ekajati, 1982: 4). Hal ini misalkan tampak dari penamaan salah satu jalan utama di kota Bandung. Dalam naskah Leluhur Bandung karya Raden Jaya Kusumah yang diteliti oleh Ekadjati (1982), Dipati Ukur terdapat dalam silsilah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Prabu Siliwangi&lt;br /&gt;    Guru Gantangan&lt;br /&gt;    Prabu Lingga Pakuan&lt;br /&gt;    Prabu Pandaan Ukur                           Pangeran Cahaya Luhur (Banyumas)&lt;br /&gt;    Kiai Dipati Agung                              Pangeran Cahyana&lt;br /&gt;    Nyai Gedeng Ukur             x              Dipati Ukur&lt;br /&gt;Bagan 4.1: Silsilah keturunan Dipati Ukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silsilah di atas menunjukkan bahwa Dipati Ukur menikah dengan keturunan kelima dari Prabu Siliwangi. Sedangkan menurut Ranggawaluya (1980), Dipati Ukur adalah cucu dari Raja Pajajaran, Sri Baduga Maharaja.&lt;br /&gt;Dipati Ukur meninggalkan Pasundan menuju Mataram untuk mengabdi kepada Sultan Agung. Setelah ia menjadi pejabat tinggi, ia diberi tugas untuk menaklukan Sampang di Madura. Namun tugas ini gagal dilaksanakan oleh Dipati Ukur. Karena kegagalan ini seharusnya Dipati Ukur mendapat hukuman, tapi Dipati Ukur diberi kesempatan untuk memperbaiki kegagalannya sekali lagi. Dipati Ukur diharuskan membawa rakyat Sunda untuk menyerang Belanda di Jakarta. Dipati Ukur menyanggupi tugas ini dengan membawa ribuan orang Sunda untuk menyerang Jakarta. Lagi-lagi penyerbuan ini pun gagal. Pasukan Dipati Ukur mundur. Ternyata pemunduran ini dianggap pelarian dari medan perang. Oleh karena itu, Dipati Ukur harus dihukum mati. Maka Sultan Agung mengirim pasukan untuk menangkap Dipati Ukur.&lt;br /&gt;Sejak itulah terjadi peperangan antara pasukan Mataram (Jawa) melawan pasukan Dipati Ukur (Sunda). Tidak ada kesimpulan yang pasti mengenai tertangkap tidaknya Dipati Ukur. Ada yang meriwayatkan Dipati Ukur tertangkap dan dihukum mati oleh Mataram, ada yang meriwayatkan Dipati Ukur meninggal karena sakit, dan ada pula yang meriwayatkan Dipati Ukur ngahiang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Lurah&lt;br /&gt;Lurah adalah seorang penguasa wilayah desa. Dalam C-1 lurah memiliki kediaman di dekat Gunung Tikukur, Bandung. Ialah yang membantu Eyang Batuwangi untuk menyiapkan penyambutan terhadap Dipati Ukur. Lurah inilah yang diutus untuk memanggil Dipati Ukur dari atas Gunung Tikukur ke rumahnya yang telah disiapkan sebuah pesta. Ternyata dalam jamuan makan pesta tersebut Dipati Ukur disergap oleh Eyang Batuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugi ka Bandung teh, angkat weh ka lurah. “Lurah, Dipati Ukur rek ngarebut nagara, ayeuna aya di Gunung Tikukur, kade eta jalema ngarti. Di dieu pek nyieun hajat sing gede, engke mun geus asak pasakan panggil Dipati Ukur ka dieu” (paragraph 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1.5 Skema Aktan dan Model Fungsional&lt;br /&gt;Hubungan Antar tokoh dalam C-1 tidak terlalu rumit. Rangkaian peristiwa tersusun untuk mencapai satu tujuan utama, yaitu membunuh Dipati Ukur. Dengan keberhasilan membunuh Dipati Ukur, Batuwangi juga berhak mendapatkan hadiah dari raja, yaitu jabatan yang tinggi di Sukapura. Jadi, yang ditekankan dalam penuturan C-1 adalah keberhasilan Batuwangi membunuh Dipati Ukur. Adapun jabatan yang dijanjikan oleh raja hanya merupakan unsur yang dipertaruhkan sebagai imbalan. Oleh karena itu, hubungan antar tokoh dalam C-1 dapat diuraikan dalam satu aktan utama dan satu aktan bawahan. &lt;br /&gt;Aktan Utama menunjukkan adanya karsa yang muncul dari raja (pengirim) untuk menyelesaikan permasalahan dengan Dipati Ukur. Raja menginginkan Dipati Ukur mati dan dipenggal kepalanya. Akan tetapi, raja merasa tidak sanggup untuk menyelesaikan masalah ini dengan tangannya sendiri. Oleh karena itu, raja mengadakan sayembara. Dengan adanya sayembara inilah raja hanya menunggu hasil, yaitu menerima kepala Dipati Ukur yang telah dipenggal kelak. Jadi, raja  selain sebagai pengirim, juga berfungsi sebagai penerima. Orang yang mendatangi sayembara di Sukapura dari Tanah Batuwangi adalah Eyang Surapati. Dialah yang mengusulkan kepada raja agar Eyang Batuwangi dipanggil untuk mengikuti sayembara. Dalam hal ini Eyang Surapati dapat dikelompokkan sebagai pembantu subjek. Selain Eyang Surapati, Eyang Batuwangi juga dibantu oleh Wira Dadaha yang menyertainya ke Bandung selama tiga bulan. Di Bandung, Eyang Batuwangi pun dibantu oleh seorang lurah dalam menyusun muslihat penyergapan Dipati Ukur. Jadi, Wira Dadaha dan lurah juga dapat dikelompokkan sebagai pembantu.  &lt;br /&gt;Satu-satunya fungsi yang menghalangi subjek (Eyang Batuwangi) adalah kesaktian Dipati Ukur. Dalam C-1 dikisahkan bahwa Dipati ukur adalah orang yang gagah dan dapat terbang. Kegagahan Dipati Ukur memaksa Eyang Batuwangi melakukan pengejaran panjang selama tiga bulan di Bandung. Sebelumnya Dipati Ukur lolos dari pertarungan dengannya di Gunung Lumbung.&lt;br /&gt;Penjelasan di atas dapat dirangkum dalam sebuah skema aktan utama sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pengirim                                 objek                                     penerima&lt;br /&gt;   Raja                                 Dipati Ukur                                  Raja         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pembantu                                subjek                                  penentang&lt;br /&gt;        Eyang Surapati                        Batuwangi                            kesaktian DU&lt;br /&gt;          Wira Dadaha&lt;br /&gt;                 Lurah&lt;br /&gt;Bagan 4.2: skema aktan utama C-1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skema aktan bawahan adalah lanjutan dari skema aktan utama, yaitu, menggambarkan usaha Eyang Batuwangi merebut haknya yang telah dirampas oleh Wira Dadaha yang licik. Skema aktan bawahan C-1 adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pengirim                                 objek                                     penerima&lt;br /&gt;          Batuwangi                        Hadiah dari raja                          Batuwangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pembantu                                subjek                                  penentang&lt;br /&gt;                  Ø                                  Batuwangi                            para jagoan silat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagan 4.3: skema aktan bawahan C-1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas karsanya sendiri Eyang Batuwangi datang ke Sukapura. Ia mengetahui bahwa haknya mendapat hadiah yang dijanjikan raja telah dirampas oleh Wira Dadaha. Seharusnya Batuwangi menerima jabatan sebagai imbalan atas keberhasilannya membunuh Dipati Ukur. Dalam hal ini Batuwangi berfungsi sebagai subjek, pengirim, sekaligus penerima, karena Batuwangi berjuang sendiri, atas karsa sendiri, dan ia sendiri yang seharusnya menerima hasil perjuangannya ini. Jadi, objek yang diusahakan oleh subjek dalam skema di atas adalah jabatan yang dijanjukan oleh raja sebagai hadiah atas keberhasilan Eyang Batuwangi memenuhi kesepakatan dalam sayembara.&lt;br /&gt;Dalam usaha mendapatkan haknya, Batuwangi tidak dibantu oleh siapa pun. Maka dalam skema di atas tidak ada fungsi sebagai pembantu. Sebaliknya, Batuwangi sempat dihadang oleh para jagoan silat di kantor pemerintahan Sukapura. Para jagoan silat menghalangi usaha subjek, maka mereka tergolong penentang.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, alur C-1 dapat dijelaskan dengan model fungsional berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;Situasi awal&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;Transformasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;Situasi akhir&lt;br /&gt;Tahap uji kecakapan&lt;br /&gt;Tahap utama&lt;br /&gt;Tahap kegemilangan&lt;br /&gt;Raja menga-&lt;br /&gt;Dakan&lt;br /&gt;Sayem-bara untuk menge-nyahkan Dipati Ukur&lt;br /&gt;·  Pertaru-ngan Batuwangi dengan Dipati Ukur di Gunung Lumbung&lt;br /&gt;·  Dipati Ukur melemparkan dua ekor kerbau ke arah Batuwangi,&lt;br /&gt;·  Tindakan Batuwangi membawa Wira Dadaha.&lt;br /&gt;·  Kerja sama dengan lurah untuk menyer-gap Dipati Ukur&lt;br /&gt;·  Keberhasilan Batuwangi  memenggal kepala Dipati Ukur.&lt;br /&gt;·  Tindakan Batuwangi menitipkan kepala Dipati Ukur pada Wira Dadaha.&lt;br /&gt;·  Pengkhiana-tan gandek yang mengaku telah membunuh Dipati Ukur&lt;br /&gt;·  Kedatangan Batuwangi ke Sukapura untuk menuntut hak-haknya&lt;br /&gt;·  Batuwangi tidak menerima haknya menjadi pejabat. Namun, ia memberi semacam kutukan bagi Wira Dadaha: tidak kekal menjadi penguasa, dan keturunannya tidak lestari&lt;br /&gt;Bagan 4.4: model fungsional C-1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap situasi awal, diceritakan raja di Sukapura mengalami kesulitan menghadapi Dipati Ukur yang datang ke wilayahnya. Oleh karena, itu raja mengadakan sayembara. Isi sayembara itu adalah siapa saja yang berhasil membunuh Dipati Ukur akan diberi jabatan tinggi.&lt;br /&gt;Selanjutnya pada tahap uji kecakapan, atas usul dari Eyang Surapati, Eyang Batuwangi dipanggil untuk mengikuti sayembara. Akhirnya Batuwangi menyatakan kesanggupannya mengikuti sayembara. Setelah itu berangkatlah Batuwangi mencari Dipati Ukur di Gunung Lumbung. Terjadilah pertarungan hebat di antara keduanya yang melibatkan kesaktian masing-masing. Dipati Ukur melemparkan kerbau betina ke Batuwangi, namun meleset. Kemudian ia melemparkan kerbau jantan, meleset lagi. Sampai di sini Batuwangi belum berhasil melaksanakan tugasnya karena Dipati Ukur melarikan diri ke Bandung.&lt;br /&gt;Barulah pada tahap utama Batuwangi berhasil menjalankan tugasnya. Ia mengajak Wira Dadaha untuk menemaninya dalam pengejaran Dipati Ukur ke Gunung Tikukur, Bandung. Di Bandung Batuwangi menemui lurah. Di rumah lurah ini Batuwangi menyusun siasat untuk melumpuhkan Dipati Ukur. Lurah mau diajak kerja sama oleh Batuwangi. Ia membuat pesta di rumahnya dan mengundang Dipati Ukur untuk turun Gunung. Datanglah Dipati Ukur ke rumah lurah. Dipati Ukur ditangkap dan dilumpuhkan. Setelah itu Dipati Ukur dipenggal kepalanya tanpa banyak perlawanan lagi. Akan tetapi Batuwangi teringat akan keluarganya di Ciudian. Sebelum menghadap raja ia pulang ke kampung halamannya tersebut, sedangkan kepala Dipati Ukur ia titipkan kepada Wira Dadaha.&lt;br /&gt;Pada tahap kegemilangan, Batuwangi dikhianati oleh Wira Dadaha. Saat menghadap raja, Wira Dadaha mengaku bahwa dirinya sendiri yang telah membunuh Dipati Ukur, sedangkan Batuwangi dikabarkannya telah meninggal dunia. Dengan pengakuan yang disertai adanya bukti kepala Dipati Ukur yang ia bawa, Wira Dadaha dinobatkan menjadi bupati di Sukapura. Pada tahap cobaan membawa kegemilangan ini raja sebagai penerima telah menerima hasil dari perjuangan subjek, yaitu kepala Dipati Ukur yang didapatkan oleh Batuwangi. Akan tetapi,di lain pihak Batuwangi tidak mendapatkan haknya menjadi pejabat karena ia dikhianati oleh Wira Dadaha. Oleh karena itu Batuwangi datang menghadap raja.&lt;br /&gt;Pada situasi akhir, Batuwangi tidak menerima haknya menjadi pejabat. Namun, ia memberi semacam kutukan bagi Wira Dadaha dan keturunannya supaya tidak kekal menjadi penguasa, dan keturunannya tidak lestari. Kutukan ini dipercaya oleh masyarakat masih berlaku sampai sekarang. Setiap anak keturunan Wira Dadaha tidak berumur panjang, bahkan banyak yang meninggal pada masa muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nya saurna kieu, “Ama, abdi mah moal nganyenyeri batur, da abdi oge ayeuna nyeri, ngan sakieu weh ayeuna mah, pek weh tuluykeun ku maneh, karunya. Ngan rek nyirian, hiji ulah awet jeneng, dua ulah boga turunan” (paragraf 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.2 Analisis Struktur Cerita 2 (C-2)&lt;br /&gt;4.2.1 Teks C-2&lt;br /&gt;Tah ari lalakona ulah ngadahar sirah hayam teh kieu. Kapungkurna Eyang Batuwangi teh kagungan putra istri, rakana pameget. Jadi geus ti ditu keneh, jadi aya paripaos pameget mah sok kaliwat ku istri, nya. Tapi da teu nanaon ti zaman Kangjeng Nabi Adam oge. Saha we nu tiheula aya milik. Tah cariosna ditikahkeun. Tah tos ditikahkeun, huap lingkung&lt;br /&gt;Ditikahkeuna di Batuwangi teh ceuk sakaol kitu nya, ka ieu, dalem. Ka putra dalem Sukapura ceuk sakaol. Sukapura teh Sukaraja, bawahan Tasik. Dalem kitu nya, sanes karuhun. Tah saparantos ditikahkeun, huap lingkung, ngariung. Ujang, bapana kitu nya, dahuan upamina ieu teh kitu nya, tah lanceuk istri kitu nya, tah keur huap lingkung, ieu teh ngegel, dahuan tea ngegel sirah hayam, mecret ka ieu pamajikanana, upama tea mecret kana susuna. Dirongkong kainya, diusap ku rakana teh bakat ku deudeuh raka ka itu. Diusap ku rakana, lanceuk kitu, ku lanceuk.&lt;br /&gt;Tah ieu teh timuru. “Wah bogoheun dulurna teh”, cenah. Harita keneh di tugel, bess weh ku keris nya. Nunceb. Kabaheulaan mah ieu atuh di beber susuna. Ditubles. Tah kumargi sakitu, alhasil eta teh kulantaran gujrud kitu, teu jadi etana teh. Jadi istrina teh kitunya bungkrak. Tah kitu, jadi sirah hayam teh ku Eyang Batuwangi teh dilarang. Cadu kana sirah hayam, sanes haram (TW 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.2.2 Terjemahan C-2&lt;br /&gt;Nah cerita tidak boleh memakan kepala ayam itu begini. Dulu Eyang Batuwangi mempunyai seorang anak perempuan dan laki-laki kakaknya. Jadi memang sejak dulu biasa seorang laki-laki itu didahului menikah oleh adik perempuannya. Begitulah sejak Zaman Nabi Adam juga, siapa yang mendapat rezeki, menikah lebih dulu. Nah ceritanya dinikahkan dengan acara huap lingkung makan bersama.&lt;br /&gt;Dinikahkan di Batuwangi konon katanya dengan putra dalem Sukapura, katanya. Sukapura itu Sukaraja, daerah Tasik Malaya. Dalem dia itu, bukan nenek moyang. Nah setelah dinikahkan, acara huap lingkung, makan bersama. Anda, Bapaknya, dan saudara ipar umpamanya (membuat setting dengan orang-orang yang hadir dalam wawancara, termasuk penulis), dan kakak si perempuan. Saat acara huap lingkung itulah saudara ipar itu menggingit kepala ayam. Ternyata bagian kepala ayam itu terpercik ke dada pengantin perempuan. Lalu diusap oleh kakaknya.&lt;br /&gt;Ternyata si pengantin laki-laki cemburu, “wah ternyata dia menyukai istri saya” katanya. Waktu itu juga ditusuk dengan keris. “bess!” menancaplah keris itu. Memang zaman dulu itu dada perempuan itu diikat dengan selendang. Nah, oleh karena itu, karena terjadi kekacauan, segalanya menjadi gagal. Begitulah, jadi memakan kepala ayam itu dilarang oleh Eyang Batuwangi, bukan haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.2.3 Latar&lt;br /&gt;Latar yang paling menonjol pada C-2 adalah latar sosial. Sementara itu, latar tempat dan latar waktu tidak banyak diungkapkan. Satu-satunya hal yang menunjukkan latar tempat adalah bahwa pernikahan tersebut dilaksanakan di Tanah Batuwangi. Hal ini sesuai dengan tradisi Sunda, yaitu rumah calon pengantin wanita yang menjadi tuan rumah acara pernikahan.&lt;br /&gt;Bila melihat latar waktu dan latar sosial C-2, waktu itu Eyang Batuwangi masih hidup. Ia sendiri yang menikahkan putrinya. Pada masa itu masih ada sistem pemerintahan dengan penguasa daerah seorang dalem sehingga dalam cerita disebutkan dalem Sukapura. Selain itu C-2 memberi informasi bahwa pada masa itu pernikahan dilakukan dengan adat Sunda yang melakukan acara huap lingkung. Gambaran wanita pada waktu itu diwakili oleh pengantin perempuan yang membungkus tubuhnya dengan selendang, sedangkan laki-laki waktu itu masih biasa membawa keris. Jadi latar waktu dan latar sosial C-2 masih dekat dengan latar C-1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.2.4 Tokoh&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh C-2 antara lain sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Batuwangi&lt;br /&gt;Identitas Batuwangi pada C-2 sama dengan Batuwangi pada C-1. sebagian masyarakat berpendapat bahwa Eyang Batuwangi adalah asli orang Sunda. Namun sebagian lagi berpendapat bahwa Eyang Batuwangi berasal dari Mataram. Ia termasuk penyiar agama yang datang bersama pasukan Mataram setelah kalah perang di Jayakarta (Jakarta). Di dalam naskah Punika Ikilah Sajarah Batura Terus Bawa dijelaskan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punika carita Batara Terus Bawa atawa Terus Rasa legi sumping ka Batuwangi. Nuli tatapa ing Gunung Batu angkat nama Batara Deugdeug Jaya, tapa ing Pasir Malang, Batara Langlang Buana, tapa ing Gunung Lumbung nama Batara Payung Buwana. Tapa ing Bojong Batara Sangga Buana, tapa ing Sirah Cibatuwangi nama Hurip Buana, tapa ing Sirah Cidangiang nama Batara Cahaya Buana, tapa ing Gunung Cikuray nama Batara Ider Buana. Nuli mulih ka Batuwangi, ka sangkan mulih ngersakeun damel gosali. Lawas-lawas disampeur ku Susunan Batuwangi sarta dipiwarang ngawin putrana anu Larang. Sanggeus kitu teras dikawin Embah Larang. Ari geus kawin disalin nama Prabu Sangadipati. Nuli puputra satunggal nama Santoan Jaba. Ari embah larang nagara wetan. Wasta Santoan Anggari. Puputra Santoan Utama, Santoan Lurah, Santoan Amareja, Demang Sacapati. Garwana di Galuh Nyi Mas Gedung Waringin (Ratu Galuh Pakuan Pajajaran). Meunang putra hiji (ti Galuh) nama Cucuk Yudanagara. Nuli angkat ka Sumedang, ngalap deui garwa nama Nyi Mas Gedung Haris Baya (nyaeta Ibu Ratu Haris Baya anu di Sumedang, di Dayeuh Luhur). Meunang putra hiji (ti ieu teh, Nyi Mas ieu teh, naon Ibu Ratu Haris Baya teh) nama Ngabei Sacanaya (TPN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam C-2 Batuwangi dikisahkan menikahkan anak perempuannya dengan putra dalem Sukapura. Karena terjadi sebuah prahara yang merenggut korban jiwa, Batuwangi mengeluarkan sumpah serapah agar anak cucunya kelak pantang memakan kepala ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.      Pengantin perempuan&lt;br /&gt;Pengantin perempuan dalam C-2 adalah anak perempuan Batuwangi. Namun penutur tidak menyebutkan nama perempuan tersebut dengan alasan tidak tahu dan lupa. Kuncen pun tidak mengetahui nama perempuan ini karena memang tidak tercantum dalam naskah yang dikuasainya. Anak perempuan Batuwangi ini bersedia menikah meskipun kakaknya yang laki-laki belum menikah. Jadi ia mendahului kakaknya. Keterangan ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapungkurna Eyang Batuwangi teh kagungan putra istri, rakana pameget. Jadi geus ti ditu keneh, jadi aya paripaos pameget mah sok kaliwat ku istri, nya. Tapi da teu nanaon ti zaman Kangjeng Nabi Adam oge” (paragraf 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kasus, banyak masyarakat Sunda yang memandang negatif pada seorang anak yang menikah lebih dulu daripada kakaknya. Tindakan tersebut lazim disebut ngarunghal. Dalam hal ini, C-2 juga menolak nilai budaya ngarunghal sebagai tindakan yang negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Anak laki-laki Batuwangi&lt;br /&gt;Anak laki-laki Batuwangi ini adalah kakak dari pengantin perempuan. Sama halnya dengan terhadap adiknya, penutur tidak mengetahui sama sekali nama dan keterangan lain mengenai tokoh ini. Namun melalui C-2 kita dapat mengetahui bahwa ia adalah seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya. Dengan alasan sangat menyayangi adiknya, ia menyeka bagian kepala ayam yang menempel di dada adiknya. Namun tindakan ini disalah artikan oleh saudara iparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pengantin laki-laki&lt;br /&gt;Pengantin laki-laki adalah anak Dalem Sukapura. Dia adalah pemuda yang pencemburu dan tanpa perhitungan. Dalam C-2 diceritakan, …tah ieu teh timuru. “Wah bogoheun dulurna teh”, cenah. Harita keneh ditugel, bess weh ku keris nya.  Nunceb (paragraf 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.2.5 Skema Aktan dan Model Fungsional&lt;br /&gt;            C-2 menceritakan sebuah prahara dalam pesta pernikahan. Rangkaian peristiwa dan keterlibatan tokoh dalam C-2 dapat dijelaskan melalui skema aktan dan model fungsional berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pengirim                                 objek                                     penerima&lt;br /&gt;          Batuwangi                    kehidupan keluarga                   pengantin laki-laki&lt;br /&gt;                                        yang bahagia                      dan pengantin wanita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pembantu                                subjek                                  penentang&lt;br /&gt;               Ø                            pengantin laki-laki                       kecemburuan      &lt;br /&gt;                                               dan pengantin wanita                 pengantin laki-laki                                                              &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagan 4.5: skema aktan C-2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Batuwangi menikahkan putrinya dengan putra dalem Sukapura. Oleh karena itu dalam C-2 Batuwangi berfungsi sebagai pengirim. Subjek yang menjalankan pernikahan adalah tentu saja calon pengantin perempuan dan calon pengantin laki-laki, yaitu putri Batuwangi dan putra dalem Sukapura. Tujuan yang menjadi objek dalam skema aktan C-2 adalah kehidupan keluarga yang bahagia. Tujuan tersebut selaras dengan tujuan yang ingin dicapai dalam sebuah pernikahan, yaitu membentuk keluarga yang sakinah, mawadah, dan warrahmah.&lt;br /&gt;Dalam C-2 tidak diceritakan adanya fungsi pembantu yang memuluskan usaha subjek mendapatkan objek. Sebaliknya, muncul sebuah halangan yang mengakibatkan kegagalan pernikahan. Kecemburuan putra dalem Sukapura yang berlebihan mengakibatkan terjadinya prahara yang merenggut nyawa. Akhirnya, subjek sekaligus penerima, yaitu pengantin laki-laki dan pengantin perempuan tidak sempat mengalami kebahagiaan hidup berkeluarga.