Showing posts with label article. Show all posts
Showing posts with label article. Show all posts

Thursday, November 29, 2007

PENDIDIKAN ANTIKORUPSI:

Di negeri yang terkenal korup ini, dunia pendidikan begitu carut-marut. Nilai rapor merah dunia pendidikan kita semester ini dapat dilihat dari permasalahan UAN, kelulusan, SPMB, kontroversi pelantikan rektor, dan masih berderet lagi catatan yang lain. Entah kenapa sampai saat ini dunia pendidikan kita belum bisa berbenah dan menunjukkan peningkatan kualitas manusia Indonesia.
Sementara itu, korupsi masih merajalela dan telah menjadio tradisi. Korupsi sebagai tradisi tentu saja diturunkan dari generasi ke generasi. Setiap institusi sejak awal telah menyusun sebuah orientasi korupsi bagi anggota-anggota barunya. Entah disadari atau tidak, legal ataupun tidak, yang pasti sudah menjadi rahasia umum bila ingin menjadi PNS harus mengeluarkan uang yang banyak. Hal ini terjadi pula pada institusi yang lain, sebut saja kepolisian, militer, perguruan tinggi, BUMN, dan sebagainya.
Dari hasil praktek sogok-menyogok ini, mereka yang terpilih menjadi angota (pegawai, perwira, mahasiswa, dan seterusnya) akan menghitung biaya yang telah dikeluarkan. Dari hitung-hitungan tersebut, muncullah motivasi untuk mendapat ganti rugi yang akhirnya, karena sifat serakah manusia, mereka ingin memperkaya diri. Salah satu cara adalah delakukan tindak korupsi.
Parahnya, tradisi tersebut justru terjadi pula di institusi-institusi pendidikan, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Tradisi korupsi kecil-kecilan mulai dari “jual dedet” buku, beasiswa dan dana bantuan yang tidak transparan, serta alokasi anggaran dengan cara mark up masih kerap terjadi.
Mungkin hal-hal di atas akan disanggah: bukannya ada komisi sekolah yang memantau? Atau di universitas ada majelis wali amanat, persatuan orang tua mahasiswa, dan sejenisnya?
Akan tetapi jangan sekali-kali yakin dengan konsistensi mereka. lembaga-lembaga tersebut seringkali merupakan lembaga bentukan sekolah, yang tentunya berpihak pada orang-orang yang berkepentingan untuk korupsi juga. Singkatnya, lembaga-lembaga tersebut belum berpihak pada rakyat. Buktinya, SPP tetap mahal, lantas muncul pula biaya-biaya yang lain yang tidak jelas asal-usul dan tujuannya. Dengan demikian, jargon “orang miskin dilarang sekolah” masih berlaku.
Akan tetapi, betapa pun carut-marutnya dunia pendidikan kita, betapa pun korupnya negeri ini, pendidikan harus diterapkan pada peserta didik di setiap jenjang pendidikan. Pendidikan tersebut bukan harus berwujud mata pelajaran atau mata kuliah, melainkan diarahkan pada pengembangan mental yang dapat menumbuhkan rasa peduli dan kesadaran mereka untuk antikorupsi.
Pekerjaan pertama yang perlu dilakukan adalah membersihkan sekolah dan lembaga pendidikan dari segala praktek korupsi. Khusus di perguruan tinggi, mahasiswa harus pula dilibatkan dalam berbagai kebijakan sehingga dapat memantau para pejabat dalam lembaga terkait.
Selanjutnya, lembaga yang berwenang dalam pemberantasan korupsi, KPK perlu membuat jalur pemberantasan korupsi mulai dari tingkat daerah sehingga siapapun, terutama peserta didik mudah melakukan pemantauan dan melaporkan segala tindak korupsi. Untuk itu, KPK dan lembaga terkait cukup sekali-dua kali melakukan sosialisasi ke sekolah.

mata matahari

RUNTUHNYA BUDAYA PATRIARKI DALAM NOVEL MATA MATAHARI

Tahun 1997-2001 negeri ini terus bergejolak. Reformasi yang digulirkan sampai sekarang konon malah mengalami mati suri. Padahal, negeri ini telah mengalami kehancuran ekonomi, tatanan sosial, hukum, dan politik. Lebih parahnya lagi adalah terjadinya kemerosotan nilai pada semua tatanan kehidupan. Kita ingat saat awal reformasi digulirkan., banyak pihak yang hanya mengambil keuntungan semata justru memperparah keadaan bangsa. Mata berjuta orang lalu tertuju pada kericuhan di mana-mana. Banyak wanita diperkosa di jalanan, dibunuh, dan dieksploitasi. Pada kenyataannya sampai sekarang di berbagai daerah di tanah air, kita masih sering mendengar berita tentang pemerkosaan, pembunuhan, penjualan wanita, prostitusi, TKW yang dieksploitasi, dan sebagainya.
Sejak itulah muncul kesadaran perempuan yang sebenarnya telah lama terpendam. Sedikit demi sedikit muncul gerakan feminis yang ditandai dengan bermunculannya aktivis perempuan, organisasi perempuan, serta bertambahnya porsi perempuan di pemerintah dan legislatif.
Rentang waktu 1997-2001 inilah yang ditampilkan melalui novel Mata Matahari karya Ana Maryam. Novel yang terbit tahun 2003 ini memang tidak banyak mengungkap demonstrasi mahasiswa atau proses reformasi. Akan tetapi, di sini digambarkan dengan jelas sisi-sisi kehidupan perempuan Jakarta bernama Lola yang mempunyai pemikiran modern, juga radikal. Novel ini juga tidak melulu mengisyaratkan bahwa perempuan harus mempunyai posisi yang sejajar dengan laki-laki, lebih dari itu perempuan harus menjadi sosok yang mandiri, mempunyai visi dan misi progresif dan menjadi pemenang dalam persaingan dengan kaum Adam sekalipun.
Lola dibesarkan di lingkungan kumuh di Jakarta. Sejak kecil ia tidak mendapat kasih sayang dari ayahnya. Ia dibesarkan oleh jerih payah ibunya yang melacurkan diri. Lola yang sudah dewasa mempunyai apartemen sendiri, mobil, studio foto, dan tentunya penghasilan sendiri. Ternyata ia mendapatkan semua itu dengan cara melacurkan diri juga. Dengan bekal tubuhnya ia menjadi pelacur kelas atas yang sering melayani para pengusaha dan pejabat.
Suatu hari muncul keinginan dalam hati Lola untuk mempunyai