&lt;br /&gt;            Untuk lebih jelasnya, alur C-2 akan dijelaskan kembali dalam struktur alur dalam model fungsional C-2 berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;Situasi awal&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;Transformasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;Situasi akhir&lt;br /&gt;Tahap uji kecakapan&lt;br /&gt;Tahap utama&lt;br /&gt;Tahap kegemilangan&lt;br /&gt;Batuwangi menikahkan putrinya dengan putra dalem Sukapura&lt;br /&gt;acara huap lingkung dalam pesta pernikahan&lt;br /&gt; Saudara ipar menyeka bagian kepala ayam yang ia gigit dan terpercik pada dada pengantin perempuan&lt;br /&gt;Pengantin laki-laki membunuh saudara iparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·  Pernikahan yang telah terjadi tidak dapat dilanjutkan karena kedua pengantin meninggal dunia.&lt;br /&gt;·  Batuwangi melarang keturunannya memakan kepala ayam&lt;br /&gt;Bagan 4.6: model fungsional C-2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Situasi awal C-2 menunjukkan adanya harmoni yang belum ada tanda-tanda yang mengancam keseimbangan. Batuwangi menikahkan puterinya dengan putra dalem Sukapura. Tahap uji kecakapan terjadi pada acara pernikahan. Setelah akad nikah selesai, pada pernikahan adat Sunda biasa diadakan acara huap lingkung. Dalam acara huap lingkung ini biasanya pengantin memakan ayam bakar (bakakak hayam).&lt;br /&gt;            Kemudian, pada tahap cobaan utama, muncul kecemburuan yang sangat besar dan keterlaluan pada hati pengantin laki-laki. Ia cemburu melihat kakak iparnya menyeka bagian kepala ayam yang memerciki dada istrinya sendiri. Akhirnya pada tahap kegemilangan pengantin laki-laki membunuh kakak iparnya, yaitu kakak dari istrinya sendiri.&lt;br /&gt;Pada situasi akhir, tujuan menciptakan sebuah kehidupan keluarga yang bahagia tidak dapat tercapai. Kedua pengantin telah meninggal dunia. Sebagai akibat dari peristiwa ini, Eyang Batuwangi mengeluarkan sumpah serapah bahwa dia dan semua keturunannya kelak pantang (cadu) makan kepala ayam.&lt;br /&gt;Sumpah tersebut menunjukkan bahwa Eyang Batuwangi sebagai penyebar islam di wilayahnya tidak mengubah atau merusak tatanan sosial budaya yang telah ada. Akan tetapi, Eyang Batuwangi telah menambah   sebuah aturan yang menjadi budaya. Eyang batuwangi tidak melarang adanya acara huap lingkung dalam acara pernikahan keturunannya. Acara tersebut memang dinilai penuh dengan makna simbolik oleh masyarakat Sunda pada umumnya. Acara huap lingkung adalah sebuah bagian dalam rangkaian upacara pernikahan adat Sunda yang mempunyai makna simbolis kehidupan suami istri yang harmonis, saling mencintai, saling merindukan dan sebagainya (Bratawidjaja, 2002: 54).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.3 Analisis Struktur Cerita 3 (C-3)&lt;br /&gt;4.3.1 Teks C-3&lt;br /&gt;Cenah aya nu nyerang, nu gagah ti Tasik teh ngirimkeun gunung ka dieu. Nya aya nu ngawartosan, “itu gunung nyurungkuy ka dieu,” cenah.&lt;br /&gt;“wah dek nyerang ka dieu.”&lt;br /&gt;Nya Anjeuna ngiringkeun batu, ngeungkeuy weh batu rek ngaduan gunung ka ditu. Gunung ningali batu ngeungkeuy, teu sanggupeun gunung ngarumpak kana batu. Atuh stop weh, murungkut. Di-stop weh batu teh.&lt;br /&gt;Dugi ka ayeuna di Batuwangi teh taringgul batu. Eta teh tilasna ngalawan Gunung Murungkut. Gunung Murungkut teh kiduleun Gunung Lumbung (TW 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.3.2 Terjemahan C-3&lt;br /&gt;Katanya ada yang menyerang, seseorang yang gagah dari Tasik mengirimkan gunung ke sini. Kemudian ada yang memberi tahu, “itu ada gunung meluncur ke sini”, katanya.&lt;br /&gt;“wah ada penyerangan ke sini”.&lt;br /&gt;Lalu Beliau (Batuwangi) menggiring batu. Berbondong-bondonglah batu akan menghadapi gunung. Melihat batu yang banyak, gunung tidak berani menabrak batu. Lalu gunung berhenti dan murungkut (mengerut). Akhirnya gunung dapat dihentikan.&lt;br /&gt;Sampai sekarang di Batuwangi itu bergelimpangan batu. Batu-batu itu bekas melawan Gunung Murungkut. Gunung Murungkut itu sebelah selatan Gunung Lumbung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.3.3 Latar&lt;br /&gt;Latar tempat dalam C-3 berkisar antara daerah tasik Malaya hingga Batuwangi. Dari Tasik Malaya seorang yang gagah mengirim Gunung ke Batuwangi. Sebaliknya dari arah Batuwangi, Eyang Batuwangi mengangkat batu-batu untuk menghalangi gunung. Akibatnya gunung yang meluncur bewrhenti di sebelah selatan Gunung Lumbung, sedangkan batu-batu yang diangkat Batuwangi kini bergelimpangan di sekitar makam Batuwangi.&lt;br /&gt;Latar waktu sama sekali tidak disebutkan secara spesifik. Yang pasti pada masa itu Eyang Batuwangi masih hidup. Dari C-3 kita juga dapat mengetahui bahwa pada saat itu manusia memiliki kehebatan yang luar biasa sehingga bisa mengendalikan gunung dan batu-batu. Bagian awal C-3 menunjukkan bahwa pada waktu itu di batuwangi telah ada kelompok masyarakat, buktinya ketika ada gunung yang meluncur, ada seseorang yang memberitahu Batuwangi. Hal ini tampak pada paragraf pertama, …ti Tasik teh ngirimkeun gunung ka dieu. Nya aya nu ngawartosan, “itu gunung nyurungkuy ka dieu,” cenah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.3.4 Tokoh&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh C-3 antara lain:&lt;br /&gt;a. Seseorang yang gagah dari Tasik Malaya&lt;br /&gt;Seseorang ini tidak dijelaskan identitasnya. Penutur hanya mengetahui bahwa seseorang ini mempunyai kesaktian yang sangat tinggi sehingga dapat mengendalikan sebuah gunung. Dalam C-3, seseorang yang gagah dari Tasik Malaya ini adalah seorang musuh yang ingin menyerang tanah Batuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pembawa berita&lt;br /&gt;Pembawa berita juga tidak dikatakan identitasnya. Ia memberitahu Eyang Batuwangi bahwa pada saat itu ada penyerangan dari Tasik berupa kedatangan sebuah gunung. Melihat konteks C-3, pembawa berita merupakan perwakilan dari masyarakat Batuwangi yang hidup pada saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.  Eyang Batuwangi&lt;br /&gt;Eyang Batuwangi tinggal di tanah Batuwangi. Ia adalah orang yang sakti, sehingga ketika ada gunung yang datang, seseorang memberitahukan masalah ini kepadanya, dan bukan kepada orang lain. Dalam C-3 dapat diketahui bahwa Eyang Batuwangi merupakan seseorang yang dapat diandalkan untuk menyelesaikan permasalahan di tanah Batuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.3.5 Skema Aktan dan Model Fungsional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pengirim                                 objek                                         penerima&lt;br /&gt; Masyarakat Batuwangi              Kedamaian dan                       Masyarakat Batuwangi&lt;br /&gt;                            ketentraman tanah Batuwangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pembantu                                subjek                                        penentang&lt;br /&gt;      Pembawa berita                  Eyang Batuwangi                       Seseorang yang sakti&lt;br /&gt;                                                                                                        dari Tasik Malaya&lt;br /&gt;                                    &lt;br /&gt;Bagan 4.7 : skema aktan C-3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap masyarakat ingin mempertahankan kedamaian dan ketentraman daerahnya. Demikian juga dengan masyarakat Batuwangi pada C-3. Oleh karena itu masyarakat Batuwangi berfungsi sebagai pengirim sekaligus penerima, karena kedamaian dan ketentraman daerah merupakanhak-haknya. Eyang Batuwangi merupakan seseorang yang mempunyai jiwa pemimpin dan tanggungjawab yang besar. Maka ia (subjek) menegakkan kedamaian daerahnya dengan melakukan perlawanan terhadap serangan dari Tasik.&lt;br /&gt;Seorang warga (pembantu) memberitahukan kedatangan gunung yang akan menimpa tanah  Batuwangi. Seseorang yang sakti dari tasik Malaya menyerang tanah Batuwangi dengan sebuah gunung. Oleh karena itu ia berfungsi sebagai penentang dalam skema aktan karena ia merusak harmoni yang sedang berlangsung di Batuwangi. &lt;br /&gt;Alur C-3 dijelaskan dalam model fungsional berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;Situasi awal&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;Transformasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;Situasi akhir&lt;br /&gt;Tahap uji kecakapan&lt;br /&gt;Tahap utama&lt;br /&gt;Tahap kegemilangan&lt;br /&gt;Harmoni di tanah Batuwangi&lt;br /&gt;Penyerangan yang dilakukan orang sakti dari Tasik Malaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     ____&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          ____&lt;br /&gt;Kembali harmoni,  muncul pasir Murungkut dan batu-batu bergelimpangan&lt;br /&gt;di tanah Batuwangi&lt;br /&gt;Bagan 4.8: model fungsional C-3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada situasi awal, belum ada kejadian apa-apa di Tanah Batuwangi. Pada waktu itu tidak diceritakan ada huru-hara ataupun perang.&lt;br /&gt;Pada tahap uji kecakapan, terjadi penyerangan ke tanah Batuwangi. Seseorang yang sangat sakti mendorong sebuah gunung untuk ditimpakan ke tanah Batuwangi. Kemudian seseorang memberitakan penyerangan ini kepada Eyang Batuwangi. Mengetahui adanya penyerangan seperti itu, Eyang Batuwangi pun menggunakan kesaktiannya. Ia mengangkat batu-batu di sungai Ciudian. Batu-batu beterbangan dan melaju untuk menahan gunung. Melihat batu-batu yang beterbangan trersebut, gunung yang sedang melaju mendadak berhenti. &lt;br /&gt;Pada C-3 tidak ada tahap utama dan tahap kemilangan karena penyerangan telah berhasil dihentikan. Setelah penyerangan tersebut tidak terjadi lagi penyerangan. Sebagai hasilnya, pada situasi akhir, gunung yang mendadak berhenti tadi menjadi mengkerut karena berhenti mendadak. Gunung tersebut kemudian disebut Pasir Murungkut, letaknya di sebelah selatan Gunung Lumbung. Selain munculnya Pasir Murungkut, batu-batu yang tadinya digunakan untuk menahan gunung oleh Eyang Batuwangi, kini bergelimpangan di Desa Ciudian, sekitar makam Batuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.4 Analisis Struktur Cerita 4 (C-4)&lt;br /&gt;4.4.1 Teks C-4&lt;br /&gt;Di dieu teh aya Gagayunan. SD Gagayunan ayeuna. Eta peristiwa Eyang BW waktos perang. Perang sareng musuh di Gagayunan tea. Diudag musuh mantena mah sanes lumpat, tapi shalat dua rakaat. Saatos Patihah Idzazulzilah sareng Waladiatu rakaat kadua. Rakaat kahiji Idzazulzilah, rakaat kadua Waladiatu susuratanana. Ngadua ka Allah. Atuh saatosna shalat eta dua rakaat shalat tasbeh. Saatos shalat tasbeh ngadu’a, nyaeta eta du’ana, hasbiyallah wani’mal wakil, ni’mal maula wani’man nasir Subhanallah mil ul mizan… Ya Allah salametkeun tina udagan musuh. Genjlog, muhun janten embel. Janten gagayunan, taneuh gagayunan. Disebut Gagayunan.&lt;br /&gt;Mantena mah tos caket ka Allah. Ma’rifat ka Allah, waliyullah, kakasihna Gusti Allah, tiasa diizabah. Numawi dina ziarah oge ngadua di tempat anu dimulyakeun ku Allah (TW 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.4.2 Terjemahan C-4&lt;br /&gt;Di sini ada yang namanya Gagayunan, SD Gagayunan yang sekarang. Itu peristiwanya waktu Eyang Batuwangi perang. Perangnya dengan musuh di Gagayunan. Ketika dikejar musuh, beliau tidak lari, tapi shalat dua rakaat. Setelah AlFatihah beliau membaca Idzazulzilah dan Waladiatu rakaat kedua. Rakaat pertama Idzazulzilah, rakaat kedua Waladiatu suratnya. Berdoa kepada Allah setelah shalat tasbih dua rakaat. Doanya hasbiyallah wani’mal wakil, ni’mal maula wani’man nasir Subhanallah mil ul mizan… Ya Allah selamatkanlah saya dari kejaran musuh. Tanah pun jadi labil, jadi embel (Lumpur yang bisa menghisap sesuatu yang jatuh di atasnya). Jadi tanahnya Gagayunan (bergoyang-goyang). Sejak itu disebutlah Gagayunan.&lt;br /&gt;Beliau memang sudah dekat kepada Allah, sudah ma’rifat kepada Allah, waliyullah, kekasih allah, jadi dikabulkanlah doanya. Oleh karena itu, ziarah pun dilakukan dengan cara berdoa di tempat yang dimuliakan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.4.3 Latar&lt;br /&gt;C-4 yang singkat ini hanya mengungkapkan sebuah nama tempat, yaitu, Gagayunan.  Di atas tempat tersebut saat ini berdiri sebuah bangunan sekolah dasar yang dinamai SD Gagayunan. Tempat itu berada di Desa Ciudian, tepatnya di sebelah barat balai desa Ciudian.&lt;br /&gt;Latar waktu dan latar sosial pada saat itu adalah situasi perang. Eyang Batuwangi dikejar-kejar musuh. Pada C-4 juga diceritakan bahwa manusia (khususnya Eyang Batuwangi) pada waktu itu ma’rifat kepada Allah, sehingga doanya sangat cepat dikabulkan oleh Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.4.4 Tokoh&lt;br /&gt;Hanya ada dua tokoh dalam C-4, yaitu Batuwangi dan musuh yang mengejarnya. Batuwangi adalah orang yang sama seperti dibahas pada cerita-cerita sebelumnya. Selain itu, C-4 menunjukkan anggapan sebagian masyarakat terhadap Eyang Batuwangi sebagai seorang wali. Hal ini diungkapkan dalam C-4, “Mantena mah tos caket ka Allah. Ma’rifat ka Allah, waliyullah, kakasihna Gusti Allah, tiasa diizabah. Numawi dina ziarah oge ngadua di tempat anu dimulyakeun ku Allah” (paragraf 3). Sementara itu, musuh yang mengejarnya tidak diidentifikasi dengan jelas. Penutur tidak menjelaskan identitas musuh yang mengejar Eyang Batuwangi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.4.5 Skema Aktan dan Model Fungsional&lt;br /&gt;Dalam C-4, Batuwangi sebagai subjek berusaha untuk menyelamatkan diri (objek). Batuwangi pun menjadi pengirim sekaligus penerima. C-4 tidak menceritakan apa yang menyebabkan Batuwangi dikejar musuh. Di sisi lain, keselamatan diri adalah tujuan yang ingin dicapainya. Jadi ia adalah penerima yang harus mendapatkan keselamatan tersebut.&lt;br /&gt;Musuh (penentang) mengejarnya sampai ke Gagayunan. Dalam keadaan terdesak, Batuwangi mendapatkan pertolongan dari Allah SWT. Kedekatannya dengan Allah memudahkan doanya cepat dikabulkan. C-4 dapat digambarkan dalam skema aktan dan bagan fungsional berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pengirim                                 objek                                     penerima&lt;br /&gt;          Batuwangi                        keselamatan diri                          Batuwangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pembantu                                subjek                                  penentang&lt;br /&gt;Kedekatan Batuwangi                     Batuwangi                         pengejaran musuh&lt;br /&gt;      denganAllah                                                                                                        &lt;br /&gt;Bagan 4.9: skema aktan C-4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, skema aktan di atas diperjelas dalam model fungsional berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;Situasi awal&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;Transformasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;Situasi akhir&lt;br /&gt;Tahap uji kecakapan&lt;br /&gt;Tahap utama&lt;br /&gt;Tahap kegemilangan&lt;br /&gt;Keadaan perang&lt;br /&gt;Pengejaran yang dilakuan oleh musuh di suatu tempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     ____&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          ____&lt;br /&gt;Tempat pengejaran tersebut menjadi embel, sehingga musuh tidak dapat mengejar lagi&lt;br /&gt;Bagan 4.10: model fungsional C-4&lt;br /&gt;Pada situasi awal, dikisahkan bahwa waktu itu sedang terjadi perang. Batuwangi terlibat dalam perang tersebut. Pada tahap uji kecakapan, ia dikejar-kejar musuh. Sampailah pada suatu tempat di sekitar Ciudian. Di tempat tersebut Batuwangi menyempatkan diri melakukan shalat hajat. Dalam shalatnya ia membaca Surat Al Zalzalah pada rakaat pertama dan surat Al Adiat pada rakaat kedua. Kemudian ia berdoa untuk keselamatn dirinya. Akhirnya pada situasi akhir, tanah di sekitar menjadi embel, yaitu Lumpur yang berguncang (labil) dan dapat menghisap orang yang masuk ke dalamnya. Batuwangi dapat menyelamatkan dirinya.&lt;br /&gt; Ternyata, kejadian pengejaran dan situasi akhir erat kaitannya dengan surat (ayat) Al Quran yang dibaca oleh Batuwangi. Dalam tafsir Al Alyy, Alquran dan Terjemahnya (2000: 480-481), surat Al Zalzalah berarti guncangan yang dahsyat, sedangkan surat Al Adiyat berarti kuda perang yang berlari kencang. Surat Al Zalzalah menngisahkan kejadian bumi yang berguncang dan hari pembalasan. Sementara itu surat Al Adiyat mengisahkan kuda perang yang berlari kencang dan menyerbu dengan berani dalam pertempuran, serta keadaan manusia yang ingkar dan bakhil, padahal Allah maha mengetahui. Guncangan bumi erat kaitannya dengan kejadian tanah tempat pengejaran menjadi embel yang labil, sedangkan kuda perang yang berlari kencang erat kaitannya dengan pengejaran itu sendiri.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.5 Analisis Struktur Cerita 5 (C-5)&lt;br /&gt;4.5.1 Teks Cerita 5 (C-5)&lt;br /&gt;Tah ayeuna aya kapiderek cenah kitu ka Eyang Batuwangi, Eyang Sembah Ibu Purbakawasa nu aya di Ciwindu.&lt;br /&gt;“Tah ayeuna maneh mapay wahangan Ciudian, jig mapay kaitu, di mana wae maneh mogokna.”&lt;br /&gt; Indit weh caritana kitu tah malahan mah aya di dinya nu kasebut Leuwi Garasay. Datang ka dinya cenah ceuk paribasa tea mah eta teh Eyang Sembah Ibu teh kapiderek, putra saderek, euh jadi naon ari kitu halabhab.&lt;br /&gt;“Cik, jang!”, da nyandak rencang cenah sabaraha hiji, tilu cenah rencangna teh. “Nyiar kadinya tah keur ubar lapar!”. Datang ka Leuwi Garasay. Jol teh mawa sangu poe, ti garasay teh.&lt;br /&gt;“Ayeuna urang landi weh”, cenah, “ieu lembur urang landi Lembur Garasay”. Barangsay, Garasay.&lt;br /&gt;Bet deui nepi ka itu, “meureun semet dieu urang teh. Ngan seret dieu urang teh”. Terus weh nuku umpamana ku halu. Ti dieu ka dieu satumbak, cle! pupus weh (TW 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.5.2 Terjemahan C-5&lt;br /&gt;Nah, ada juga yang punya ikatan saudara dengan Eyang Batuwangi, yaitu Eyang Sembah Ibu Purbakawasa yang berada di Ciwindu.&lt;br /&gt;“nah, sekarang pergilah kamu menyusuri Sungai Ciudian. Pergilah menelusurinya, di mana pun kamu mogoknya.”&lt;br /&gt;Pergilah mereka. Di sana (di perjalanan) ada yang disebut Leuwi Garasay. Datang ke sana dulunya Eyang Sembah Ibu yang merupakan saudara atau anak saudaranya itu kehausan.&lt;br /&gt;“Coba, Nak!” waktu itu dia membawa beberapa anak buah, tiga orang anak buah. “coba cari ke sana untuk obat lapar!”. Datang (anak buahnya) ke Leuwi Garasay. Datanglah dia membawa nasi dingin sisa hari kemarin.&lt;br /&gt;“Sekarang kita sebut saja” katanya, “kampung ini kita sebut Kampung Garasay”. Karena nasi ‘barangsay’ (kasar) jadi Garasay.&lt;br /&gt;Pergi lagi sampai ke sana. “mungkin sampai di sinilah kita, kita hanya sampai di sini.” Kemudian dia ‘nuku’ (membuat petak tanah) misalnya dengan alu, dari sini ke sini setumbak (± 4 m2), cle! Lalu meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.5.3 Latar&lt;br /&gt;Latar tempat dalam C-5 terbentang di sepanjang sungai Ciudian, antara Ciudian sampai Ciwindu. Perjalanan tersebut rupa-rupanya menuju ke hulu karena sungai Ciudian mengalir dari arah Ciwindu. Sembah Ibu Purbakawasa berasal dari tanah Batuwangi di Ciudian. Di Tanah Batuwangi ia mendapat perintah untuk menyusuri sungai Ciudian ke hulu. Di perjalanan ia singgah di sebuah kampung dekat leuwi, yaitu lubuk yang cukup dalam di sungai. Kampung tersebut kini dikenal dengan nama kampung Garasay. Letak Garasay adalah di desa Bojong Kecamatan Banjarwangi atau kurang lebih 4 KM sebelah barat Ciudian. Sementara itu, Ciwindu yang menjadi akhir cerita, letaknya kurang lebih 6 KM sebelah barat Garasay. Jadi perjalanan yang dilakukan oleh Eyang Ibu Purbakawasa kira-kira sepanjang 10 KM ke arah barat.&lt;br /&gt;Pada waktu berlangsungnya peristiwa C-5, Eyang Batuwangi masih hidup. Jadi C-5 masih berlangsung pada masa yang tidak jauh berbeda dengan cerita-cerita lainnya. Pada C-5 juga diceritakan bahwa waktu itu belum ada alat ukur yang digunakan secara khusus. Sembah Ibu mengukur tanah dengan halu (alu, batang kayu untuk menumbuk padi). Sedangkan satuan ukur yang dipakai adalah tumbak, bukannya meter atau sentimeter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.5.4 Tokoh&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh dalam C-5 di antaranya adalah:&lt;br /&gt;a. Eyang Batuwangi&lt;br /&gt;Eyang Batuwangi tinggal di Tanah Batuwangi, Ciudian. Eyang Batuwangi adalah saudara Eyang Sembah Ibu. Selain itu, ia juga mempunyai pengaruh yang sangat besar sebagai penyebar agama ataupun sebagai seorang tokoh masyarakat. buktinya ia memerintahkan Eyang Sembah Ibu untuk menyusuri sungai Ciudian ke arah hulu. Perintah ini dituruti oleh Eyang Sembah Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Eyang Sembah Ibu&lt;br /&gt;Nama lengkapnya adalah Eyang Sembah Ibu Purbakwasa. Ia adalah seorang perempuan yang masih kerabat Eyang Batuwangi, namun penutur tidak mengetahui hubungan kekerabatan yang sebenarnya dengan Eyang Batuwangi. Eyang Sembah Ibu Purbakawasa dikenal oleh masyarakat sebagai orang keramat yang dimakamkan di Ciwindu. Sebenarnya makam yang dimaksudkan hanyalah sebuah ciri tempatnya menghilang (ngahiang). Sampai sekarang makam tersebut dikeramatkan oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Tiga orang pengawal Eyang Sembah Ibu&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya Eyang Sembah Ibu ditemani oleh tiga orang pengawal. Dari tuturan C-5 dapat diketahui bahwa pengawal tersebut laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cik, jang!” da nyandak rencang cenah sabaraha hiji, tilu cenah rencangna teh. “Nyiar kadinya tah keur ubar lapar!” Datang ka Leuwi Garasay. Jol teh mawa sangu poe, ti garasay teh (paragraf 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.5.5 Skema Aktan dan Model Fungsional&lt;br /&gt;            C-5 mengisahkan sebuah proses inisiasi yang dialami oleh Eyang Sembah Ibu. C-5 dapat digambarkan dalam skema aktan berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pengirim                                 objek                                     penerima&lt;br /&gt;          Batuwangi                             kesejatian                           Eyang Sembah Ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pembantu                                subjek                                  penentang&lt;br /&gt;    tiga orang pengawal             Eyang Sembah Ibu                 rasa lapar dan haus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagan 4.11: skema aktan C-5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit, C-5 mengisahkan perjalanan menuju kesejatian. Hal ini dapat dikatakan sebagai sebuah tahap akhir dari proses inisiasi yang dialami oleh Eyang Sembah Ibu Purbakawasa. Perjalanan yang dilakukan diakhiri dengan kejadian meninggalnya Eyang Sembah Ibu. Namun ia meninggal dengan cara yang istimewa, yaitu menciptakan kuburnya sendiri, meskipun ia tidak menggali tanah. Kematian yang seperti ini merupakan sebuah symbol dari pencapaian kesejatian. Oleh karena itu, objek dalam aktan C-5 adalah kesejatian.&lt;br /&gt;            Sebagai subjek, Eyang Sembah Ibu mencari kesejatian tersebut berdasarkan perintah dari Eyang Batuwangi (Pengirim). Eyang Sembah Ibu juga mendapatkan kesejatian tersebut untuk dirinya sendiri, jadi Eyang Sembah Ibu juga berfungsi sebagai penerima.&lt;br /&gt;            Selama perjalanannya, ia mengalami rasa haus dan lapar, yaitu ketika sampai di Leuwi Garasay. Rasa haus dan lapar (penentang) setidaknya menunda perjalanan Eyang Embah Ibu untuk beristirahat sejenak. Dalam mengatasi rasa haus dan laparnya ini, Eyang Sembah Ibu menyuruh anak buahnya untuk mencari makanan dan minuman ke sebuah kampung di dekat sungai. Anak buahnya ini bertindak sebagai pembantu.&lt;br /&gt;Selanjutnya, struktur alur C-5 dapat diuraikan dalam model fungsional berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;Situasi awal&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;Transformasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;Situasi akhir&lt;br /&gt;Tahap uji kecakapan&lt;br /&gt;Tahap utama&lt;br /&gt;Tahap kegemilangan&lt;br /&gt;Sebuah perjalanan&lt;br /&gt;Rasa haus dan lapar ketika Eyang Sembah Ibu sampai di Leuwi Garasay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   ____&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      _____&lt;br /&gt;Eyang Sembah Ibu berhasil mencapai kesejatian tersebut di Ciwindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagan 4.12: model fungsional C-5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Situasi awal cerita adalah perjalanan yang sedang dilakukan oleh Eyang Sembah Ibu Purbakawasa. Ia melakukan perjalanan ini atas perintah Eyang Batuwangi. Tahap uji kecakapan dialaminya ketika ia merasakan haus dan lapar di sekitar leuwi Garasay. Rasa haus dan lapar dapat diatasi dengan cara menyuruh anak buahnya mencari makanan dan minuman ke sebuah kampung di dekat sungai. Namun yang ia dapatkan adalah nasi barangsay, yaitu nasi yang mulai kering dan kasar. Peristiwa ini diabadikan oleh Eyang Sembah Ibu dengan menamai kampung tersebut Garasay. Setelah mengalami uji kecakapan, Eyang Sembah Ibu tidak lagi mendapatkan halangan di perjalanannya sampai di Ciwindu. Oleh karena itu dalam bagan fungsional C-5 tidak ada tahap utama dan tahap kegemilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. 6  Hasil Analsis Struktur dan Pembahasan&lt;br /&gt;Dari lima cerita yang dianalisis, dapat ditemukan enam skema aktan dan lima bagan fungsional. Dalam skema aktan, Eyang Batuwangi menempati fungsi dan peran yang berbeda-beda dalam setiap cerita. Namun yang pasti Eyang Batuwangi selalu hadir dalam skema aktan dengan distribusi fungsi sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.  sebagai pengirim sebanyak empat kali (pada C-1, C-2, C-4. dan C-5),&lt;br /&gt;b.  sebagai penerima sebanyak dua kali (pada C-1 dan C-4), dan&lt;br /&gt;c.  sebagai subjek sebanyak empat kali (pada aktan utama C-1, aktan bawahan C-1, C-2, C-3, dan C-4).&lt;br /&gt;Didtribusi fungsi di atas menunjukkan bahwa Eyang Batuwangi telah banyak berjasa terhadap masyarakat Batuwangi. Dia lebih sering memberi karsa, ataupun menjadi pelaku aktif, daripada sebagai penerima. Selain itu, dalam fungsinya sebagai penerima Eyang Batuwangi gagal mendapatkan hak-haknya seperti pada C-1 ketika dia gagal menjadi pejabat tinggi sebagai imbalan keberhasilannya membunuh Dipati Ukur. Hal ini juga membentuk paradigma yang serba positif dari masyarakat tentang Eyang Batuwangi sebagai nenek moyang mereka.&lt;br /&gt;Pada umumnya, struktur CCB tidak terlalu rumit karena memang cerita-ceritanya relatif pendek. C-1 merupakan cerita yang paling panjang di antara seluruhnya. Perlu diketahui bahwa C-1 mempunyai banyak kemiripan dengan salah satu analisis Ekajati dalam Ceritera Dipati Ukur Karya Sastra Sejarah Sunda (1982). Cerita yang mempunyai beberapa motif yang sama dengan C-1 dapat dilihat dalam analisis tentang Babad Sumedang yang ditulis oleh R.A.A Martanagara tahun 1920 berdasarkan tradisi lisan di Sumedang dan sukapura. Untuk menunjukan kemiripan dengan C-1 berikut adalah bagian yang dimaksud:&lt;br /&gt;   Dipati Ukur dianggap lari dari perang melawan Belanda di Jakarta. Kemudian Sultan Agung mengadakan sayembara melalui panembahan Sumedang untuk menangkap atau membunuh Dipati Ukur. Entol Wirawangsa, Umbul Sukakerta (nama lain Sukapura) memenangkan sayembara. Entol Wirawangsa mencari Dipati Ukur bersama Astamanggala, Kuwu Cihaur Beuti. Akhirnya Wirawangsa berhasil memenggal kepala Dipati Ukur di Gunung Lumbung. Keduanya menghadap Panembahan Sumedang kemudian pergi ke Mataram. Di perjalanan Wirawangsa menyerahkan kepala Dipati Ukur kepada Astamanggala. Astamanggala sampai di Mataram dan mengaku bahwa dia sendiri yang membunuh Dipati Ukur. Atas jasanya Astamanggala diangkat menjadi Bupati Ukur.&lt;br /&gt;Merasa dirinya ditipu, Wirawangsa kembali menghadap panembahan Sumedang. Kemudian ia membawa surat dari Panembahan Sumedang menghadap Sultan Agung. Akhirnya Wirawangsa diangkat menjadi bupati Sukakerta dengan gelar Wira Dadaha (Ekajati, 1982: 181-182). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wirawangsa mempunyai peran yang sama dengan Batuwangi. Akan tetapi bukan berarti Wirawangsa dan Batuwangi merupakan tokoh yang sama. Persamaannya adalah 1) Wirawangsa berasal dari Sukakerta yang tidak lain merupakan nama lain Sukapura. 2) Ia dibantu oleh seseorang (Astamanggala) yang kemudian mengkhianatinya. 3) Ia membunuh Dipati Ukur dengan cara memenggal kepalanya, dan 4) Ia juga menitipkan kepala Dipati Ukur kepada seseorang. Sedangkan perbedaaannya adalah 1) Wirawangsa  membunuh Dipati Ukur di Gunung Lumbung, bukan di Bandung, 2) Batuwangi dibantu oleh seorang gandek, sedangkan Wirawangsa dibantu oleh seorang kuwu, 3) C-1 tidak menyebut-nyebut keterlibatan Panembahan Sumedang, sedangkan penggalan di atas menunjukkan pentingnya peran Panembahan. 4) Kepala Dipati Ukur diserahkan kepada Sultan Agung di Mataram, sedangkan dalam C-1 diceritakan raja berkedudukan di Sukapura, dan 5) Wirawangsa akhirnya diangkat menjadi Bupati dengan gelar Wira Dadaha, sedangkan dalam C-1 yang mendapatkan gelar dan jabatan ini justru gandek. &lt;br /&gt;C-2 pernah dipublikasikan dalam Tjerita Rakjat Djilid IV (1968: 85-86) dengan judul Asal Mula Pantangan Wanita Makan Kepala Ajam (Tjerita Rakjat dari Garut Djawa Barat, Ditjeritakan Kembali oleh Soepanto). Struktur cerita dalam buku tersebut kurang-lebih sama dengan C-2. Perbedaannya adalah pada C-2, pengantin perempuan memiliki kakak laki-laki, sedangkan dalam buku tersebut laki-laki yang terbunuh ini adalah adik dari pengantin perempuan. &lt;br /&gt;Sementara itu, C-3, C-4 dan C-5 hanya didapatkan dari penutur di lapangan. Dalam hal ini, C-1, C-2 dan C-3 lebih bersifat lokal, yaitu menceritakan kisah Batuwangi dalam latar termpat yang lebih sempit, yakni sebuah kampung atau sebuah desa.&lt;br /&gt;Berdasarkan analisis struktur, CCB dapat diklasifikasikan sebagai legenda. Kesimpulan ini diambil berdasarkan karakteristik dasar sebuah legenda yang meliputi ciri-ciri latar, tokoh, dan jalannya cerita. Selanjutnya, berdasarkan tindakan-tindakan tokohnya, masing masing lagenda masih dapat dikategorikan ke dalam legenda pembangun masyarakat dan budaya, serta legenda penyebar agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita&lt;br /&gt;Latar&lt;br /&gt;Tokoh&lt;br /&gt;Peristiwa&lt;br /&gt;klasifikasi&lt;br /&gt;Waktu&lt;br /&gt;Tempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C-1&lt;br /&gt;±1625-1630 M&lt;br /&gt;Tanah Batuwangi Gunung Lumbung, Sukapura, Bandung.&lt;br /&gt;Eyang Batuwangi, Eyang Surapati, Dipati Ukur, Raja, Lurah dan Wira Dadaha&lt;br /&gt;Eyang Batuwangi membunuh Dipati Ukur.&lt;br /&gt;legenda pembangun masyarakat dan budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C-2&lt;br /&gt;dalam masa hidup Eyang Batuwa-ngi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah Batuwangi&lt;br /&gt;Eyang Batuwangi, Pengantin wanita dan kakak laki-lakinya (anak Batuwangi), serta pengantin laki-laki (anak dalem Sukapura)&lt;br /&gt;Batuwangi menikahkan puterinya. Dari kisah ini  Eyang Batuwangi melarang keturunannya memakan kepala ayam&lt;br /&gt;legenda pembangun masyarakat dan budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C-3&lt;br /&gt;dalam masa hidup Eyang Batuwa-ngi&lt;br /&gt;Di antara Tasik Malaya sampai tanah Batuwangi&lt;br /&gt;Eyang Batuwangi, orang sakti dari Tasik Malaya, seorang pembawa berita&lt;br /&gt;Munculnya Pasir Murungkut dan batu-batu bergelimpangan di Tanah Batuwangi&lt;br /&gt;legenda pembangun masyarakat dan budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C-4&lt;br /&gt;Pada waktu perang&lt;br /&gt;Di Gagayunan Desa Ciudian&lt;br /&gt;Eyang Batuwangi dan musuh yang mengejar&lt;br /&gt;Tanah menjadi embel setelah Eyang Batuwangi membaca surat Al Zalzalah dan Al Adiat dalam shalat hajatnya.&lt;br /&gt;Legenda penyebar agama Islam sekaligus legenda pembangun masyarakat dan budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C-5&lt;br /&gt;dalam masa hidup Eyang Batuwa-ngi&lt;br /&gt;Batuwangi, Garasay, dan Ciwindu&lt;br /&gt;Eyang Batuwangi, Eyang Sembah Ibu Purbakawasa, dan tiga orang pengawal&lt;br /&gt;Penamaan Kampung Garasay dan meninggalnya Eyang Sembah Ibu secara istimewa&lt;br /&gt;legenda pembangun masyarakat dan budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagan 4.13: klasifikasi CCB berdasarkan strukturnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam analisis ini CCB dapat dikelompokkan ke dalam legenda pembangun masyarakat dan budaya. C-1 sampai C-5 menceritakan asal mula penamaan suatu tempat, menjelaskan kondisi geografis suatu tempat, pemberian gelar, dan pada akhirnya menciptakan aturan-aturan adat yang harus diikuti oleh keturunan Eyang Batuwangi.&lt;br /&gt;Sementara itu, C-4 yang mengisahkan Eyang Batuwangi dikejar-kejar musuh dapat pula dikelompokkan sebagai legenda penyebar agama Islam. Dalam C-4 diceritakan Eyang Batuwangi melakukan shalat hajat dan membaca surat Al Zalzalah dan surat Al Adiat. Kemudian Eyang Batuwangi berdoa untuk meminta pertolongan kepada Allah. Artinya, C-4 mengandung ajaran agama untuk mendekatkan diri kepada Allah, meminta pertolongan hanya kepada-Nya, serta mengajarkan salah satu cara meminta pertolongan tersebut. &lt;br /&gt;Bila dilihat dari jalannya isi cerita, Cerita-cerita Batuwangi menyajikan kejadian-kejadian yang luar biasa dan seringkali berada di luar batas nalar manusia. C-1 misalnya, cerita ini mengisahkan kehebatan Eyang Batuwangi yang dapat terbang serta Dipati Ukur yang dapat melemparkan kerbau. C-3 mengisahkan seseorang dari Tasik Malaya yang dapat mendorong gunung, dan Eyang Batuwangi dapat mengangkat batu-batu besar dalam jumlah yang banyak sekaligus. Sedangkan C-4 mengisahkan Eyang Batuwangi dapat mengubah tanah yang normal menjadi lembek dan menjadi rawa. Sementara itu, C-5 mengisahkan Eyang Sembah Ibu yang menghilang saat mengakhiri hidupnya di Ciwindu.&lt;br /&gt;Demikianlah CCB mengungkapkan hal-hal yang luar biasa, tidak masuk akal, dan terkesan dilebih-lebihkan. Namun unsur-unsur cerita seperti itu semuanya masih dapat dipahami sebagai ciri sebuah legenda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-2486950245206506350?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/2486950245206506350/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=2486950245206506350' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/2486950245206506350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/2486950245206506350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/bab-4.html' title='bab 4'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-7536856412789513831</id><published>2007-11-30T13:09:00.002+07:00</published><updated>2007-11-30T13:14:01.036+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='skripsie'/><title type='text'>bab 3</title><content type='html'>BAB III&lt;br /&gt;METODOLOGI PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1 Metode Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian ini menggunakan pendekatan folklor modern yang holistik, dalam arti pada waktu menganalisis akan dikaitkan dengan latar belakang atau konteks kebudayaan folklor yang bersangkutan. Oleh karena itu hasil penelitian bersifat emik yang dilihat dari sudut folk yang menjadi objek penelitian (Danandjaya dalam Pudentia, 1998: 57). Penelitian cerita-cerita Batuwangi selalu dikaitkan dengan konteks kemasyarakatan masyarakat Batuwangi. Berdasarkan pendekatan yang digunakan, penelitian ini menggunakan beberapa metode penelitian.&lt;br /&gt;Pertama, metode penelitian lapangan. Untuk mendapatkan data-data tentang CCB di masyarakat, perlu dilakukan penelitian langsung di lapangan. Penelitian lapangan ditempuh dengan dua cara, yaitu pengamatan terlibat (participant observation), dan wawancara (interview). Dalam pengamatan lapangan, penulis langsung berhubungan dengan masyarakat Batuwangi, terlibat dalam berbagai ritual, dan mengamati hal-hal yang diperlukan sebagai data. Pada kesempatan ini penulis melakukan pencatatan dan perekaman visual. Sementara itu, wawancara di lapangan dilakukan secara terarah, yaitu dengan persiapan daftar pertanyaan, maupun wawancara tidak terarah atau wawancara bebas dan santai memberikan kesempatan kepada informan untuk memberikan keterangan selengkap-lengkapnya.&lt;br /&gt;Dari data yang terkumpul, penulis mengklasifikasikan data sebagai data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang digunakan sebagai objek analisis berupa CCB. Data sekunder adalah data yang digunakan sebagai data tambahan atau penunjang yang berkaitan dengan analisis. Selanjutnya data tersebut diklasifikasikan berdasarkan karakteristiknya secara sinkronis. Maksudnya, CCB dibandingkan dan diklasifikasikan satu dengan lainnya tanpa memperhitungkan perbedaan waktu.&lt;br /&gt;Proses kerja terhadap data atau teks menurut Finnegan (1992: 186) melalui tahap-tahap sebagai berikut.&lt;br /&gt;a.       perekaman dan pengumpulan (recording and collecting),&lt;br /&gt;b.      transkripsi dan menampilkan dalam bentuk tulisan (transcribing representing in writing),&lt;br /&gt;c.       penerjemahan (translating), dan&lt;br /&gt;d.      penerbitan (publication).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, metode deskriptif yang digunakan dalam analisis, terutama analisis struktur. Data yang dikumpulkan disusun, dianalisis dan ditafsirkan. Analisis struktur menempuh dua kegiatan, yaitu, pertama menggambarkan satuan-satuan, dan kedua memperhatikan dan menerangkan hubungan yang ada antara satuan-satuan (Armstrong, dalam Rusyana: 1978: 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2 Prosedur Penelitian&lt;br /&gt;Untuk memberikan arahan penelitian yang sistematis, maka penelitian ini dibagi dalam tahap-tahap penelitian.&lt;br /&gt;a.       Tahap pengumpulan data. Peneliti mendatangi tempat penelitian di Kecamatan Banjarwangi dan Singajaya Kabupaten Garut untuk melakukan pengamatan dan mencari nara sumber. Pengamatan lapangan menghasilkan rekaman visual yang didapatkan dengan cara mencatat hal-hal penting dan pemotretan. Wawancara dilakukan secara terarah dengan pedoman wawancara, maupun wawancara terbuka.&lt;br /&gt;b.      Tahap pengolahan data, hasil rekaman kemudian ditranskrip ke dalam tulisan bentuk dialog. Kemudian, data yang masih menggunakan bahasa daerah (Sunda) tersebut diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;c.       Analisis struktur teks, setiap cerita ditampilkan dalam bahasa aslinya (Sunda), diterjemahkan satu persatu, kemudian dianalisis setiap satuan yang meliputi latar tokoh dan alur. Hubungan antar bagian (latar tempat, waktu dan latar sosial serta tokoh). Sementara itu, alur cerita dianalisis dengan menggunakan skema aktan dan bagan fungsional. Tahap akhir analisis struktur adalah mengklasifikasikan CCB sesuai karaktristik strukturnya.&lt;br /&gt;d.      Analisis konteks penceritaan, konteks penceritaan meliputi lingkungan penceritaan serta situasi penceritaan. Lingkungan penceritaan, seperti dijelaskan oleh Yus Rusyana (1978: 8-12) merupakan pembahasan mengenai unsur penutur cerita, kesempatan bercerita, tujuan bercerita, dan hubungan cerita dengan lingkungannya. Selanjutnya dianalsis juga situasi penceritaan yang menggambarkan penuturan cerita di lapangan. Dengan analisis ini akan didapatkan gambaran mengenai apa yang diharapkan oleh pencerita dan pendengar, serta bagaimana pengaruhnya bagi kedua belah pihak.&lt;br /&gt;e.       Analisis fungsi sosial CCB, yaitu bagaimana CCB diperlakukan oleh masyarakatnya serta bagaimana corak hidup masyarakat berkenaan dengan pandangan hidup, larangan-larangan adat, serta hubungan masyarakat yang satu dengan anggota masyarakat lain di dalamnya maupun masyarakat lain di luarnya.&lt;br /&gt;f.        Setelah itu, menarik kesimpulan terhadap hasil analisis struktur, konteks penuturan, serta fungsi sosial sebagai jawaban dari permasalahan yang dibahas serta relevansi analisis terhadap teori yang dikemukakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3  Sumber Data&lt;br /&gt;a.       Wawancara dengan Aki Nana pada tanggal 19 Maret 2005. Dari wawancara ini didapatkan asihan Batuwangi, cerita Batuwangi melawan Dipati Ukur, cerita Batuwangi menikahkan putrinya. Hasil wawancara dapat dilihat dalam Transkrip Wawancara 1 (TW 1).&lt;br /&gt;b.      Wawancara dengan Aki Uju dan Aki Suha pada tanggal 20 Maret 2005, didapatkan asihan Batuwangi, cerita Batuwangi melawan Dipati Ukur dan cerita Batuwangi menikahkan putrinya. Hasil wawancara dapat dilihat dalam Transkrip Wawancara 2 dan Transkrip Wawancara 3  (TW 2 dan TW 3).&lt;br /&gt;c.       Wawancara dengan Bapak Opo, kuncen Batuwangi pada tanggal 21 Oktober 2005. Dari wawancara ini didapatkan silsilah Batuwangi, cerita Batuwangi menikahkan putrinya, cerita Batuwangi melawan Dipati Ukur, dan cerita Batuwangi dikejar musuh. Hasil wawancara dapat dilihat dalam Transkrip Wawancara 4 (TW 4).&lt;br /&gt;d.      Pembacaan naskah Sajarah Batara Terus Bawa pada tanggal 12 April 2006. dari pembacaan ini didapatkan silsilah Batuwangi. Rekaman ini dapat dilihat dalam Transkrip Pembacaan Naskah (TPN).&lt;br /&gt;e.       Wawancara dengan Bapak Sopandi (104 tahun) pada tanggal 12 April 2006. Dari wawancara ini didapatkan cerita Batuwangi melawan Dipati Ukur, dan cerita asal mula larangan memakan kepala ayam, Hasil wawancara dapat dilihat dalam Transkrip Wawancara 5 (TW 5).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-7536856412789513831?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/7536856412789513831/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=7536856412789513831' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/7536856412789513831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/7536856412789513831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/bab-3.html' title='bab 3'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-4614608905397279283</id><published>2007-11-30T13:09:00.001+07:00</published><updated>2007-11-30T13:13:20.747+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='skripsie'/><title type='text'>bab 2</title><content type='html'>BAB II&lt;br /&gt;LANDASAN TEORETIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1 Folklor&lt;br /&gt;Istilah folklore mulai dimunculkan pada tahun 1846 oleh William John Thoms  untuk menggantikan istilah popular antiquities dan popular literature (Finnegan, 1992: 11). Dalam bahasa Inggris, istilah ini memiliki akar kata yang sederhananya berarti the lore of the people. Sebenarnya istilah ini sejajar dengan istilah bahasa Jerman, Volkskunde (Hutomo, 1991: 5). Sementara itu, UNESCO mendefinisikan Folklor sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Folklore (or traditional or popular culture) is the totality of tradition-based creation of a cultural community, express by a group or individuals and recognized as reflecting the expectation of a community in so far as they reflect its cultural and social identity; its standards and values are transmitted orally, by imitation or by other mean. Its form include among others, language, literature, music, dance, games, mythology, rituals, customs, handicrafts, architecture and other arts (Finnegan, 1992: 12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi tersebut tidak jauh berbeda dengan definisi yang diberikan oleh  Danandjaya (2002: 2), bahwa folkor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan secara turun temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu mengingat (mnemonic device).&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari kebudayaan, folklor memiliki ciri-ciri yang dapat membedakan dari ragam budaya yang lainnya. Ciri-ciri folklor menurut Danandjaya (2002: 3) adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;a.       Penyebaran dan pewarisannya biasanya secara lisan, yaitu disebarkan dari mulut ke mulut (atau dengan disertai gerak isyarat dan alat pembantu mengingat) dari suatu generasi ke generasi berikutnya.&lt;br /&gt;b.      Bersifat tradisional, yaitu disebarkan dalam bentuk yang relatif tetap atau standar di antara kolektif tertentu dalam waktu yang cukup lama.&lt;br /&gt;c.       Membentuk versi atau varian yang berbeda-beda dikarenakan penyebarannya secara lisan.&lt;br /&gt;d.      Bersifat anonim, yaitu nama penciptanya sudah tidak dikenal lagi.&lt;br /&gt;e.       Biasanya mempunyai bentuk yang berumus atau berpola&lt;br /&gt;f.        Mempunyai kegunaan atau fungsi bagi kolektifnya.&lt;br /&gt;g.       Bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum.&lt;br /&gt;h.       Merupakan milik bersama suatu kolektif.&lt;br /&gt;i.         Pada umumnya bersifat polos dan lugu, bahkan sering berkesan kasar dan spontan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Masih menurut Danandjaya (2002: 21-22), bentuk-bentuk folklor yang ada di masyarakat dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu:&lt;br /&gt;a.       Folklor lisan, yaitu folklor yang bentuknya memang murni lisan. bentuk folklor lisan ini misalnya bahasa rakyat, ungkapan tradisional, teka-teki, puisi rakyat, cerita prosa rakyat, dan nyanyian rakyat.&lt;br /&gt;b.      Folklor setengah lisan, yaitu bentuk campuran folklor lisan dengan unsur-unsur yang bukan lisan. bentuk folklor ini misalnya permainan rakyat, tari rakyat, adat istiadat, upacara, pesta rakyat, teater rakyat, dan sebagainya.&lt;br /&gt;c.       Folklor bukan lisan, yaitu folklor yang bentuknya bukan lisan meskipun diajarkan secara lisan. Folklor jenis ini dapat berbentuk materi seperti rumah adat, makanan tradisional, senjata tradisional, dan sebagainya; ataupun bentuk nonmateri seperti gerak isyarat, musik rakyat, bunyi sebagai tanda komunikasi, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan folklor yang digunakan dalam menganalisis CCB adalah pendekatan folklor modern yang holistik, artinya selain unsur lore, juga dianalisis unsur folk sebagai kolektif pemiliknya. Jadi, analisis akan selalu dikaitkan dengan latar belakang atau konteks folklor dalam lingkungan folk yang menjadi objek penelitian (Danandjaya dalam Pudentia, 1998: 57).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2 Sastra Lisan&lt;br /&gt;Sastra lisan atau dalam bahasa Inggris oral literature diartikan sebagai unwritten literature, yaitu bentuk-bentuk sastra yang hidup dan tersebar secara tidak tertulis (Finnegan, 1992: 9; Rusyana, 1978:1; Teeuw, 1984: 279). Banyak ahli sastra yang menghindari penggunaan kata literature yang dalam bahasa Indonesia diartikan sastra.  Kata literature mengacu pada literary/literacy yang selalu berarti tertulis. Jadi istilah oral literature atau sastra lisan dianggap rancu karena sekaligus memuat dua unsur yang bertentangan, yaitu lisan dan tertulis.&lt;br /&gt;Sebenarnya kerancuan tersebut tidak perlu terjadi bila sastra atau literature diterjemahkan secara luas. Maksudnya, sastra tidak selalu berarti tertulis atau dengan kata lain, sastra tidak identik dengan bahasa tulis. Lagipula, dalam perkembangannya, istilah literature sendiri pada saat ini tidak selalu mengacu kepada karya-karya sastra tertulis (Teeuw, 1988: 38). Sedangkan menurut Finnegan, sastra lisan akan dapat diterima dan berguna tergantung kapada materi yang dianalisis serta permasalahan yang diajukan dalam analisis (Finnegan, 1992: 9).&lt;br /&gt;Sebagai akibat dari anggapan kerancuan istilah, sastra lisan sering dipertukarkan dengan istilah tradisi lisan. Tradisi merupakan budaya yang berguna, cara untuk melakukan suatu hal, unik, berproses dalam hal pekerjaan, ide, atau nilai, dan kadang-kadang berkonotasi kuno serta muncul secara alami. Jadi, tradisi lisan adalah tradisi yang bersifat verbal atau tidak tertulis, milik masyarakat (folk), dan memiliki nilai  (Finnegan, 1992: 7). Sementara itu, Danandjaya justru menyamakan tradisi lisan dengan folklor lisan (Danandjaya dalam Pudentia, 1998: 54). Memang ada karakteristik yang menyamakan sastra lisan dengan tradisi lisan atau folklor lisan yaitu bahwa penyebaran dan pewarisannya terjadi secara lisan. Untuk lebih jelasnya, Hutomo (1991: 11) memberikan cakupan tradisi lisan sebagai berikut:&lt;br /&gt;kesusastraan lisan,&lt;br /&gt;teknologi tradisional,&lt;br /&gt;pengetahuan folk di luar pusat-pusat istana dan kota metropolitan,&lt;br /&gt;unsur-unsur religi dan kepercayaan folk di luar batas formal agama-agama besar,    &lt;br /&gt;kesenian folk di luar pusat-pusat istana dan kota metropolitan, dan&lt;br /&gt;hukum adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas, jelas bahwa sastra lisan merupakan salah satu bagian dari tradisi lisan ataupun folklor lisan. jadi, sastra lisan adalah sastra yang mencakup ekspresi sastra suatu kebudayaan yang disebarkan dan diturunkan secara lisan (Hutomo, 1991: 60).&lt;br /&gt;Adapun sastra lisan dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok, yaitu sastra lisan murni dan sastra lisan yang setengah lisan. Sastra lisan murni merupakan ragam sastra lisan yang penyampaiannya benar-benar secara lisan tanpa alat bantu lain. Sastra lisan murni pada umumnya berbentuk prosa rakyat, prosa liris dan bentuk-bentuk puisi rakyat. Sedangkan sastra lisan yang setengah lisan merupakan sastra lisan yang disampaikan dengan bantuan tingkah laku serta bentuk-bentuk seni yang lain. Sastra lisan jenis ini misalnya drama panggung dan drama arena, serta sastra lisan murni yang disampaikan dengan alat musik. Seperti kita ketahui, carita pantun (Sunda), kaba (Minangkabau), dan kentrung (Jawa) biasanya dipertunjukkan dengan alat musik tradisional (Hutomo, 1991: 62-64).&lt;br /&gt;Dalam hal ini, cerita-cerita Batuwangi merupakan sastra lisan yang murni, yaitu prosa rakyat atau cerita rakyat. Jenis-jenis prosa rakyat di antaranya adalah mite, legenda, dongeng, dan bentuk-bentuk naratif lainnya (Finnegan, 1992: 146-148, Danandjaya, 2002: 50). Di dalam analisis perlu juga mengklasifikasikan cerita-cerita Batuwangi sesuai karakteristik yang dimiliki masing-masing cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.1  Mite&lt;br /&gt;Mite adalah prosa naratif yang dalam masyarakat pemiliknya diyakini sebagai kejadian yang sungguh-sungguh terjadi di masa lampau, dianggap memiliki kekuatan untuk menjawab ketidaktahuan, keragu-raguan, atau ketidakpercayaan, sering diasosiasikan dengan kepercayaan dan ritual, mite biasanya dianggap suci, tokohnya bukan manusia, melainkan binatang, dewa, atau pahlawan kebudayaan yang terjadi di dunia yang belum seperti yang kita kenal sekarang (Sutarto,1997: 12-13).&lt;br /&gt;Dalam khazanah sastra nusantara, Yus Rusyana menjelaskan bahwa mite menggambarkan peristiwa yang dibayangkan pada masa lalu yang sudah tidak diketahui lagi kapan terjadinya, ditokohi oleh manusia atas atau manusia suci yang mempunyai kekuatan supranatural, atau manusia yang berasal dari atau yang mempunyai hubungan dengan dunia atas, yaitu kedewaan atau kayangan. Mite dapat diklasifikasikan menjadi mite penciptaan dan mite yang menceritakan asal-usul terbentuknya sesuatu (Rusyana, 2000: 5-7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.2  Legenda&lt;br /&gt;Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi. Berbeda dengan mite, legenda bersifat sekuler (keduniawian), terjadinya pada masa yang belum begitu lampau, dan bertempat di dunia yang seperti kita kenal sekarang (Danandjaya, 2002: 66).&lt;br /&gt;Dalam khasanah sastra Nusantara, legenda pun dapat diklasifikasikan sebagai 1) legenda penyebaran agama Islam, dan 2) legenda pembangun masyarakat dan budaya. Kelompok legenda penyebar agama Islam mengandung unsur penyebaran agama Islam di tempat tertentu di Indonesia oleh para pelaku yang memerankan tokoh ulama. Sementara itu, tokoh legenda pembangun masyarakat dan budaya misalnya melakukan berbagai kegiatan kemasyarakatan dan kebudayaan seperti membangun rumah, melakukan upacara tertentu, membuat senjata, menjadi raja dan sebagainya (Rusyana, 2000: 41-42).&lt;br /&gt;Legenda merupakan jenis prosa rakyat yang paling mempunyai nilai sejarah, terutama sebagai sumber penyusunan sejarah lokal desa-desa di Indonesia dari masa yang belum begitu lampau. Namun demikian, untuk menggunakannya sebagai sumber sejarah, legenda harus dibersihkan dari unsur-unsur folklor yang pralogis dan memiliki formula sastra lisan, serta perlu juga mempelajari sejarah penyatuan desa-desa tersebut dan bentuk-bentuk folklor lain yang ada di masyarakat (Danandjaya dalam Sutrisno, 1991: 472-474).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.3  Dongeng dan Bentuk Naratif Lainnya.&lt;br /&gt;Dongeng adalah prosa naratif yang bersifat fiksi, tidak dipercayai sebagai dogma atau sejarah, mungkin terjadi ataupun tidak, tidak dianggap serius, dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, dan biasanya merupakan pengalaman perjalanan binatang, kadang-kadang peri, atau tokoh manusia (Bascom dalam Finnegan, 1992: 148-149). Dongeng juga merupakan cerita pendek kolektif kesusastraan lisan. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun ada juga yang melukiskan kebenaran, pelajaran (moral) atau bahkan sindiran (Danandjaya, 2002: 83).&lt;br /&gt;Danadjaya membagi dongeng ke dalam empat kelompok, yaitu:&lt;br /&gt;a.  dongeng-dongeng binatang (animal tales),&lt;br /&gt;b. dongeng-dongeng biasa (ordinary folktales),&lt;br /&gt;c.  lelucon dan anekdot (jokes and anecdotes), dan&lt;br /&gt;d. dongeng-dongeng berumus (formula tales).&lt;br /&gt; Selain dongeng, bentuk naratif prosa rakyat di antaranya adalah memori atau memorat, yaitu kisah seseorang yang berisi pengalaman yang luar biasa. Cerita seperti ini tidak mempunyai struktur tertentu. Yang menarik dari memorat adalah hubungannya dengan kepercayaan penduduk setempat (Hutomo, 1991:65). Sementara itu, Finnegan memisahkan fabel dan sage sebagai bentuk naratif yang berbeda dengan dongeng ( Finnegan, 1992: 149).&lt;br /&gt;2.3 Pendekatan Struktural terhadap Karya Sastra&lt;br /&gt;Analisis struktur memperlakukan karya sastra sebagai satu kesatuan utuh di mana unsur-unsurnya berkaitan satu sama lainnya. Oleh karena itu, analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh. Namun demikian, karena bentuk dan sifat karya sastra itu berbeda-beda, maka setiap karya sastra memerlukan metode analisis yang sesuai dengan sifat dan strukturnya (Teeuw, 1988: 35-36).&lt;br /&gt;Pendekatan struktural terhadap sastra lisan sudah banyak dilakukan, misalnya pendekatan formula-formulaik Albert Lord dan struktur mitos Levi-Strauss. Selain itu muncul juga teori-teori struktur karya sastra misalnya, structural model in folklore and transformational essays yang ditulis oleh Elly Kongas Maranda dan Pierre Maranda pada tahun 1971, the morfology of folktale yang ditulis oleh Vladimir Propp, dan penelitian-penelitian lain yang ditulis oleh para ahli seperti Ben Amos, Alan Dundes, Heda Jason dan sebagainya (Hutomo, 199123-28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4 Struktur Cerita Rakyat&lt;br /&gt;Sebagai sastra lisan yang berbentuk cerita narasi, cerita rakyat dibangun oleh unsur-unsur pembentuk karya narasi seperti pada sastra modern. Misalnya menurut Wellek dan Austin Warren (1990: 283), unsur-unsur pembentuk karya naratif, misal novel, terdiri atas alur, penokohan, dan latar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4.1 Alur&lt;br /&gt;Alur atau plot merupakan urutan yang temporal dan logis sebagai implikasi atau biasa disebut kausalitas (Todorov, 1985: 41). Menurut Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2000: 113), alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab-akibat. Peristiwa yang satu menyebabkan atau disebabkan peristiwa yang lain. Sedangkan pengaluran merupakan kegiatan pengembangan alur supaya indah dan menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4.2 Tokoh dan Penokohan&lt;br /&gt;Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita, sedangkan penokohan adalah cara menampilkan tokoh atau pelaku dalam cerita (Aminuddin, 1995:79). Mengenai penokohan, menurut Wellek dan Warren (diterjemahkan oleh Melani Budianta, 1990: 288),  ada penokohan statis dan ada penokohan dinamis atau penokohan berkembang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4.3 Latar&lt;br /&gt;Latar menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2000: 216). Oleh karena itu, unsur latar terdiri atas unsur tempat atau lokasi, waktu, dan latar sosial.&lt;br /&gt;Latar tempat berarti lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan. latar tempat dapat diketahui dari penamaan daerah secara faktual, inisial, deskripsi, atau secara implisit. Latar waktu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa. Latar waktu dapat dijelaskan secara jelas maupun samara. Sementara itu, latar sosial berhubungan dengan prilaku masyarakat di suatu tempat yang diceritakan (Nurgiyantoro, 2000: 227-233).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.5 Skema Aktan dan Model Fungsional A.J. Greimas&lt;br /&gt;Analisis struktur akan lebih mengeksplorasi eksistensi tokoh dan keterlibatannya dalam berbagai peristiwa. Dengan demikian, perlu dianalisis hubungan antar tokoh dalam cerita. Oleh karena itu, penulis menggunakan teori aktan dan model fungsional yang dikembangkan oleh Greimas.&lt;br /&gt;Algirdas Julien Greimas (A.J. Greimas) adalah penganut aliran strukturalis dari Prancis. Ia mengembangkan teori  Propp menjadi dasar sebuah analisis naratif yang universal (Teeuw, 1988: 293). Sebelumnya, Propp telah memperkenalkan unsur naratif terkecil yang sifatnya tetap dalam sebuah karya sastra sebagai fungsi (Todorov, 1985: 48). Berdasarkan penelitiannya tentang dongeng Rusia, Propp membatasi fungsi cerita sebanyak 31 fungsi. Semua fungsi tersebut sifatnya tetap serta urutannya sama dalam setiap dongeng (Hutomo, 1991: 25). Berdasarkan teori Propp inilah Greimas mengemukakan teori aktan.&lt;br /&gt;Menurut Greimas (dalam Jabrohim, 1996: 13) aktan adalah sesuatu yang abstrak, seperti cinta, kebebasan, atau sekelompok tokoh. Menurutnya juga, aktan adalah satuan naratif terkecil. Dikaitkan dengan satuan sintaksis naratif, aktan berarti unsur sintaksis yang mempunyai fungsi-fungsi tertentu. Fungsi adalah satuan dasar cerita yang menerangkan tindakan logis dan bermakna yang membentuk narasi. Dengan kata lain, skema aktan tetap mementingkan alur sebagai energi terpenting yang menggerakkan cerita sehingga menjadi penceritaan, dengan episode terpenting yang terdiri atas permulaan, komplikasi dan penyelesaian (Ratna, 2004: 139)&lt;br /&gt;Kemudian Greimas mengelompokkan aktan ke dalam tiga perangkat oposisi biner.  Tiga pasangan oposisional fungsi aktan tersebut disusun dalam skema berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pengirim                             objek                            penerima&lt;br /&gt;Sender                                                                      receiver&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pembantu                           subjek                            penentang&lt;br /&gt; helper                                                                      opposant&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagan 2.1: skema aktan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ratna (2004: 139), di antara ketiga pasangan oposisi biner di atas yang terpenting adalah pasangan subjek-objek. Pada umumnya subjek terdiri atas pelaku sebagai manusia, sedangkan objek terdiri atas berbagai kehendak yang mesti dicapai, seperti kebebasa, keadilan, kekayaan dan sebagainya. Suatu perjuangan umumnya didalangi oleh kekuasaan (pengirim), tetapi bila berhasil maka pelaku (penerima) menerimanya sebagai hadiah. Kekuasaan dapat bersifat kongkret seperti raja, dan penguasa lain. Kekuasaan juga dapat bersifat abstrak seperti masyarakat, nasib, dan waktu.&lt;br /&gt;Tanda panah dalam skema merupakan unsur penting yang menghubungkan fungsi sintaksis naratif masing-masing aktan. Tanda panah dari pengirim mengarah ke objek berarti ada keinginan dari pengirim untuk mendapatkan, menemukan, atau memiliki objek. Tanda panah dari objek ke penerima berarti objek yang diusahakan oleh subjek dan diinginkan oleh pengirim diserahkan atau ditujukan kepada penerima. Tanda panah dari pembantu menunjukkan bahwa pembantu memudahkan subjek untuk mendapatkan objek. Sebaliknya, tanda panah dari penentang menuju subjek berarti penentang mempunyai kedudukan untuk menentang, menghalangi, mengganggu, merusak atau menolak usaha subjek. Tanda panah dari subjek menuju objek berarti subjek bertugas menemukan atau mendapatkan objek yang dibebankan oleh pengirim. Adapun fungsi atau kedudukan masing-masing aktan adalah sebagai berikut. &lt;br /&gt;a.       Pengirim (sender) adalah seseorang atau sesuatu yang menjadi sumber ide dan penggerak cerita. Pengirim memberikan karsa kepada subjek untuk mencapai objek.&lt;br /&gt;b.      Objek adalah sesuatu yang dituju atau diinginkan oleh subjek.&lt;br /&gt;c.       Subjek adalah sesuatu atau seseorang yang ditugasi pengirim untuk mendapatkan objek.&lt;br /&gt;d.      Pembantu (helper) adalah sesuatau atau seseorang yang membantu atau mempermudah usaha subjek untuk mendapatkan objek.&lt;br /&gt;e.       Penerima (receiver) adalah sesuatu atau seseorang yang menerima objek yang diusahakan oleh subjek.&lt;br /&gt;f.        Penentang (opposant) adalah seseorang atau sesuatu yang menghalangi usaha subjek dalam mencapai objek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, di antara subjek dan objek ada tujuan, di antara pengirim dan penerima ada komunikasi, sedangkan di antara penolong dan penentang ada bantuan atau tentangan. Aktan jangan dikacaukan dengan aktor. Aktan merupakan peran-peran abstrak yang dimainkan oleh seorang atau sejumlah pelaku. Dengan kata lain, aktor merupakan manifestasi kongkret dari aktan (Ratna, 2004: 139).&lt;br /&gt;Sebuah cerita dapat mempunyai beberapa aktan. Setiap aktan dalam sebuah skema dapat mempunyai fungsi ganda. Pengirim dapat berfungsi sekaligus sebagai subjek atau penerima. Seorang tokoh dapat menempati fungsi aktan yang berbeda. Jika tidak ada aktan yang tidak terisi oleh sebuah fungsi atau tokoh maka digunakan tanda Ø dan disebut fungsi zero dalam aktan.&lt;br /&gt;Adapun model fungsional mengemukakan model cerita yang tetap sebagai alur. Model itu dinyatakan dalam berbagai tindakan yang disebut fungsi. (Jabrohim, 1996: 15). Model fungsional berfungsi untuk menguraikan peran subjek dalam rangka melaksanakan tugas dari pengirim yang terdapat dalam aktan. Model fungsional terbangun oleh berbagai peristiwa yang dinyatakan dalam kata benda misal, keberangkatan, perkawinan, kematian dan sebagainya.&lt;br /&gt;Model fungsional yang digunakan adalah model fungsional Greimas yang dimodifikasi oleh Monod (dalam Zaimar: 1999). Model fungsional dibagi menjadi tiga bagian yaitu situasi awal (1), transformasi (2), dan situasi akhir (3). Situasi transformasi dibagi menjadi tiga tahapan yaitu, tahap uji kecakapan, cobaan utama, dan cobaan membawa kegemilangan. Model Fungsional dibentuk dalam bagan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;transformasi&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;Situasi     awal&lt;br /&gt;Tahap uji kecakapan&lt;br /&gt;Tahap utama&lt;br /&gt;Tahap kegemilangan&lt;br /&gt;Situasi akhir&lt;br /&gt;                                         &lt;br /&gt;Bagan 2.2: model fungsional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi awal cerita menggambarkan keadaan sebelum ada suatu peristiwa yang menggangu keseimbangan (harmoni). Transformasi meliputi tiga tahap cobaan. Ketiga tahapan cobaan ini menunjukkan usaha subjek untuk mendapatkan objek. Dalam tahap cobaan awal, subjek mulai mencari objek. Terdapat berbagai rintangan, di situlah subjek mengalami uji kecakapan. Dalam tahap ini pula muncul pembantu dan penentang. Tahap cobaan utama berisi gambaran hasil usaha subjek dalam mendapatkan objek. Tahap cobaan membawa kegemilangan merupakan bagian subjek dalam menghadapi pahlawan palsu, misalnya musuh dalam selimut, atau seseorang yang berpura-pura baik padahal jahat. Tabir pahlawan palsu terbongkar, bila tidak ada pahlawan palsu maka subjek adalah pahlawan. Sedangkan situasi akhir berarti keseimbangan, situasi telah kembali ke keadaan semula. Semua konflik telah berakhir. Di sinilah cerita berakhir dengan subjek berhasil atau gagal mencapai objek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.6 Konteks Penceritaan&lt;br /&gt;Konteks penceritaan meliputi lingkungan penceritaan serta situasi penceritaan. Lingkungan penceritaan, seperti dijelaskan oleh Yus Rusyana (1978: 8-12) merupakan pembahasan mengenai unsur-unsur berikut:&lt;br /&gt;a.  penutur cerita,&lt;br /&gt;b. kesempatan bercerita,&lt;br /&gt;c.  tujuan bercerita, dan&lt;br /&gt;d. hubungan cerita dengan lingkungannya.&lt;br /&gt;Sementara itu, situasi penceritaan menggambarkan hubungan antara penutur dengan pendengar atau audience. Di dalam sebuah penuturan dan pertunjukan sastra lisan, terdapat enam bentuk hubungan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.       Terdapat batas yang jelas antara audience dengan penyaji. Batas ini ditandai secara fisik, misal adanya mimbar atau panggung yang tinggi untuk pembicara. Audience tidak terlibat sama sekali dalam proses pertunjukan atau penceritaan selain sebagai penonton atau pendengar saja.&lt;br /&gt;b.      Audience dan penyaji relatif dipisahkan dengan pembatas yang tidak jelas, audience tidak banyak terlibat dalam penyampaian teks.&lt;br /&gt;c.       Batas yang jelas antara audience dan penyaji, namun audience terlibat secara aktif dalam penyajian.&lt;br /&gt;d.      Penyaji dan audience bergiliran. Pada waktu seorang penyaji bukan gilirannya bercerita atau bermain, maka ia berperan sebagai audience.&lt;br /&gt;e.       Tidak ada batas antara audience dengan penyaji. Semua terlibat secara komunal sebagai audience sekaligus penyaji.&lt;br /&gt;f.        Penyajian tertutup tanpa kehadiran audience, misal seseorang yang bernyanyi sendiri. Pada konteks ini, si penyaji menganggap dirinya sendiri sebagai audience (Finnegan, 1991: 97-98).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.7 Fungsi Sosial Sastra Lisan&lt;br /&gt;Finnegan (1992: 128-129) mengungkapkan fungsi sastra lisan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. fungsi untuk mendasari atau mengesahkan eksistensi suatu tatanan sosial,&lt;br /&gt;b. membentuk atau mempertahankan identitas dan alat pengesahan pengalaman,&lt;br /&gt;c.   sebagai paradigma untuk memahami suatu komunitas dan menentukan serta membentuk pandangan dan kepribadian seseorang dalam komunitas tersebut,&lt;br /&gt;d.   fungsi untuk menghibur,&lt;br /&gt;e.       untuk memahami bentuk-bentuk ideologi yang berbeda pada satu subjek narasi yang bercerai berai namun tetap identik, dan&lt;br /&gt;f.        fungsi kognitif dan menyebarkan kaidah ritual dan pertunjukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam analisis fungsi sosial akan dibahas bagaimana CCB menjalankan fungsi-fungsi di atas secara signifikan, langsung, maupun tak langsung dalam konteks masyarakat Batuwangi. Namun demikian, pengungkapan fungsi tersebut tidak bisa dilepaskan dari bentuk-bentuk folklor lainnya yang berkembang di masyarakat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-4614608905397279283?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/4614608905397279283/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=4614608905397279283' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/4614608905397279283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/4614608905397279283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/bab-2.html' title='bab 2'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-6475608672016403073</id><published>2007-11-30T13:09:00.000+07:00</published><updated>2007-11-30T13:12:22.708+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='skripsie'/><title type='text'>bab 1</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-6475608672016403073?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/6475608672016403073/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=6475608672016403073' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/6475608672016403073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/6475608672016403073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/bab-1.html' title='bab 1'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-5275739407177926055</id><published>2007-11-29T17:06:00.011+07:00</published><updated>2007-11-29T17:31:10.159+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='article'/><title type='text'>PENDIDIKAN ANTIKORUPSI:</title><content type='html'>Di negeri yang terkenal korup ini, dunia pendidikan begitu carut-marut. Nilai rapor merah dunia pendidikan kita semester ini dapat dilihat dari permasalahan UAN, kelulusan, SPMB, kontroversi pelantikan rektor, dan masih berderet lagi catatan yang lain. Entah kenapa sampai saat ini dunia pendidikan kita belum bisa berbenah dan menunjukkan peningkatan kualitas manusia Indonesia.&lt;br /&gt;Sementara itu, korupsi masih merajalela dan telah menjadio tradisi. Korupsi sebagai tradisi tentu saja diturunkan dari generasi ke generasi. Setiap institusi sejak awal telah menyusun sebuah orientasi korupsi bagi anggota-anggota barunya. Entah disadari atau tidak, legal ataupun tidak, yang pasti sudah menjadi rahasia umum bila ingin menjadi PNS harus mengeluarkan uang yang banyak. Hal ini terjadi pula pada institusi yang lain, sebut saja kepolisian, militer, perguruan tinggi, BUMN, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Dari hasil praktek sogok-menyogok ini, mereka yang terpilih menjadi angota (pegawai, perwira, mahasiswa, dan seterusnya) akan menghitung biaya yang telah dikeluarkan. Dari hitung-hitungan tersebut, muncullah motivasi untuk mendapat ganti rugi yang akhirnya, karena sifat serakah manusia, mereka ingin memperkaya diri. Salah satu cara adalah delakukan tindak korupsi.&lt;br /&gt;Parahnya, tradisi tersebut justru terjadi pula di institusi-institusi pendidikan, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Tradisi korupsi kecil-kecilan mulai dari “jual dedet” buku, beasiswa dan dana bantuan yang tidak transparan, serta alokasi anggaran dengan cara mark up masih kerap terjadi. &lt;br /&gt;Mungkin hal-hal di atas akan disanggah: bukannya ada komisi sekolah yang memantau? Atau di universitas ada majelis wali amanat, persatuan orang tua mahasiswa, dan sejenisnya?&lt;br /&gt;Akan tetapi jangan sekali-kali yakin dengan konsistensi mereka. lembaga-lembaga tersebut seringkali merupakan lembaga bentukan sekolah, yang tentunya berpihak pada orang-orang yang berkepentingan untuk korupsi juga. Singkatnya, lembaga-lembaga tersebut belum berpihak pada rakyat. Buktinya, SPP tetap mahal, lantas muncul pula biaya-biaya yang lain yang tidak jelas asal-usul dan tujuannya. Dengan demikian, jargon “orang miskin dilarang sekolah” masih berlaku.&lt;br /&gt;Akan tetapi, betapa pun carut-marutnya dunia pendidikan kita, betapa pun korupnya negeri ini, pendidikan harus diterapkan pada peserta didik di setiap jenjang pendidikan. Pendidikan tersebut bukan harus berwujud mata pelajaran atau mata kuliah, melainkan diarahkan pada pengembangan mental yang dapat menumbuhkan rasa peduli dan kesadaran mereka untuk antikorupsi.&lt;br /&gt;Pekerjaan pertama yang perlu dilakukan adalah membersihkan sekolah dan lembaga pendidikan dari segala praktek korupsi. Khusus di perguruan tinggi, mahasiswa harus pula dilibatkan dalam berbagai kebijakan sehingga dapat memantau para pejabat dalam lembaga terkait.&lt;br /&gt;Selanjutnya, lembaga yang berwenang dalam pemberantasan korupsi, KPK perlu membuat jalur pemberantasan korupsi mulai dari tingkat daerah sehingga siapapun, terutama peserta didik mudah melakukan pemantauan dan melaporkan segala tindak korupsi. Untuk itu, KPK dan lembaga terkait cukup sekali-dua kali melakukan sosialisasi ke sekolah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-5275739407177926055?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/5275739407177926055/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=5275739407177926055' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/5275739407177926055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/5275739407177926055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/pendidikan-antikorupsi.html' title='PENDIDIKAN ANTIKORUPSI:'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-7975514796271508328</id><published>2007-11-29T17:06:00.010+07:00</published><updated>2007-11-29T17:30:21.777+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='article'/><title type='text'>mata matahari</title><content type='html'>RUNTUHNYA BUDAYA PATRIARKI DALAM NOVEL MATA MATAHARI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1997-2001 negeri ini terus bergejolak. Reformasi yang digulirkan sampai sekarang konon malah mengalami mati suri. Padahal, negeri ini telah mengalami kehancuran ekonomi, tatanan sosial, hukum, dan politik. Lebih parahnya lagi adalah terjadinya kemerosotan nilai pada semua tatanan kehidupan. Kita ingat saat awal reformasi digulirkan., banyak pihak yang hanya mengambil keuntungan semata justru memperparah keadaan bangsa. Mata berjuta orang lalu tertuju pada kericuhan di mana-mana. Banyak wanita diperkosa di jalanan, dibunuh, dan dieksploitasi. Pada kenyataannya sampai sekarang di berbagai daerah di tanah air, kita masih sering mendengar berita tentang pemerkosaan, pembunuhan, penjualan wanita, prostitusi, TKW yang dieksploitasi, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Sejak itulah muncul kesadaran perempuan yang sebenarnya telah lama terpendam. Sedikit demi sedikit muncul gerakan feminis yang ditandai dengan bermunculannya aktivis perempuan, organisasi perempuan, serta bertambahnya porsi perempuan di pemerintah dan legislatif.&lt;br /&gt;Rentang waktu 1997-2001 inilah yang ditampilkan melalui novel Mata Matahari karya Ana Maryam. Novel yang terbit tahun 2003 ini memang tidak banyak mengungkap demonstrasi mahasiswa atau proses reformasi. Akan tetapi, di sini digambarkan dengan jelas sisi-sisi kehidupan perempuan Jakarta bernama Lola yang mempunyai pemikiran modern, juga radikal. Novel ini juga tidak melulu mengisyaratkan bahwa perempuan harus mempunyai posisi yang sejajar dengan laki-laki, lebih dari itu perempuan harus menjadi sosok yang mandiri, mempunyai visi dan misi progresif dan menjadi pemenang dalam persaingan dengan kaum Adam sekalipun.&lt;br /&gt;Lola dibesarkan di lingkungan kumuh di Jakarta. Sejak kecil ia tidak mendapat kasih sayang dari ayahnya. Ia dibesarkan oleh jerih payah ibunya yang melacurkan diri. Lola yang sudah dewasa mempunyai apartemen sendiri, mobil, studio foto, dan tentunya penghasilan sendiri. Ternyata ia mendapatkan semua itu dengan cara melacurkan diri juga. Dengan bekal tubuhnya ia menjadi pelacur kelas atas yang sering melayani para pengusaha dan pejabat.&lt;br /&gt;Suatu hari muncul keinginan dalam hati Lola untuk mempunyai seorang anak. Ia benar-benar ingin mempunyai seorang anak yang kelak akan dinamainya, dicintainya, dan diasuhnya dengan tulus. Lalu ia mulai mencari dalam memorinya dari siapa ia harus mendapatkan anak. Tapi dari semua laki-laki yang pernah tidur dengannya tidak ada yang dianggap tepat untuk merealisasikan keinginannya itu. Tidak ada laki-laki yang ia percayai untuk memberinya anak. Namun, meskipun Lola ingin punya anak yang tentunya dari benih seorang laki-laki, Lola tidak pernah ingin mempunyai suami atau menikah. Pandangan Lola mengenai pernikahan kurang lebih seperti berikut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, sejujurnya aku tidak memercayai lembaga perkawinan. Bagiku itu lembaga paling munafik yang pernah tercipta. Karena banyak sekali orang-orang, istri atau suami sama saja, selingkuh meski mereka sudah punya banyak anak. Lantas apa gunanya pernikahan? Aku tak sanggup jika anak-anakku suatu saat menyaksikan aku atau suamiku berselingkuh. Tidak, aku tidak mau mengambil resiko itu (Maryam, 2003: 127).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Lola menemukan seorang laki-laki yang sebelumnya asing di dalam kehidupannya. Ia telah jatuh cinta, tapi mengejutkan ketika ia jatuh cinta pada seorang lelaki buta bernama Elang. Lola memutuskan bahwa Elang adalah laki-laki yang akan memberinya anak. Maka dengan cara apapun ia harus mendapatkannya.&lt;br /&gt;Sementara Lola sedang mengejar Elang, Thery, dahabat Lola juga jatuh cinta pada seorang laki-laki bernama Destano. Laki-laki yang mahir berbohong ini adalah seorang mahasiswa yang juga pengedar narkotika. Masa lalu Destano begitu kelam. Ia hanyalah anak pungut yang diurus dengan kasih sayang tulus keluarga nelayan miskin di Caruban, Jawa Timur. Ibu yang mengurusnya waktu kecil dibunuh dalam sebuah pembantaian. Lalu ia dibesarkan sendiri oleh seorang bapak bernama Iqbal. Pergaulan Rizky (nama kecil Destano) telah tersesat sehingga dia berkembang menjadi remaja yang angkuh, gila kekayaan, dan durhaka. Akhirnya Rizky pergi ke Jakarta dengan nama samaran Destano Kusuma Negara putra seorang pejabat juga pengusaha.&lt;br /&gt;Diam-diam Destano mencintai Lola. Sementara ia tidur dengan Thery, ia juga tidur dengan Lola. Sedangkan Lola juga telah mendapatkan Elang. Lama-lama perselingkuhan ini diketahui juga oleh Thery. Akhirnya Thery marah sehingga terjadi pertengkaran hebat. Mereka semua berpisah. Elang pergi ke Singapura untuk operasi mata. Thery meninggalkan sahabatnya Lola karena kecewa, sementara Destano tertangkap polisi karena mengedarkan narkotika. Akhirnya Lola kehilangan Elang untuk selamanya, demikian juga Thery kehilangan Destano yang setelah ditangkap akhirnya menjadi gila.&lt;br /&gt;Merasa senasib, akhirnya Lola dan Thery kembali bersatu. Bagi mereka cinta sahabatlah yang sejati, sampai-sampai hubungan mereka jadi istimewa. Lola dan Thery menjadi pasangan lesbi. Mereka hidup bersama sambil menunggu kelahiran anak Elang yang dikandung Lola dan anak Destano yang dikandung Thery.&lt;br /&gt;Kehilangan lelaki yang dicintai bagi keduanya memang menyedihkan. Ini adalah sisi kehidupan perempuan yang manusiawi. Lepas dari itu semua, Mata Matahari telah “menyudutkan” kaum laki-laki ke level yang inferior. Dengan demikian, maka secara sadar novel ini telah berusaha meruntuhkan sistem patriarki masyarakat kita.&lt;br /&gt;Di antara pemikiran yang menunjukkan upaya meruntuhkan patriarki, selain pandangan tentang lembaga perkawinan adalah pemikiran yang diungkapkan novel ini tentang laki-laki. “,,,,laki-laki sekarang mana ada yang berkaitan dengan hati, mereka sekarang berfikirnya pakai penis”. Selain itu laki-laki digambarkan sebagai makhluk yang mengejar kesenangan semata. Ini digambarkan melalui tokoh-tokoh yang menjadi langganan Lola. Mereka adalah para pengusaha, pejabat, bahkan rektor tua yang telah beranak istri namun tetap saja mau menjadi pelanggan pelacur kelas Lola. Lola yang mewakili perempuan ideal hanya memanfaatkan uang mereka saja.&lt;br /&gt;Sebagai kepala keluarga, laki-laki juga digambarkan sebagai pemimpin yang lemah dan tidak bisa mendidik anak-anaknya. Hal ini ditunjukkan dengan ketidakhadiran tokoh ayah. Lola tidak pernah diurus ayahnya, demikian juga Thery yang hanya diceritakan tinggal dengan ibunya. Sedangkan sisanya adalah sosok ayah yang tidak mampu berbuat banyak. Iqbal gagal mendidik Rizky dengan baik. Tokoh ayah lainnya adalah ayah Elang dan ayah Lala, kekasih elang waktu kecil, di mana kehadiran dan peran tokoh-tokoh ini sangat minim dan sengaja direduksi.&lt;br /&gt;Sebaliknya, novel ini mengangkat level perempuan pada level yang begitu tinggi. Perempuan mempunyai hasrat manusiawi yang sangat kuat, mempunyai sikap yang tegas, mandiri, serta mampu mempertanggungjawabkan apapun yang telah diperbuatnya. Tokoh Lola menjalankan peran sentral seperti disebutkan di atas. Demikian juga Thery,  sahabat Lola. Singkatnya, kedua tokoh ini mewakili idealisme feminis untuk menjadi perempuan yang independen, lepas dari pengaruh siapa pun.&lt;br /&gt;Di sisi lain, perempuan yang lemah sengaja “dimatikan”. Nasib Lala, perempuan yang rela melakukan segalanya demi Elang berakhir dengan kematian karena kecelakaan lalu lintas. Demikian juga rahayu, istri Iqbal. Yang selalu ‘nrimo’ dan lemah ini pun terbunuh. Hal ini mengindikasikan bahwa novel ini tidak menyetujui sikap-sikap perempuan yang lemah, nrimo, apalagi dependen terhadap laki-laki.&lt;br /&gt;Dengan mengangkat posisi perempuan ke posisi yang lebih tinggi, maka secara langsung dan sadar, posisi laki-laki yang menjadi oposisi menjadi lemah dan inferior. Dengan cara seperti itulah novel ini meruntuhkan patriarki dengan kekuasaan ayahnya, dominasi laki-laki, atau sebaliknya, inferioritas perempuan. Gagasan-gagasan feminis seperti ini jelas tidak hanya mengungkapkan bias jender di masyarakat, tetapi juga menentang keras budaya patriarki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-7975514796271508328?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/7975514796271508328/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=7975514796271508328' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/7975514796271508328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/7975514796271508328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/mata-matahari.html' title='mata matahari'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-5320851513663131634</id><published>2007-11-29T17:06:00.009+07:00</published><updated>2007-11-29T17:28:12.049+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='article'/><title type='text'>KEBERPIHAKAN SISTEM TRANSPORTASI INDONESIA</title><content type='html'>Rangkaian kecelakaan lalu lintas baik darat, laut maupun udara yang terjadi di negara kita baru-baru ini sungguh memprihatinkan. Dalam rentang waktu kurang dari sebulan terakhir ini saja, tercatat beberapa kecelakaan yang merenggut ratusan korban jiwa. Belum tuntas pencarian bangkai Kapal Motor Senopati dan pesawat AdamAir, menyusul anjloknya rangkaian gerbong kereta Bengawan. Entah apa yang sesungguhnya menyebabkan berbagai kecelakaan tersebut, namun hal ini menunjukkan betapa buruknya sistem transportasi di Indonesia.&lt;br /&gt;Apalagi bila kita menengok sedikit ke masa silam, pada tahun 2006 misalnya, menurut laporan sebuah stasiun televisi swasta tercatat 76 kecelakaan kereta api. Angka yang cukup banyak untuk jalur kereta yang sangat sedikit. Penyebab secara umum adalah kondisi rel yang sudah tua, kelebihan muatan, dan kelalaian manusia. Penyebab yang tidak mengherankan, mengingat jalur kereta yang kini beroperasi di Negara kita hampir seluruhnya merupakan “warisan” kolonial Belanda. Demikian juga dengan usia kereta yang kebanyakan sudah renta, jarang sekali didatangkan kereta baru (diimpor karena memang negara kita belum mampu membuat sendiri).&lt;br /&gt;Masalah kecelakaan lalu lintas sebenarnya hanya sebagian kecil dari permasalahan kompleks sistem transportasi kita. Masih banyak permasalahan yang tak kunjung terselesaikan. Mari kita cermati beberapa masalah lainnya seperti, keadaan transportasi massa pada saat mudik lebaran, keadaan transportasi di pelosok desa dan wilayah terpencil di pulau-pulau negeri ini, kondisi jalan di berbagai daerah, pemalakan dan pungli yang kerap terjadi di terminal dan pelabuhan, dan masih banyak permasalahan lain yang mungkin sejenak terabaikan karena perhatian kita tersita oleh kejadian yang lebih menghebohkan. Masalah-masalah ini tak kunjung juga terselesaikan. Lalu siapa yang bertanggung jawab atas semua ini? Sebuah pertanyaan invertif dan kita telah mafhum dengan jawabannya.  &lt;br /&gt;Berbagai permasalahan tersebut sekali lagi menambah catatan buruk sistem transportasi Indonesia. Sebuah nilai rapor merah yang bertolak belakang dengan pesatnya industri otomotif belakangan ini. Mobil dan motor terus diproduksi secara besar-besaran. Akibatnya tak ayal lagi kemacetan terjadi di kota-kota besar. Untuk mengantisipasi masalah ini, pemerintah mengusahakan pembangunan beberapa ruas jalan tol dan fly over baru. Sebuah usaha yang memang memberi kemudahan bagi pengguna jalan. Akan tetapi, di sisi lain, pembangunan jalan tol dan fly over ini memicu semakin banyaknya masyarakat kalangan menengah ke atas untuk memiliki kendaraan pribadi. Artinya pengguna jalan tol kebanyakan mobil pribadi yang biasanya dimiliki oleh masyarakat menengah ke atas.&lt;br /&gt;Di sisi lain, transportasi massa masih menyisakan banyak pekerjaan. Setiap tahun pemerintah kewalahan mengantisipasi mudik lebaran, kecelakaan kereta masih kerap terjadi, kelebihan muatan masih dipaksakan dalam kapal, bis, dan kereta api. Akibatnya kecelakaan pun kerap terjadi. Anehnya, setelah kecelakaan terjadi tidak mudah menyimpulkan penyebab kecelakaan, cuaca buruk sering menjadi kambing hitam. Demikian juga dengan evakuasi yang terkesan lamban dan kadang-kadang diskriminatif. Kita tahu, evakuasi AdamAir lebih dahsyat dan melibatkan lebih banyak orang daripada evakuasi terhadap KM Senopati. Padahal kedua alat transportasi ini sama-sama belum ditemukan, bahkan korban KM senopati jauh lebih banyak dibanding korban AdamAir.&lt;br /&gt;Mencermati keadaan transportasi massa di kota besar, kita bisa memperhatikan keadaan bus kota. Seonggok besi tua yang terus dipacu dengan beban yang berjejal. Orang-orang berdiri berdesak-desakan dengan peluh bercucuran. Knalpotnya mengepulkan asap hitam. Polusi udara tak terhindarkan, padahal pemerintah dan pencinta lingkungan menyatakan perang terhadap polusi asap kendaraan bermotor. Parahnya lagi, awak bus sempat berdemonstrasi meminta pembayaran beberapa bulan gaji mereka yang belum ditunaikan manajemen. Ada apa dengan semua ini? Jangankan memperbaiki fasilitas dan pelayanan, yang ada pun terus digerus usia dan kebobrokan manajerial.&lt;br /&gt;Semua itu hanyalah contoh kecil dari banyak masalah lain dari sistem transportasi yang merundung negeri ini. Padahal pemerintah telah membentuk banyak sekali lembaga yang terkait dan berperan di dalam sistem transportasi. Pemerintah beserta lembaga-lembaga tersebut seyogyanya memperhatikan masalah-masalah pelayanan transportasi publik. Bukannya menyangsikan kinerja mereka, namun selama ini belum ada bukti nyata keberpihakan pemerintah dan lembaga terkait pada masyarakat kecil yang menggunakan alat transportasi massa. Adapun janji pemerintah untuk membangun jalur kereta baru, tak kunjung dilaksanakan. Mungkin masih dalam proses rumitnya birokrasi, atau hanya isapan jempol semata.&lt;br /&gt;Sistem transportasi Indonesia belum berpihak pada rakyat kecil. Kita harus kembali bersabar, sementara kita yang sehari-hari menggunakan alat transportasi massa tidak punya jaminan keselamatan. Jangankan berharap fasilitas yang memadai, kita masih harus berhati-hati karena fasilitas yang sedang kita gunakan tidak memberi jaminan keselamatan. Kalau ingin mendapat fasilitas yang enak, kita harus membayar mahal. Itulah yang terjadi. Semoga hal ini bisa membuka mata kita semua sehingga keinginan untuk mendapatkan yang lebih baik tertanam pada semua pihak termasuk pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-5320851513663131634?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/5320851513663131634/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=5320851513663131634' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/5320851513663131634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/5320851513663131634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/keberpihakan-sistem-transportasi.html' title='KEBERPIHAKAN SISTEM TRANSPORTASI INDONESIA'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-1959615080707021285</id><published>2007-11-29T17:06:00.008+07:00</published><updated>2007-11-29T17:38:52.894+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='article'/><title type='text'>“ASUPAN”</title><content type='html'>Saat ini banyak orang yang ragu bila Indonesia adalah negeri yang kaya, makmur sandang, pangan, dan papan. Lagu Koes Plus “bukan lautan tapi kolam susu” hampir tidak berlaku lagi. Beberapa kasus yang terjadi belakangan membuktikan bahwa negara tidak bisa menjamin kemakmuran rakyatnya. Busung lapar di beberapa daerah, kelaparan di Yahukimo, dan kemiskinan yang tak kunjung terselesaikan menjadi tanda betapa negeri ini memprihatinkan.&lt;br /&gt;Media masa telah memberi informasi yang cukup bagi masyarakat tentang kasus-kasus tersebut. Berita keprihatinan dari berbagai sudut negeri telah menjejali nurani kita. Setiap menit selalu ada bencana yang tersiar melalui media lalu sampai kepada kita. Lama-lama panca indera kita pun terbiasa dengan berita-berita tersebut.&lt;br /&gt;Bila kita mencermati berita tersebut, ada hal yang menarik. Dalam berita yang telah menjadi biasa itu muncul sebuah kosa kata yang menggelitik di telinga. Perhatikan kalimat berikut:&lt;br /&gt;1) Kurangnya asupan gizi seimbang menyebabkan busung lapar.&lt;br /&gt;2) Masyarakat Yahukimo membutuhkan asupan makanan bergizi supaya terhindar dari bencana yang labih besar.&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk kalimat seperti ini acap kali muncul dalam berita di televisi baru-baru ini. Dilihat dari segi morfologisnya, kata asupan termasuk jenis kata benda yang secara gramatik dibangun dari kata asup + sufiks -an. Jenis kata seperti ini dapat disejajarkan dengan kata “makanan” (makan + sufiks -an), “minuman” (minum + sufiks -an), “tangisan” (tangis + sufiks -an) dan sebagainya.&lt;br /&gt;Selain kata asupan kita lebih dulu mengenal kata “masukan” yang proses pembentukannya sama, yaitu masuk + sufiks -an. Kata masukan diartikan sebagai saran atau nasihat yang membangun. Perhatikan contoh kalimat berikut “Saya mengharapkan masukan Anda untuk penyempurnaan makalah ini”. Kata masukan yang telah sangat lama digunakan ini cukup berterima di semua kalangan&lt;br /&gt;Namun tidak demikian dengan kata asupan. Kata ini tidak ditemukan dalam KBBI. Kata asup justru ditemukan di kamus Bahasa Sunda yang artinya persis sama dengan kata masuk dalam Bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;Dalam bahasa Sunda kata asupan dibentuk dari proses gramatik asup + sufiks -an. Bentuk kata seperti ini sejajar dengan kata timuan (timu + sufiks -an), lungsuran (lungsur + sufiks -an), dan sebagainya. Kata-kata asupan, timuan dan lungsuran termasuk kata benda. Namun perhatikan juga kata-kata cokotan (cokot + sufiks -an), lobaan (loba + sufiks -an). Meskipun proses pembentukan kata-kata ini sama, ternyata jenis katanya berbeda. Kata cokotan berjenis kata kerja (perintah), dan lobaan kata keterangan.&lt;br /&gt;Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa, 1) kata asupan yang belakangan ini sering muncul di media massa merupakan kata serapan dari Basa Sunda. Proses penyerapan kata asupan adalah penyerapan yang tanpa gejala perubahan. Artinya kata asupan diserap seutuhnya, baik bentuk maupun maknanya, dan 2) nyata negeri yang kekurangan ini membutuhkan asupan kosakata asing disamping asupan materi untuk memperbaiki keterpurukan selama ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-1959615080707021285?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/1959615080707021285/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=1959615080707021285' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/1959615080707021285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/1959615080707021285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/negeri-yang-kekurangan-ini-membutuhkan.html' title='“ASUPAN”'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-5203884326868675871</id><published>2007-11-29T17:06:00.007+07:00</published><updated>2007-11-29T17:24:51.934+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='leterkunde'/><title type='text'>MAKAM DI BAWAH KEMBANG KERTAS</title><content type='html'>Dulu, aku sering bermain ke bukit di balakang rumah, menyusuri deretan pohon cemara, menghirup uap embun yang menggeliat dari pucuk-pucuk daunan teh. Dari puncak bukit itu dapat kulihat lekuk-lekuk lembah dan punggung perbukitan memantulkan hijau perkebunan teh. Aku juga suka mengamati lekuk-lekuk pokok teh yang entah berapa puluh atau ratus tahun usianya. Kakekku pernah bercerita, pokok-pokok teh itu telah ada sejak zaman Belanda. Memang, tanah kelahiranku dulunya afdelling sebuah perkebunan yang mutunya bagus.&lt;br /&gt;Kakek juga pernah bercerita tentang segala hal peninggalan Belanda yang dulunya ada di sini. Di tegalan yang kini ditanami singkong dan ubi oleh orang-orang dulunya lapangan tenis, pilar-pilar yang berserakan itu adalah bekas gedung seorang Belanda petinggi perkebunan, dan di atas tanah berbatu yang tak jelas milik siapa itu dulunya berderet gedung-gedung yang isinya nona-nona berambut pirang. Ceritanya, di halaman gedung itu biasa berlalu-lalang binatang hutan seperti rusa, menjangan dan kelinci. Tuan-tuan Belanda itu memberi mereka makan setiap hari. Singkatnya, tanah ini dulu begitu asri, indah, dan damai.&lt;br /&gt;Tapi itu semua dulu, zaman Belanda. Sekarang suasananya telah berganti menjadi wajah perkampungan yang tak teratur. Tidak ada lagi pohon cemara yang berderet di pinggir jalan. Perkebunan pun tampak kusam, banyak pokok teh yang sengaja ditebang untuk kayu bakar, tanahnya ditanami palawija. Demikian juga gedung-gedung yang megah berdiri, kini tinggal tanah berpasir dan batu dengan beberapa sisa pilar yang berserakan. Apalagi binatang-binatang yang dulu sering berlalu-lalang di halaman, kini entah di mana, karena di hutan pun tak mudah ditemui. Perkebunan telah bangkrut sejak enam tahun lalu. Sejak itu masyarakat mengambil alih perkebunan yang terlantar. Sementara gedung-gedung yang berdiri kokoh itu akhirnya rubuh setelah bagian demi bagian dipreteli oleh warga.&lt;br /&gt;Sebenarnya masih ada dua sisa kejayaan perkebunan Belanda yang masih berdiri. Satu jembatan di pinggir desa, dan satunya lagi sebentuk makam yang dinaungi pohon kembang kertas merah muda. Bila gedung-gedung dirubuhkan dengan alasan dianggap menjadi rumah hantu karena terpencil dan tidak berpenghuni, maka jembatan itu sengaja dibiarkan karena memang masih dibutuhkan untuk transportasi warga. Sedangkan makam di bawah kembang kertas itu tidak pernah diganggu karena dianggap terlalu angker sehingga tidak ada warga yang berani mengganggu.&lt;br /&gt;Tentang makam itu kakek juga pernah bercerita. Katanya yang dikuburkan di sana sebenarnya adalah dua orang gadis Belanda yang meningal sekitar tahun 20-an. Di atasnya dipajang dua patung anak perempuan dari marmer kira-kira setinggi 50 cm. Kemudian di sisinya ditanamkan sebatang kembang kertas yang kini sulur-sulurnya telah menjalar ke segala arah. Jadilah makam itu teduh dan lembab, sehingga makam jadi berlumut, tidak bertuan, dan tidak terawat.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Tidak biasa orang itu bertandang ke rumah kakek. Bewok namanya. Ia dikenal sebagai orang pintar. Selain tubuhnya yang tinggi besar, ia juga tampak seram dengan kumis dan jenggot tebal serta jambang yang dibiarkan berjuntai di pipinya. Selain penampilannya yang sesuai dengan namanya, ia juga dianggap memiliki kekuatan supranatural, yaitu bisa berkomunikasi dengan mahluk gaib. Sebagian orang memercayai kekuatan yang dimilikinya, namun banyak pula yang menganggapnya sebagai pembohong belaka.&lt;br /&gt;“Ada apa Jang? tak biasanya Ujang Bewok datang ke sini.”  Tanya kakek setelah beberapa saat berbasa-basi.&lt;br /&gt;“Begini Kek, saya ingin tahu cerita tentang makam di kembang kertas itu, Kek. Singkatnya, saya mau membandingkan temuan saya tentang makam itu denga Kakek yang tahu sejarah zaman dulu.” Katanya.&lt;br /&gt;            “Ah, saya tidak tahu apa-apa, lagi pula sudah tua begini mah sudah banyak lupa. Memangnya, Ujang Bewok teh punya temuan apa?” Kakek merendah.&lt;br /&gt;            “Begini, saya sudah tiga kali didatangi penunggu makam itu dalam mimpi. Terakhir dia menunjukkan pada saya bahwa di sana dikuburkan harta. Harta karun, Kek. yang saya lihat adalah sebuah peti yang penuh dengan perhiasan dan uang emas. Nah, saya ke sini untuk meyakinkan, apakah benar dulu di sana ada peti yang dikuburkan?” Bewok menjelaskan.&lt;br /&gt;            “Setahu kakek tidak ada apa-apa. Hanya dua mayat gadis kembar yang dimakamkan di sana. Kakek yakin, karena kakek ikut menggali tanah dan memakamkannya.” Kakek meyakinkan.&lt;br /&gt;            “Mengenai patungnya? Itu marmer, bukan?” Bewok semakin mendesak dengan pertanyaan.&lt;br /&gt;            “Itu juga kakek kurang tahu, kakek tidak bisa membedakan yang mana marmer, dan mana batu biasa, memangnya kenapa juga dengan patung itu?” Kakek mulai curiga.&lt;br /&gt;            “Tidak, Kek. Tidak ada apa-apa.”       &lt;br /&gt;Begitulah pertemuan Kakek dengan Bewok. Aku mendengarkan dengan seksama obrolan mereka. Sebenarnya, aku curiga ada rencana yang disembunyikan oleh Bewok tentang makam itu. Namun setelah kecurigaan itu kuungkapkan pada kakek, ia justru menasehatiku, “tak baik berprasangka buruk pada orang lain”, katanya. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Malam itu sepi, benar-benar sepi. Tak ada riuh orang lewat meronda. Ronda hanya ada setelah ada beberapa kali rumah warga dibobol maling. Tak ada juga suara orang yang mengaji di surau, pengajian hanya ada malam Jum’at. Tak ada suara anak-anak muda bermain gitar dalam tongkrongan di warung Bi Yati. Warung itu sudah tutup sejak dua bulan yang lalu. Tak ada modal. Sedangkan warga yang lain mungkin sudah terlelap dalam kelelahan setelah seharian kerja di ladang orang. Ya, mereka bekerja untuk orang lain, pendatang yang punya modal. Sementara orang desa yang asli sejak dulu hanya menjadi kuli. Bedanya, zaman belanda mereka bekerja dengan menghasilkan sedikit gaji bulanan dan rumah bedeng. Gaji itu mereka gunakan untuk makan sehari-hari, dan kalau sedikit menabung dapat beli baju setahun sekali. Di bedeng mereka sekeluarga lengkap berteduh sepanjang usia. Sementara sekarang mereka mendapat sedikit upah yang tak pasti. Rumah mereka pun tak jauh beda dengan bedeng zaman perkebunan. Di rumahnya sekarang mereka berteduh, namun tidak utuh. Anak-anak mereka pergi ke kota. Anak-anak perempuan menjadi pembantu rumah tangga, dan anak-anak laki-lakinya menjadi kuli bangunan. Jadi, apa yang beda?&lt;br /&gt;Dalam lindap sunyi tengah malam aku masih terjaga. Pikiranku gelisah tak menentu, mata terpejam tapi hati benakku terus meracau tentang sesuatu yang tak jelas apa isinya. Tapi aku terlalu malas untuk mengenyahkan badan dari tempat tidur, lagipula malam terlalu sunyi untuk dinikmati. Tiba-tiba kudengar lamat-lamat suara mobil yang lewat. Rumahku hanya sekira 40 meter dari jalan desa yang tak beraspal itu, jadi meski ada mobil yang berjalan pelan, aku masih bisa mendengarnya. Siapa malam-malam begini lewat desaku? Tapi pikirku hanya sampai di situ. Tak ada prasangka apa-apa. Lagipula terlalu banyak kemungkinan positif tentang mobil yang lewat di malam hari. Ah sudahlah. Yang pasti perjuanganku untuk memetik bunga tidur hampir kesampaian. Kantuk sudah datang.&lt;br /&gt;Berkas-berkas sinar matahari baru muncul di balik perbukitan. Awan putih masih menguning pada pagi yang ranum. Masih sedikit malas aku terbangun, buka jendela, lemparkan selimut ke sudut kasur, lalu aku beranjak ke pancuran di belakang rumah. Empang belakang rumah tampak menguapkan udara dingin. Aku ragu-ragu menyentuh air yang jatuh dari sebatang bambu tua. Namun sebelum tanganku menyentuh dinginnya air, aku dikejutkan oleh suara derap langkah yang tergesa. Beberapa orang desa setengah berlari menuju sesuatu.&lt;br /&gt;“Wooi, ada apa? Kenapa terburu-buru seperti itu?” aku berteriak pada Usman, Amran, Agus dan Dade yang kulihat ikut dalam derap mereka.&lt;br /&gt;”Ada mobil terperosok di jembatan tua?” Amran yang menjawab.&lt;br /&gt;Kuurungkan niatku mencuci muka. Aku langsung mengikuti mereka menuju jembatan tua peninggalan Belanda di batas desa. Riuh sekali orang-orang mengerubungi jembatan itu. Aku menyelusup kerumunan untuk memastikan apa yang terjadi. Astaga, jembatan itu rubuh, tembok tuanya bergelimpangan di atas kali. Namun bukan itu yang membuatku merasa ngeri, sebuah colt bak terbuka tersungkur ke dasar kali. Darah mulai mengering pada kaca dan pintu mobil. Bewok dan seorang anak buahnya, Agun mati tak berdaya dengan nafasnya yang begitu berat. Selain mereka tampak seseorang yang tak kukenal juga tak bergerak di belakang kemudi. Tampaknya yang satu ini orang kota, pakaiannya terlihat mahal dan perlente, meski kini dipenuhi bercak darah. Mereka semua luka-luka sangat parah.&lt;br /&gt;Colt itu mengangkut beberapa barang. Di bak belakangnya ada sebatang tunggul pohon dengan akarnya. Tak jelas pohon apa, sudah tak ada daunnya, tapi tunggul itu unik bentuknya seperti batang bonsai yang besar. Selain tunggul itu, tersungkur sebuah karung yang tampaknya berisi benda padat. Seseorang membukanya perlahan-lahan. Pecahan batuan berwarna putih kecoklatan sedikit gemerincing saat karung itu digerakkan. “patung euy! Ini, kepalanya ada dua” kata lelaki yang membuka karung sambil mengangkat dua kepala patung perempuan.&lt;br /&gt;Segera aku teringat pada makam di bawah kembang kertas. Pikiranku juga terkait dengan pembicaraan Bewok dengan Kakek waktu itu. Jangan-jangan? Ah, aku tak menunggu waktu lagi, aku berlari menuju makam kembang kertas, dari tempat itu sekitar dua ratus meter jauhnya. Dalam nafas yang masih terengah-engah, aku mendapati rimbun ranting kembang kertas sudah layu menindih makam. Bunga dan guguran daunnya berserakan di atas rumput dan tanah merah. Aku singkapkan ranting dan dedaunan itu. Di bawahnya kulihat  makam telah hancur. Bekas temboknya bergelimpangan, kedua patungnya hilang, tanahnya berlobang bekas galian.&lt;br /&gt;Melihat kehancuran itu aku hanya termenung. Hanya inikah yang bisa dilakukan orang untuk desanya? Memperkaya diri, mencari keuntungan pribadi tanpa peduli pada kerusakan yang diakibatkan oleh usaha serakahnya itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-5203884326868675871?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/5203884326868675871/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=5203884326868675871' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/5203884326868675871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/5203884326868675871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/makam-di-bawah-kembang-kertas.html' title='MAKAM DI BAWAH KEMBANG KERTAS'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-76559228155272149</id><published>2007-11-29T17:06:00.006+07:00</published><updated>2007-11-29T17:21:33.899+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fione is Death'/><title type='text'>poeizie 2</title><content type='html'>Sebulan di Pembaringan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.                  Ketika hanya ada nafas yang tersisa&lt;br /&gt;            Dan darah mengalir tanpa tenaga&lt;br /&gt;Ketika rubuh, aku tak bisa berdiri&lt;br /&gt;Dan dalam setiap ketika, aku&lt;br /&gt;Selalu terjaga. Aku mengingatmu,&lt;br /&gt;aku membayangkanmu.&lt;br /&gt;Kadang iba menyesak di dada,&lt;br /&gt;Tapi rinduku tak mungkin tertunda.&lt;br /&gt;Ketika jari-jemariku menyusut,&lt;br /&gt;Cincin yang melingkar di jariku&lt;br /&gt;Pun melonggar, tapi tak pernah lepas.&lt;br /&gt;Di sini aku hanya bisa berharap pada kabut&lt;br /&gt;untuk menyampaikan rinduku padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.                  Siapa yang membangunkanku dari sepi?&lt;br /&gt;Siapa yang menopangku untuk berdiri?&lt;br /&gt;Siapa yang menaruh ragu,?&lt;br /&gt;Siapa yang mengembalikanku&lt;br /&gt;pada penjara yang bernama sepi?&lt;br /&gt;Siapa yang menyapaku hari ini?&lt;br /&gt;Tak ada kabar berita,&lt;br /&gt;Tak ada yang menyeruak tenaga,&lt;br /&gt;tak ada yang ada&lt;br /&gt;Dan penjara itu masih bernama sepi.&lt;br /&gt;Di sini rindu bukannya tak ada,&lt;br /&gt;Tapi lewat apa tersiar padamu?&lt;br /&gt;Jika hujan hanya jatuh di sini,&lt;br /&gt;jika kabut hanya turun di sini.&lt;br /&gt;Dan jika sepi hanya terjadi di sini.&lt;br /&gt;Darahku masih berkisar untuk hari ini,&lt;br /&gt;Berjalan lambat,&lt;br /&gt;mana bisa aku mengejarmu?&lt;br /&gt;Tetapi kuinginkan dirimu hari ini&lt;br /&gt;Meski tak mungkin&lt;br /&gt;Dan penjara itu masih bernama sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.                  Ada cerita yang berlebih&lt;br /&gt;daripada kisah&lt;br /&gt;dari tempat tidur ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.                  lamunan yang tak tentu&lt;br /&gt;menyiksaku dalam malam dan siang&lt;br /&gt;yang purba. Aku tak mengerti&lt;br /&gt;ada apa denganmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau menyiksaku di dalam kesendirian ini&lt;br /&gt;Sedang aku hanya bisa merasakan sakit&lt;br /&gt;Dan rinduku tak terkira.&lt;br /&gt;Aku hanya bisa berharap dan berharap&lt;br /&gt;Seperti sayapku yang patah,&lt;br /&gt;Aku tak sanggup menggapaimu.&lt;br /&gt;Bahkan tak bisa jua dalam mimpi.&lt;br /&gt;Karena pada malam-malam ini&lt;br /&gt;Mimpi pun bukan milikku.&lt;br /&gt;Aku terus terjaga dalam lamunan&lt;br /&gt;Yang menyeretku dalam kenistaan&lt;br /&gt;Entah sampai kapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.                  jiwaku terbaring lesu&lt;br /&gt;pikiranku terurai bersama dinginnya kabut&lt;br /&gt;yang menuruni lembah.&lt;br /&gt;Bayangku mengembara bersama angin&lt;br /&gt;Di sini selalu hujan&lt;br /&gt;Di sini selalu hujan&lt;br /&gt;Inginku terlalu banyak, Tapi izinkan&lt;br /&gt;Seseorang menyeka embun&lt;br /&gt;yang tergenang di wajahku&lt;br /&gt;Atau sekedar menyibak kabut&lt;br /&gt;Yang tersangkut di rambutku.&lt;br /&gt;Panca indraku selalu berkutat&lt;br /&gt;Pada peredaran waktu&lt;br /&gt;Bunyi jam yang berdetak&lt;br /&gt;mengiringi denyut nadi&lt;br /&gt;dan putaran jarum detik itu&lt;br /&gt;menyeretku untuk berputar bersamanya&lt;br /&gt;terpaksa aku mengeja labirin waktu&lt;br /&gt;juga entah sampai kapan&lt;br /&gt;ruangku dibatasi tempat tidur ini&lt;br /&gt;tak ada cerita yang terukir di sini&lt;br /&gt;karena yang kubaca hanyalah bahwa&lt;br /&gt;satu hari satu malam adalah 24 jam&lt;br /&gt;satu jam 60 menit dan satu menit&lt;br /&gt;adalah 60 detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandanganku jatuh di luar kaca&lt;br /&gt;jendela. Sekira burung gereja&lt;br /&gt;hinggap di antara batu-batu&lt;br /&gt;lalu terbang dan datang lagi&lt;br /&gt;mereka punya sayap, mereka terbang&lt;br /&gt;dan itu hanyalah mimpiku&lt;br /&gt;untuk menggapaimu, tapi hari ini mimpiku&lt;br /&gt;terpatahkan…&lt;br /&gt;aku tak bisa terbang&lt;br /&gt;sadar bahwa diriku hanya bisa&lt;br /&gt;terbaring lesu. Terkapar dalam&lt;br /&gt;angan. Terpuruk dalam sepi&lt;br /&gt;sendiri…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-76559228155272149?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/76559228155272149/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=76559228155272149' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/76559228155272149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/76559228155272149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/poeizie-2.html' title='poeizie 2'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-5098077599467037368</id><published>2007-11-29T17:06:00.005+07:00</published><updated>2007-11-29T17:20:13.008+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fione is Death'/><title type='text'>poeizie 1</title><content type='html'>Secangkir Kopi untuk Fione&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rinduku malam ini adalah keinginan untuk membunuh sajak-sajak sunyi&lt;br /&gt;dan setangkup luka karena cipratan air mata yang terlalu biasa&lt;br /&gt;Rinduku malam ini adalah keinginan untuk mengugurkan daun-daun beringin di partere mengisi kolam yang diam, semakin pekat kenangan larut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulu-bulu mata ocehkan dongeng dan mitos cinta pada detak detik jam dinding yang menyeret mimpi. Sepasang kupu dihempas sayap kelelawar jatuh di atas kertas buram.&lt;br /&gt;Ampas kopi Lampung melobang hitam di cangkir keramik bergambar bola&lt;br /&gt;Titik-titik, angka-angka, jarum-jarum jam melompat ke dalam cangkir. Pun mimpi yang baru sedetik tadi belajar terbang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berhenti setelah malam dikebiri. Tapi obrolan kitalanjut saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 Juli 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Embun Pertama Musim Kemarau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Embun pertama musim kemarau&lt;br /&gt;sembunyi di sela-sela kelopak teratai.&lt;br /&gt;Cinta menetes di atas telaga yang diam&lt;br /&gt;Jatuhan daun di taman ini sejenak berhenti&lt;br /&gt;Menjadi Abu Bakar saksi yang siddiq&lt;br /&gt;Mendengarkan pengakuanmu yang puisi&lt;br /&gt;Cinta yang sombong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarau Bulan Juli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku berbagi kenangan dengan kota ini&lt;br /&gt;Catatan awal perjalanan kularut dalam pekat limbah kota&lt;br /&gt;yang tersumbat di bawah jembatan tua&lt;br /&gt;Epik panjang perjuangan berubah menjadi securah requiem&lt;br /&gt;dan entah mengalir ke mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggallah sebait kata yang masih dapat kubaca&lt;br /&gt;pada karat mihrab sebuah masjid&lt;br /&gt;: Cinta adalah sepetak ladang jagung di tanah kelahiran&lt;br /&gt;Kemarau yang fana&lt;br /&gt;Sebuah Pertemuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulang sudah kubacakan empat ayat Keroncong Motinggo*&lt;br /&gt;Kucerap kembali setiap pesan singkatmu&lt;br /&gt;yang kini tersangkut di pucuk-pucuk cemara&lt;br /&gt;Kau masih lekat dengan penyaruan menjadi sufi&lt;br /&gt;Akhirnya kutebus kembali setiap jengkal perjalanan kita&lt;br /&gt;Dengan langkahku yang sendiri&lt;br /&gt;Kau masih berpusar dalam tari suci bersama rintihan&lt;br /&gt;Seruling dan tabuh gendang para santri&lt;br /&gt;Kuhadapkan wajahku menentang wajahmu&lt;br /&gt;Kau hanya mengernyitkan dahi&lt;br /&gt;Tak kudapati lagi lengkung alismu yang dulu penuh cerita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* empat dari lima bagian salah satu puisi Subagio Sastrowardojo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang Berjalan di Kota Hilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perempuan gamis hitam berjalan dalam hujan&lt;br /&gt;Malam jenuh menjelang. Berjajar etalase satu-satu ditutupi rollingdoor&lt;br /&gt;Perempuan laju sendiri. Angkot laju, becak laju, malam laju&lt;br /&gt;Hujan diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi kulihat perempuan gamis hitam berjalan dalam malam.&lt;br /&gt;Sendiri menuju kedalaman sunyi.  Sekali menoleh ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutelanbulat kota yang malam. Lampu-lampu jalan patah tumbang.&lt;br /&gt;Semakin larut, semakin sempit. Semakin sendiri, semakin sunyi.&lt;br /&gt;Perempuan gamis hitam masih berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agustus 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epilog Mimpi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari manakah kaupetik bunga tidur setiap malam?&lt;br /&gt;dari rimba perasaan bersalah atau taman resah&lt;br /&gt;mengapa kauhadirkan aku dalam setiap kelopak mimpimu?&lt;br /&gt;jangan katakan ada rindu.&lt;br /&gt;karena rindu adalah anak haram percintaan kau dan aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;September 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpisahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akutahu ada yang ingin kaukisahkan lebih&lt;br /&gt;dari sembab matamu yang penuh cerita&lt;br /&gt;tapi telingaku telah berakar kerelaan untuk&lt;br /&gt;membiarkanmu di alam setengah nyata&lt;br /&gt;setengah mimpi. Rasa iba hatiku adalah gamis&lt;br /&gt;                                    pada etalase toko yang dulu ingin kaubeli&lt;br /&gt;                                    dan kini&lt;br /&gt;menyeret ku dan mu ke alam nyata yang berbeda&lt;br /&gt;zarah pun tertawa saat aku melakukan dosa&lt;br /&gt;karena diamku. Aku tak menagih utang yang tak sempat&lt;br /&gt;kautunaikan untukku. Tak juga separuh janji&lt;br /&gt;Astaghfirullah,&lt;br /&gt;akupun berdosa saat ini. Menemanimu yang telah bersuami&lt;br /&gt;dan bahwa kau masih mencintaiku adalah sebuah pengakuan&lt;br /&gt;dari sisa-sisa keberanianmu untuk percayai aku.&lt;br /&gt;sudah itu tinggalah kebingungan bersarang dalam sukma&lt;br /&gt;                                    setiap kebaikan yang kulakukan&lt;br /&gt;                                    adalah harapan yang mengganggu&lt;br /&gt;jangan pula kaukatakan ingin bertemu denganku di surga&lt;br /&gt;karena surga hanyalah mimpi bagi pendosa seperti kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oktober 2006 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Pertemuan Panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas canda perjamuan buka puasa&lt;br /&gt;Aroma kerinduanku pada saat seperti ini pekat dalam bumbu gulai&lt;br /&gt;Ada semangat muncul dari pucuk-pucuk selada. Dan tawamu basah&lt;br /&gt;Menempel pada kecap ayam bakar. Perkenalan kita pun lumer&lt;br /&gt;Seruput es teh manis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal yang ringan untuk cinta yang masih meragukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam langkah yang ringan kita pun telusuri malam&lt;br /&gt;Ingin kugamit lengan kecilmu namun aku tak berani&lt;br /&gt;Ingin kulingkarkan tanganku di pinggang kecilmu&lt;br /&gt;Tapi terlalu lancang untuk pertemuan pertama&lt;br /&gt;Mungkin suatu hari nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan pun terlalu sayang untuk kuakhiri&lt;br /&gt;Bila saja keangkuhanku tak cepat kusadari:&lt;br /&gt;            Pantaskah kau untuk kumiliki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin suatu hari nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati kita bertemu di suatu tempat&lt;br /&gt;Entah di mana mungkin mimpi&lt;br /&gt;atau di pucukpucuk cemara &lt;br /&gt;bersama SMS yang tertahan&lt;br /&gt;ada rindu yang tertahan&lt;br /&gt;dan entah mengalir ke mana&lt;br /&gt;seperti angin terbang menuju takdir&lt;br /&gt;yang isinya mungkin suatu hari nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan kita kembali ke meja makan&lt;br /&gt;Ada tawa dan cerita yang terlalu pagi sebelum matahari&lt;br /&gt;Aku mencintaimu takut embun menguap ke udara&lt;br /&gt;bersama geliat hari&lt;br /&gt;Dan cerita pagi pun usai di muara tanya&lt;br /&gt;Ke laut atau ke hulu takdir suatu hari nanti&lt;br /&gt;Mungkin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari keempat pertemuan kita telah sekian kali&lt;br /&gt;lengkung alismu terkuak di antara tawa kanakmu&lt;br /&gt;dan genggaman yang masih canda&lt;br /&gt;Sebelum koyak mari tersenyum&lt;br /&gt;setelah tawa dan lesung pipi berbagi mimpi&lt;br /&gt;Adalah sebuah pengakuan yang berjinjit:&lt;br /&gt;hatimu untukku entah sejak kapan&lt;br /&gt;mungkin sejak tengah hari&lt;br /&gt;Sebelum Ashar memanggil layung.&lt;br /&gt;Atau sejak empat hari yang lalu&lt;br /&gt;saat kepercayaan menjadi batu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Yang Indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kilat menjilat kaki langit. Petir getarkan kaca jendela&lt;br /&gt;Gemericik air hujan pecah di pelataran&lt;br /&gt;Sebuah film televisi yang menarik. Sengaja dimatikan.&lt;br /&gt;Aku sendiri ketika tiba-tiba ponselku bergetar&lt;br /&gt;Sebuah pesan pendek dari jauh&lt;br /&gt;Kubalas dengan tawa yang kecil namun penuh arti&lt;br /&gt;Hidupku di rumah ini jauh lebih sederhana dan lebih ringan&lt;br /&gt;Tanpa keinginan membuat sajak tentang hujan&lt;br /&gt;Dan pengertian kilat dan petir&lt;br /&gt;Kusadari waktu yang membingkai hidup mengalir apa adanya&lt;br /&gt;Sebagaimana air hujan mengalir ke selokan, ke sungai, ke muara.&lt;br /&gt;Lalu laut&lt;br /&gt;Dan tentang laut, tak perlu lagi kucari&lt;br /&gt;Rumah ini telah kutemukan untuk istirah&lt;br /&gt;sambil menanam cinta yang mungkin berbunga sejati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-5098077599467037368?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/5098077599467037368/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=5098077599467037368' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/5098077599467037368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/5098077599467037368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/poeizie-1.html' title='poeizie 1'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-1380890440554736329</id><published>2007-11-29T17:06:00.003+07:00</published><updated>2007-11-29T17:18:43.280+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fione is Death'/><title type='text'>PERTEMUAN TERAKHIR</title><content type='html'>Aku berjalan menyusuri riuh alun-alun sore. Menikmati perjalanan ini semacam balas dendam, napak tilas, atau penebusan dosa. Dulu aku sering menjelajah banyak tempat di kota ini bersama Padma. Terlalu banyak kenangan di setiap jengkal wajah kota. Setiap ruas jalan kami jejaki seolah membuat tanda-tanda kekuasaan dari kebersamaan. Setiap sudut kami singgahi seolah membuat batas wilayah. Luas sekali wilayah kekuasaan kami, hingga tak habis kukenang saat ini. Memang, semua perjalanan itu kini hanya pantas untuk dikenang dan pantas untuk dilupakan. Padma telah pergi. Tapi sungguh, tak mudah bagiku untuk melupakannya bersama semua langkah yang kami gariskan di kota ini. Hanya ada satu cara untuk melupakan semua kenangan yang kini sering menggangu, aku harus menebus semua perjalanan itu dengan langkahku sendiri.&lt;br /&gt;Langkahku yang sendiri kubuat bergegas di antara rimba manusia, kantong belanjaan, dan deretan etalase yang angkuh. Ada gejolak dalam dada yang mendidihkan adrenalin. Entah dari mana asal perasaan ini, aku ingin merasakan kekerasan. Ingin dipukuli, ingin memukuli seseorang yang tak pernah jelas siapa. Maka aku berjalan tak menghiraukan orang yang berpapasan. Aku senggolkan bahuku pada setiap laki-laki yang berpapasan. Berharap ada reaksi untuk menghardik, atau memukuliku, lalu bersama baladnya mengeroyok tubuhku, mencabik-cabiknya hingga bermuncratan di atas aspal berdebu. Namun aneh, tak ada reaksi dari mereka, damai. Sebaliknya, pada waktu yang sama, aku pun ingin merasakan kasih sayang dan belaian lembut yang lama kurindukan. Maka aku pun tancapkan pandangan pada setiap wajah perempuan yang berpapasan. Sesekali aku senggolkan bahuku pada tubuh mereka. Berharap jadi cinta, begitu dalam kisah sinetron.&lt;br /&gt;Aku tiba di depan sebuah gedung pusat perbelanjaan. Gedung yang tampak megah dan angkuh dengan tempat parkirnya sampai lantai sepuluh. Segerombol orang turun dari eskalator dan beberapa naik. Aku tertarik juga ikut naik. Di atas eskalator aku memandang sekeliling. Ah, tempat ini tak asing bagiku. Ada kios permen, toko baju, fast food, dan bioskop. Dulu, bersama Padma aku sering ke tempat ini. Aku lanjutkan langkahku menuju eskalator yang kedua, ketiga, keempat, kelima. Aku berhenti setelah sampai di lantai enam gedung. Kususuri sebuah lorong menuju gedung parkir. Lorong beratap fiber, dinding tembok setinggi dada, dan ram kawat di atasnya. Debit angin cukup banyak mangalir ke dalam pertokoan dari gedung parkir yang terbuka.&lt;br /&gt;Aku berdiri di belakang Kijang yang terparkir membelakangi tembok. Dari sini terlihat panorama kota yang berdebu. Gedung-gedung rendah terhimpit gedung-gedung yang tinggi-tinggi. Jalanan sesak dengan manusia dan hampar dagangan kaki lima. Angin menderu-deru menerbangkan rambutku. Dingin di atas ketinggian kurasa sepi. Tanganku menyilang di atas tembok border. Lalu mataku melihat-lihat badan tembok yang sebagian cat kelabunya mengelupas itu. Ada namaku dan Padma dalam kurungan kurva berbentuk hampir daun eceng, hampir buah apel. Aku ingat, Padma yang membuat prasasti ini setahun yang lalu, seolah cinta kami abadi. Aku heran dan terkejut. Kukira tulisan yang ditoreh dengan pisau cutter ini telah lekang dimakan waktu.&lt;br /&gt;Riuh kota tak kurasakan lagi. Angin menerbangkan kenanganku ke udara kota yang kering berdebu. Sejenak aku lupa di mana aku berpijak. Tapi, ah, sudahlah ini semua hanya pekerjaan orang iseng. Aku menolak bahwa aku merupakan bagian yang terlibat dalam prasasti yang sekarang ingin kulupakan. Pokoknya tidak. Bukan aku, bukan Padma.&lt;br /&gt;Aku menarik nafas panjang sambil tengadah ke langit. Sekira burung gereja melintas ke puncak gedung. Di balik menara masjid, matahari sudah memerah. Ada keinginan yang tiba-tiba muncul untuk pergi ke tempat yang jauh dari kota yang jenuh ini. Mataku menerawang panorama. Hei, di seberang sana seperti ada yang kukenal. Seorang perempuan yang tak asing dalam hidupku. Padma, hatiku berteriak.&lt;br /&gt;Aku bergegas menujunya, setengah berlari melewati eskalator turun. Kuterobos kerumunan manusia yang memenuhi badan jalan dan trotoar. Berkali berbenturan dengan tubuh orang tak kupedulikan.&lt;br /&gt;“Padma!” kupanggil namanya saat mendekat. Ia terus berlalu.&lt;br /&gt;“Padma!” kupanggil sekali lagi. Ia menoleh. Menyadari kehadiranku ia malah balik badan dan melanjutkan jalan. Dalam langkahnya yang semakin tergesa. Aku meengejarnya.&lt;br /&gt;“Padma, tunggu Padma, ini aku.” Kataku sambil menangkap lengannya. Akhirnya dia berhenti. Kepalanya tunduk tak berani menatapku. Aku sadar ada suatu beban yang ia sembunyikan. Dari matanya yang mulai sembab aku tahu ada cerita yang telah lama ia tahan.&lt;br /&gt;“Kamu...?” masih memegang pergelangan tangannya, aku lupa mau berkata apa.&lt;br /&gt;“Sudahlah, Mas. Biarkan aku pergi, ini bukan waktu yang tepat untuk kita bertemu. Maafkan aku, Mas! maaf!” lirih bicaranya diiringi derai air mata. Air mata yag seharusnya biasa menetes di pundakku, sekarang jatuh di atas trotoar yang berdebu. Sia-sia.&lt;br /&gt;Tiba-tiba ada tangan yang merenggut Padma dariku. Menyeretnya menuju keriuhan manusia. Kulihat seorang lelaki paruh baya dengan penampilan rapi. Mereka berlalu. Padma berkali-kali menoleh ke arahku. Ada kalimat yang tak terucap, semacam ucapan selamat tinggal, atau kata-kata maaf. Tapi aku tak mendengarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-1380890440554736329?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/1380890440554736329/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=1380890440554736329' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/1380890440554736329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/1380890440554736329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/pertemuan-terakhir.html' title='PERTEMUAN TERAKHIR'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-1064555330091683086</id><published>2007-11-29T17:06:00.002+07:00</published><updated>2007-11-29T17:15:09.260+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fione is Death'/><title type='text'>Mimpi</title><content type='html'>Sudah seminggu aku terbaring lesu di kamar. Aku tidak bisa menggerakkan tubuh. Sakit membuatku merasakan kekalahan yang kedua. Kekalahan pertama adalah saat aku ditinggalkan Padma. Padahal aku telah mengalahkannya dalam sebuah pertempuran. Dia telah menyerah dan berjanji akan menyerahkan segala yang ia miliki untukku. Tapi karena aku lengah, dia pun lari menuju ke arah yang keliru. Dia tiba di sebuah pertempuran lainnya. Di sanalah ia sampai kini terus bertahan. Dan kabar terakhir yang kudapatkan, dia akan segera melahirkan anak pertamanya dari lelaki_seorang panglima_ yang telah dipilihkan untuknya.&lt;br /&gt;Sepi benar-benar menyiksaku. Tenagaku hilang, bahkan tak tersisa sekedar untuk membuka mata. Tidak hanya itu, aku pun kehilangan semangat untuk menatap dunia. Aku masih meratapi kekalahan itu saat keriangan terdengar dari derap kaki yang datang. Dua orang anak perempuan masuk dibimbing seorang perempuan separuh baya. “mereka telah datang,” kata mamaku.&lt;br /&gt;“Siapa dia, Mama?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Boleh jadi dia parajinya” &lt;br /&gt;“Jadi dia juga serta”&lt;br /&gt;“Temui saja” mamaku memberi isyarat agar aku menemuinya di ruang tamu. Di sana kutemui dua bocah perempuan berseragam sekolah kuning-hitam duduk manis di atas sofa. Aku menyalami mereka. Kemudian kudapati Padma dalam ketegangan di dalam balutan kain sarung. Wajahnya pucat berpeluh dingin. Sayup-sayup kudengar hangatnya pembicaraan mama dengan paraji di ruang paling belakang. Padma akan melahirkan, dan mungkin inilah harinya.&lt;br /&gt;Kupegang tangannya, dan dia meremas tanganku. Panas yang mengalir dari tangannya serasa membakar jiwaku. Tapi dengan penuh percaya diri aku menghadapkan wajahku pada wajahnya yang panik. Kenapa kamu datang kemari? Pertanyaan itu kuanggap tak perlu, jadi tak sempat kukatakan.&lt;br /&gt;Dia menatapku. Di keningnya masih kubaca seluk-seluk harapan, dan tetesan kasih sayang. Saat itu aku tahu jiwanya juga terbakar. Sisa-sisa pertempuran batinnya mengepul ke angkasa. Panas menguap dan merembes lewat pori-pori kulit keningnya. Sesaat kemudian kudapati matanya yang sayu berteriak meminta pertolongan. Maaf, aku tak mampu menolongmu, Sayang.&lt;br /&gt;Aku hanya bisa mengatakan: “semoga kamu selamat dalam proses pelahiran anakmu.” Kata-kata itu seakan tidak keluar dari hatiku, tidak juga dari mulutku. Akan tetapi mereka muncul dari tangan kananku. Seperti pisau yang mengkilap dan sangat tajam. Tanpa bisa kukendalikan pisau itu menusukku sendiri. Pedih.&lt;br /&gt;Sejenak aku diam. Di wajahnya kudapati air kehidupan menyayat kedua pipinya. Aku menguatkan diriku untuk tak perduli. Padahal sudah beratus-ratus tahun lamanya aku merindukan air kehidupan itu. Ingin seperti dulu aku berenang di sana, lalu hanyut dalam sedih dan bahagianya. Aku yang membiarkan air matanya mengalir, aku juga yang kadang membuat air mata itu kering. Saat aku menjadi mataharinya. Ah, sudahlah, aku tak mau mati karena mencium wanginya kenangan itu.&lt;br /&gt;“Dan semoga kamu...”&lt;br /&gt;“Tolong, jangan cium keningku!” sergahnya dengan wajah yang tiba-tiba garang. Mungkin peperangan yang memnbuatnya seperi ini. Dia terlalu lama ditinggal sendiri di ladang perangnya. Ucapannya tadi memotong kata-kataku yang aku sendiri tak tahu apa yang akan kukatakan selanjutnya. Tindakannya itu menepuk api amarahku, panas mengumpul di kepala. Kubakar kau dengan apiku. Tetapi tidak juga kulakukan. Air kehidupan di wajahnya kembali memancar deras. Wajahnya kembali teduh dan dingin.&lt;br /&gt;“Lihatlah di sini!” dia menyingkap kain yang menutupi perutnya yang buncit. Ada sesuatu yang sebenarnya tak ingin kulihat bergerak-gerak di sana. Aku tahu itu adalah buah dari peperangannya. Sesuatu yang menjadi simbol kekalahannya dalam perang itu. Sesuatu yang seharusnya tak pernah terjadi karena dalam perang sebelumnya dia telah menyerah padaku. Maka akulah yang seharusnya memberi simbol kekalahannya itu. Kemudian kami telah sepakat untuk sama-sama merawatnya, menjaganya, dan kemudian menjadi simbol kedamaian.&lt;br /&gt;“Aku tak akan pernah menciummu lagi.” Aku berpaling darinya dan melangkah keluar. Apakah aku meninggalkannya? Tidak, aku tidak meninggalkannya. Dalam langkah-langkahku aku sadar, aku tidak meninggalkannya. Tetapi aku telah melemparkannya kembali ke ladang perangnya. Saat itulah aku kembali merasakan kekalahan.&lt;br /&gt;Apa yang telah kuperbuat? Inilah harinya. Lalu aku membayangkan dia melahirkan dengan susah payah di perjalanan menuju perangnya. Paraji membantunya sendiri dengan penuh ketakutan. Sementara adik-adiknya berlarian mencari ayah si jabang bayi. Lelaki yang seharusnya berada di dekat istrinya saat dia melahirkan. Malaikat maut mengelilinginya. Mereka berusaha mengeluarkan dia dari kesakitan. Dia memegangi nyawanya yang terus berontak. Nyawanya terus berpegang pada urat nadi kehidupannya. Dia masih menikmati perangnya. Dia tak mau malaikat maut membawanya ke surga. Padahal surga adalah penantiannya. Janjinya hanyalah bahwa dia akan menantiku di surga. Lalu kenapa kamu menunda-nunda penantianmu? Kenapa?&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriiing....telepon berbunyi lancang. “Halo, Sayang. Bagaimana keadaanmu? Masih sakit?” suara itu mengembalikanku ke pembaringan. Aku masih lesu dibalut pagi yang dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 17 Juli 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-1064555330091683086?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/1064555330091683086/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=1064555330091683086' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/1064555330091683086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/1064555330091683086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/mimpi.html' title='Mimpi'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-4281984869225281096</id><published>2007-11-29T17:06:00.001+07:00</published><updated>2007-11-29T17:13:56.458+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fione is Death'/><title type='text'>GANDRING</title><content type='html'>Ini hari ke seratus perempuan itu tinggal di rumah barunya. Rumah itu milik ibunya, tapi perempuan itu tak pernah mau tinggal di sana. Sejak kecil ia memilih tinggal bersama bapaknya__yang telah bercerai degan ibunya__di kota yang lain. Bersama bapaknya ia tinggal dan mendapat kasih-sayang. Di bawah asuhannya pula ia menjadi dewasa, mandiri, hinga hampir menyelesaikan sarjana. Tapi apa daya, Tuhan menginginkan bapaknya kembali ke sisi-Nya setahun yang lalu.&lt;br /&gt;Di rumah itu ia tidak tinggal sendiri. Ada juga ibunya, tiga adik tirinya, dan suami dari ibunya. Ya, ia tak lagi punya bapak. Lelaki yang seharusnya menjadi bapak (setidaknya bapak tiri) baginya tak lebih dari suami ibunya. Bahkan pada waktu tertentu lelaki itu menjelma menjadi sipir yang sering tega menyiksa tahanan di pejara. Lelaki itu pula yang telah menyeretnya ke dunia asing  yang sunyi. Dunia sesempit penjara di mana jiwanya dikurung dan disiksa. Adalah ibunya yang menjadi cambuk yang kerap diderakan ke jiwanya yang rapuh. Sedang lelaki itu menjadi algojonya. Ibu, aku tak rela membiarkanmu menderita sendiri. Hanya kalimat itu yang membuatnya bertahan. Kedatangannya ke rumah itu telah meninggalkan setumpuk kenangan bersama lelaki pujaannya yang tidak direstui oleh suami ibunya itu.  Sebuah kesalahan yang selalu ia sesali: pada pertemuan terakhir ia menghina habis-habisan lelaki pilihannya itu. Satu harapannya waktu itu, sang pencinta mau melupakannya. Namun, sejak itu ia terus diliputi ragu. Ia menyesal telah membiarkan suami ibunya mengusir lelaki pilihannya untuk meninggalkan dia selamanya. Kadang ia pun menyesal tak mengikutinya pergi, minggat dari rumah, atau sekalian kawin lari. Ia kalah karena sesungguhnya ia pun tak sanggup melupakan lelaki itu.&lt;br /&gt;Angin darat yang bertiup dari masa lalu seolah menjemput jiwanya menuju laut di hadapannya. Lalu jiwa resah itu menunggang angin. Bermanuver ke pucuk-pucuk ilalang. Menelusup rimba bakau, membenturkan jiwa resah itu ke pokok dan akar bakau yang tunjang-menunjang. Lalu kebebasan. Jiwa itu telah sampai di laut yang luas. Namun, ingatan selalu menjadi episode lamunan.&lt;br /&gt;Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Darahnya mendesir, detak jantungnya cepat. Ada getaran dahsyat yang datang tiba-tiba. Ia merasakan kehadiran yang sangat dinantikan, tapi saat ini ia ragukan. Sebelum ia menerka siapa yang datang, ada yang memegang bahunya dengan tangan yang kekar. Sontak ia terkejut dan melompat dari tempat duduknya. Dalam ketegangan ia membalikkan badan. Sekejap ada senyum yang menusuk ragunya. Badannya memaku bumi yang asing. Kesadaran jiwanya belum kembali.&lt;br /&gt;“Mas,  kamu...?”&lt;br /&gt;“Ya, ini aku.”&lt;br /&gt;“Benarkah ini kamu? Perempuan itu menggigit bibir sendiri. Meyakinkan ini bukan mimpi. Jantungnya berdegup kencang. Darahnya berdesir di bawah kulitnya yang pucat. Tergesa ia menyergap tubuh lalaki yang dinantikannya dan saat ini tiba-tiba ada di hadapannya. Namun lelaki itu menolak.&lt;br /&gt;“Tidak!” sambil menghindarkan tubuhnya.&lt;br /&gt;“Mas!” perempuan itu kebingungan.&lt;br /&gt;“Saat ini kau bukan lagi milikku. Kau harus buktikan bahwa kau masih menjaga cintaku. Dan untuk itulah aku datang.”&lt;br /&gt;“Apa maksudmu, Mas? Aku tak mengerti.”&lt;br /&gt;Laki-laki itu tak menjawab. Ia lalu merogoh sesuatu yang terselip di pinggangnya. Sesuatu yang dibungkus kain merah. Ia buka bungkusan itu. Sebilah belati memantulkan sinar matahari terakhir sebelum ditelan garis lengkung laut lepas. Sejenak, lalu ia kembali membalut belati dengan kain. Dengan tangan kanannya yang kekar ia menyerahkan belati itu.&lt;br /&gt;“Untukmu!”&lt;br /&gt;“Apa ini?”&lt;br /&gt;“Terimalah, kelak kau akan membutuhkan ini. Bila nanti kau memakai belati ini, saat itulah kau akan mengerti. Saat itu pula semua tanya dalam hatimu akan terjawab. Jadi, terimalah”&lt;br /&gt;Perempuan itu menerima belati dengan kebingungan yang semakin dalam. Ia semakin tak mengerti. Belum ia berpikir lebih jauh, ia kembali dikejutkan dengan lirih sang lelaki.&lt;br /&gt;“Aku pamit.” Katanya sambil mundur dua-tiga langkah.&lt;br /&gt;“Mau ke mana lagi, Mas?”&lt;br /&gt;lelaki itu tak menjawab. Ia berpaling lalu berlari kencang sekali menuju pantai. Tubuhnya ditelan remang malam yang kelabu. Aneh, jalan pulang ada di arah sebaliknya.&lt;br /&gt;Ingin perempuan itu mengejarnya. Kerinduan belum tersentuh, tapi kebingungan semakin erat mengikat kedua kakinya lekat dengan bumi. Ia hanya bisa menimang-nimang belati di tangannya. Setumpuk tanda tanya jalin-menjalin memenuhi benaknya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu telah sampai di bibir pantai. Ada hasrat yang kuat untuk meneruskan langkahnya menuju laut lepas. Berenang seperti ikan, atau terbang seperti burung laut yang bermigrasi ke benua yang jauh. Namun ia hanya seorang lelaki yang kini merasakan lelah. Sejenak ia tertunduk sambil berlutut menghadap ombak yang mengusap kakinya. Memaki dirinya sendiri, memaki jalan hidupnya yang ia rasakan rumit.&lt;br /&gt;Lalu ia berdiri dengan tangkas. “Aaaarrrgh!” berharap bebannya lepas bersama teriakkan yang beradu dengan desau angin dan deru ombak.&lt;br /&gt;Ia kembali berjalan menyusuri garis pantai. Ujung kakinya menyentuh garis balik ombak yang kembali menuju laut. Satu-dua perahu laju. Ia terus berjalan pelan menuju sebuah dermaga kecil yang mulai sepi ditinggal para nelayan yang melaut. Di sana masih ada satu perahu motor. Seorang nelayan dengan kulit lebamnya sedang menghidupkan perahu motor itu, dua orang lainnya sedang merapikan jala dan petromak. Tampak lelaki itu terlibat perbincangan singkat dengan para nelayan. Sesaat kemudian ia sudah berada di atas perahu yang melaju pelan. Menuju laut yang ia kira kebebasan.&lt;br /&gt;Di tengah laut ombak mendayu. Di satu sisi perahu, para nelayan sibuk menarik jala, di sisi lainnya lelaki itu melepas lamunannya ke laut lepas. Segala hasrat hidupnya telah mati. Semua keinginannya telah ia kubur sendiri. Perlahan-lahan ia menuruni perahu. Tubuhnya ia larutkan ke dalam laut hitam di malam hari. Ia menyelam meski sebenarnya tak pandai melakukannya. Di kedalaman laut ia bertemu dengan angan kekasihnya yang dibawa angin sore tadi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari kemudian, pagi-pagi sekali&lt;br /&gt;Warga kampung nelayan itu geger. Jasad mati seorang lelaki bersimbah darah ditemukan di kamar anak tirinya. Dada dan perutnya rombeng dengan beberapa luka tusukan. Sebilah belati masih menancap di dada kirinya. Seorang gadis kurus layu menunduk bisu jauh dari pintu. Rambutnya kusut, beberapa kancing bajunya berserak di lantai. Ia masih menggigil ketakutan ketika satu persatu warga berdatangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-4281984869225281096?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/4281984869225281096/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=4281984869225281096' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/4281984869225281096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/4281984869225281096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/gandring.html' title='GANDRING'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-8962034547216493192</id><published>2007-11-29T17:06:00.000+07:00</published><updated>2007-11-29T17:11:24.655+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fione is Death'/><title type='text'>Tuhan, Kaukah yang Miscall Aku?</title><content type='html'>Ponselku berdering tiga kali. Bunyi yang membosankan. Aku meraihnya dalam kantuk yang malas, “halo!” tak ada jawab. Ah cuma miscall. Siapa pagi begini sudah iseng? Nomor tak kukenal. Sambil menggamit selimut kulemparkan ponsel jebot itu ke atas kasur. Tidur yang terinterupsi tak pernah bisa aku lanjutkan.&lt;br /&gt;Tiba-tiba anganku bangkit dan melayang. Terkenang suatu malam yang sebenarnya ingin kubuang dari ingatan. Sebuah kamar berdinding bata merah. Malam yang kabut, segelas cola, komputer yang nyala dan perempuan yang telanjang. Aku sedang menulis ketika tangan kecilnya merenggut perutku. Di balik kemeja tangan liar itu memeriksa detak jantungku, lekat di dada, lalu menjelajah hingga ke bawah pusar. Sebuah kecupan di telinga memaksaku meninggalkan komputer. Kulanjut menulis di bawah gamitan selimut. Aku tuliskan semua kata yang paling cinta di gelinjang tubuhnya. Penaku bergoyang mengaduk cola. Tulisanku itu selesai setelah getaran ponsel yang tertimpa miscall kurasakan dari tubuhnya. Malam pun berakhir dengan cola yang kehabisan desah, dan aku kehilangan soda.&lt;br /&gt;Anganku yang sedang terbang dijaring oleh dering ponsel yang kembali miscall. Nomor yang tak dikenal tadi, kusimpan dalam buku telepon dengan nama ‘?’. Aku tak pernah mau membalas miscall atau balik menghubungi orang yang miscall. Kalau memang penting dia bisa menelpon atau mengirim pesan singkat saja. Meski begitu, aku memahami banyak makna dari miscall. Mulai dari iseng, salah sambung, sekedar menyapa, mengecek nomor, ingin dihubungi, menandakan kedatangan, persetujuan, sampai teror. Ah, sudahlah. Yang pasti tak akan ada tidur lagi hari ini. Aku memaksakan diri untuk bangun. Buang air kecil, cuci muka dan gosok gigi. Dua menit yang terpaksa di kamar mandi.&lt;br /&gt;Kembali ke kamar aku menumpuk bantal, menggulung selimut, lalu aku hempaskan di sudut ranjang. Ponselku masih tergeletak di atas kasur. New message received.&lt;br /&gt;From: Halim&lt;br /&gt;Wah, rmhmu msh yg dl kan? Dah lama Qt tak sua, ntr sore Aq dtg.&lt;br /&gt;Jgn kmna2 ya. coz.&lt;br /&gt;Kawan lamaku Halim. Seorang Melayu yang lebih senang dipanggil seperti adik kecilnya melafalkan namanya /Haim/. Sebuah panggilan yang mengingatkanku pada kata dalam Bahasa Jerman yang berhomofon, Heim, Heimat, Heimweh. Sebaliknya dia pun memanggilku dengan “Wah”, bukan “Wahyu” atau lazimnya orang sering menyingkatnya “Yu”.  Sudah setahun lebih kami tak bertemu. Sebelum dia pindah kerja ke luar kota, kami sering menghabiskan waktu berdua. Kawanku yang sok kritikus sastra itu sering mengajakku berdiskusi tentang karya-karya mutakhir yang dia update setiap hari.&lt;br /&gt;OK, aku di rmh, dtg aj!&lt;br /&gt;Message has been sent.&lt;br /&gt;Hari ini ada tulisan yang harus aku selesaikan, jadi aku butuh waktu di depan komputer, mungkin seharian, mungkin juga beratus-ratus hari. Tidak, aku ingin menyelesaikan tulisan ini sebelum Haim datang. Jadi aku bisa merasa puas bila dia mengoceh tentang kelemahan tulisanku nanti.&lt;br /&gt;Sehari telah berlalu. Senja rebah dalam hujan, kini sudah masuk seperempat malam. Dari kaca jendela kulihat kota yang tertidur pulas berselimut sembab sisa-sisa hujan. Pilar-pilar gedung yang biasanya kulihat angkuh kini merinding kedinginan. Aspal hitam melarutkan gerimis. Gemerisisk daun lengkeng di halaman tertiup nafas rimba kota ini. Titik-titik kabut mengendap lewati bingkai jendela. Ah dingin sekali.&lt;br /&gt;Aku sontak melompat setelah kuketik tamat pada tulisanku. Bukan teriak “Eureka!” melainkan menutup jendela. Mencoba menyumbat dinginnya kota yang sepi supaya tidak masuk ke dalam kamarku. Kuselotkan kunci jendela. Dari balik kaca berembun kulihat sebuah skuter merah berhenti di luar pagar. Haim. Aku bergegas menuju teras depan.&lt;br /&gt;“Apa kabar, sobat?” tawanya masih seperti biasa.&lt;br /&gt;“Baik, baik. Wah banyak kesibukan rupanya kawanku ini. Kok baru nongol? Mari masuk!” kugandeng dia memasuki rumah yang dari tadi pintunya menganga.&lt;br /&gt;“Minum apa? kopi, teh, jeruk panas?” tak perlu kupersilakan lagi dia sudah sudah rebah di sofa.&lt;br /&gt;“Rokok!” dia terhenyak lalu membuka jaket kuyupnya. Membeberkannya di sandaran sofa.&lt;br /&gt;“Ah, ya” aku merogoh atap rak. Di situ aku biasa menyimpan rokok kretekku. Kulempar ke atas meja. Aku ke dapur membuat minuman. Teh tubruk diseduh air mendidih ditambah seujung sendok gula kesukaan dia saat dingin seperti ini. Segelas untuknya, segelas yang lebih manis untukku.&lt;br /&gt;Dia bersandar santai di sofa sambil mengepulkan asap rokok. Begitu nikmatnya. Dia menyambut segelas teh dari tangan kananku.&lt;br /&gt; “Hm. Bagaimana kabar kotamu, ada kemajuan apa? Kau sendiri, masih kurus begini belum sempat korupsi rupanya pejabat satu ini” tanyaku.&lt;br /&gt;“Hey,,, hey… ingat, aku ini kan cuma pejabat rendahan. Ya… korupsi juga kecil-kecilan lah. Kau sendiri, tambah kurus pula kau ini. Masih berkutat dengan diksi buat puisi-puisimu?”&lt;br /&gt;“Yap!” aku menuding tanda setuju. “Aku ada setumpuk karya untuk kaugeledah lagi. Dan yang paling anyar baru saja aku selesaikan. Yang ini pasti dimuat di koran nasional. Untuk pertama kalinya tentu. Aku ambilkan ya.”&lt;br /&gt;“Eit… eit… Tidak-tidak. Kali ini aku datang bukan untuk karya-karyamu. Kita akan senang-senang. Lagi pula aku sudah kenal dengan gaya menulismu. Jadi, sudah simpanlah dulu. Besok Kau kirim karyamu itu ke media.”&lt;br /&gt;“Apa? senang-senang?”&lt;br /&gt;“Ya, kita nikmati kota yang malam. Atau tepatnya malam yang kota.”&lt;br /&gt;“Maksudmu?” aku heran, biasanya dia justru menghindari keramaian. Senangnya menikmati kesepian. Selama berkawan dia sering mengajakku ke gunung, ke tepi danau, atau ke pantai yang sepi. Bahkan dia tidak begitu menikmati teknologi. Punya ponsel saja setelah dia pindah ke luar kota. Itu pun jarang ia pakai. Menghubungiku saja paling sekitar tiga bulan sekali. Aku sampai sering mengatainya alien, manusia tragik, atau sufi burung. Sufi gagal. Sebelum aku kembali bertanya, dia melemparkan jaketku yang tergulung di sudut sofa tepat ke dadaku.&lt;br /&gt;“Ayo pergi!” ajaknya singkat sambil memakai jaketnya kembali. Dia pun berlalu meninggalkan pintu dan tak menghiraukanku.&lt;br /&gt;Sejenak aku terpana. Aku sudah terbiasa dengan ajakannya yang sering memaksa dan tiba-tiba. Tapi aku merasa asing dengan keinginannya untuk bersenang-senang dalam keramaian.&lt;br /&gt;“Kita ke mana?” tanyaku sambil mengikutinya.&lt;br /&gt;“Sudah ikut saja.” Jawabnya. Dia menghidupkan skuternya. Aku masih merapikan jaketku ketika naik di belakangnya.&lt;br /&gt;Skuter melaju dengan kecepatan yang cukup di atas jalanan yang basah. Malam masih lengang, tapi semakin ke pedalaman rimba kota, malam semakin riuh dengan kendaraan dan kaki yang berjalan. Di dekat stasiun kereta kulihat ada kerumunan. Jalan sedikit macet, kendaraan merapat ke trotoar didesak ambulans yang meraung.&lt;br /&gt;“Ada apa ini?”&lt;br /&gt;“Ah, biasa kecelakaan lalu lintas.”&lt;br /&gt;Kami terus melaju dalam tawa. Berkeliling kota dua-tiga putaran. Menggoda para pelacur yang mangkal di pinggir-pinggir jalan. Haim hampirkan skuternya ke tepi mereka, bunyikan klakson dan berhenti. Namun begitu salah satu atau salah dua dari mereka mendekat Haim langsung tancap gas. Lalu kami tertawa semakin puas. Begitulah yang kami lakukan hingga tengah malam tiba.&lt;br /&gt;Setelah cukup lelah, kami putuskan untuk mencari kehangatan dalam sebuah kafe. Dari luar tampak kafe itu menempelkan lukisan-lukisan ukuran besar di dindingnya. Skuter Haim sandarkan di trotoar. Kami masuk masih dengan tawa yang tersisa. Seorang waitress menyambut dengan muka gembira. “Minuman terbaik untuk malam paling baik!” sumringah sekali Haim memesan minuman pada waitress tadi. Kami duduk di atas kursi yang tinggi, sebotol minuman datang. Entah merk apa, sepertinya bahasa Perancis. Dua gelas piala mengikuti. Haim menuangi kedua gelas itu. Ada desah dan sedikit busa keluar dari dalam gelas.&lt;br /&gt;“Kau ceritalah. Kau masih dengan kekasihmu itu, Si Bulan… siapa namanya, Si Luna?”&lt;br /&gt;Pertanyaan yang paling kubenci keluar dari mulut kawanku. Sebenarnya aku malas menjawab pertanyaan itu. Hatiku saja yang meracau, berbicara tentang segalanya. Anganku pun kembali mengembang. Terbang menuju tiga bulan silam. Terakhir aku dengannya bertengkar. Sudah itu Lunaku menghilang, entah kemana. Setiap malamku menjadi sepi. Tak ada yang mengintipku dari jendela saat malam, tak ada yang memberiku kecupan selamat malam saat aku bekerja sampai larut di depan komputer. Sudah seratus malam, bulan tak tampak bergantung di langit. Dalam rindu aku sering berusaha menelfon Luna. Tapi ia sudah berganti nomor. Bahkan ia menghilang dari rumahnya, menghilang pula dari hidupku.&lt;br /&gt;“Hei… kok malah melamun?” Haim memecah lamunanku yang hampir bulat. ia mengangkat gelasnya, menyeruput minuman yang sejenak terabaikan. “jangan katakan kau sudah menikahi gadis itu tanpa sepengatahuanku. Ayo, ceritakan tentang hidup kalian!”&lt;br /&gt;“Tidak. Kami…” Aku kikuk menjawabnya.&lt;br /&gt;“Kalian… Ha…ha…ha” dia pandai sekali menebak. Dan tertawanya itu puas menggelegar di atas kejengahanku.&lt;br /&gt;“Kenapa kamu tertawa begitu? Senang melihat kawanmu menderita, hah?”&lt;br /&gt;Haim masih tertawa.&lt;br /&gt;“Tenang, Kawan. Dibawa tenang sajalah. Jangan kira aku menertawakan penderitaanmu saja. Hal serupa juga menimpaku. Tapi aku tetap tertawa. Beginilah hidup, the unbearable lightness of being” katanya diakhiri kutipan judul novel dunia.&lt;br /&gt;Mendengar Haim mengalami hal serupa, aku juga ikut tertawa puas. Dalam bulir air mata yang mendesak lewat pelupuk mata berkali-kali bayangan wajah Luna tertawa juga padaku. Akhirnya kami lewati waktu dengan penuh tawa. Tawa yang sangat ringan untuk sesuatu yang sangat berat. Pukul sepuluh kami turun kembali ke kota. Kabut sudah mengendap bersama tanah. Sebagian tersangkut di pucuk dedaunan yang masih dingin. Bulan tampak ragu-ragu mengibaskan mega hitam. Tak jelas bentuk bulan malam ini. Purnama, sabit, atau lonjong. Tapi aku tak peduli, aku masih larut dalam tawa yang disengaja.&lt;br /&gt;Kami habiskan hari yang masih kuncup itu dengan tertawa. Kali ini tawa kami sudah serak. Pukul empat subuh kami baru keluar dari kafe. Haim yang minum lebih banyak tak sanggup mengantarku pulang. Sebenarnya dia mau, tapi aku yang tak mau direpotkan orang mabuk. Akhirnya aku pulang sendiri naik angkutan kota yang sudah berseliweran mengangkut orang-orang pasar.&lt;br /&gt;Geliat pagi sudah tampak ketika aku sampai ke rumah. Fajar sudah menguning dan langit hanya sedikit berawan putih. Aku langsung menghempaskan badan ke atas kasur yang kesepian malam ini tanpaku. Aku merogoh bawah punggungku. Ponsel yang semalaman tertinggal mengganjal rebahku yang ingin kunikmati. Saat ingin kulempar ia, pada layarnya terbaca 24 miscall. Wah banyak sekali. Aku buka kunci tombolnya. Deretan titimangsa sejak malam tadi. Semua dari nomor yang sama, ‘?’. Masih dalam keherananku, ada dua pesan pendek yang menunggu untuk dibuka.&lt;br /&gt;From: ?&lt;br /&gt;Hnya skali ini sj. Tmui aq di stsiun sblm jm 10 atau qt tk prnh bertmu lg.&lt;br /&gt;Itu yang pertama. Dan yang kedua semakin meyakinkanku untuk mengganti tanda tanya di buku telepon ponselku dengan sebuah nama yang pasti.&lt;br /&gt;From: ?&lt;br /&gt;Aq srhkn smua ksabaranku untkmu. Baiklh aq kmbl mngalah. Hnya krna cnta aq mnujumu. &lt;br /&gt;“Luna! Kamu di sini?” aku teriak memanggil Lunaku sambil mencari-cari ke setiap sudut rumah. Tidak ada. Aku hampir putus asa ketika kuganti nama tanda tanya itu dengan LD, Luna Deswita. Inisial sama kusematkan pada namanya yang dulu kawan-kawanku sering berseloroh tentangnya. Lady Diana, Lady Die, tapi buatku tetap Luna Deswita. Akhirnya kuhempaskan tubuh lelah ini di atas sofa. Tapi layaknya tidur yang terinterupsi tak pernah aku lanjutkan lagi. Aku hanya rebah sambil memandang langit-langit rumah. Mataku menyorot putih langit-langit seperti lampu bioskop menerjang layar. Lalu sederet gambar kenangan perjalananku dengannya hidup. Sebuah film sedang diputar dengan alur yang tidak jelas. Aku tidak beranjak dari sofa yang beberapa jam menjadi kursi bioskop.&lt;br /&gt;Matahari sudah sepenggalah ketika aku bangkit. Masih ada dua gelas teh dingin di meja. Aku habiskan segelas, lalu menuju teras depan. Koran lokal hari ini sudah tergolek di atas jejak sepatu berlumpur yang mengering. Halaman depan masih dipenuhi berita bencana flu burung dan kekeringan di tanah air. Aku bosan dengan berita-berita yang itu-itu juga. Mataku terperangkap di sudut halaman koran.&lt;br /&gt;Seorang Wanita Muda Tewas Tertabrak Truk&lt;br /&gt;Kecelakaan yang merenggut nyawa tersebut terjadi tak jauh dari stasiun kereta. Polisi mengidentifikasi korban bernama Luna Deswita (22), warga jalan Teratai, kelurahan Selasih, Kota Utara…&lt;br /&gt;Tak sanggup aku lanjutkan membaca berita itu. Semua kenangan berkumpul di langit lalu begumul menjadi sebuah meteor sebesar rumah. Lalu jatuh menimpaku. Saat hampir aku terjatuh, ponselku berdering lagi. Tanganku gemetar ketika kuangkat ponselku.&lt;br /&gt;LD calling&lt;br /&gt;Tapi saat kulekatkan ponsel pada telingaku, tak ada jawab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-8962034547216493192?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/8962034547216493192/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=8962034547216493192' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/8962034547216493192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/8962034547216493192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/tuhan-kaukah-yang-miscall-aku.html' title='Tuhan, Kaukah yang Miscall Aku?'/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8266611799411177537.post-1923772261508147883</id><published>2007-11-28T17:08:00.001+07:00</published><updated>2007-11-28T17:24:05.731+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_G_5fi_3-QsU/R01BsRMjmBI/AAAAAAAAAAM/8SpMHSlE2tE/s1600-h/sablon.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137834978685720594" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_G_5fi_3-QsU/R01BsRMjmBI/AAAAAAAAAAM/8SpMHSlE2tE/s320/sablon.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8266611799411177537-1923772261508147883?l=theonlywann.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://theonlywann.blogspot.com/feeds/1923772261508147883/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8266611799411177537&amp;postID=1923772261508147883' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/1923772261508147883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8266611799411177537/posts/default/1923772261508147883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://theonlywann.blogspot.com/2007/11/blog-post.html' title=''/><author><name>theonlywann</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05307243047041602612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_G_5fi_3-QsU/R1AwfBMjmDI/AAAAAAAAAAc/kI2YTCFsSBg/S220/sablon.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_G_5fi_3-QsU/R01BsRMjmBI/AAAAAAAAAAM/8SpMHSlE2tE/s72-c/sablon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
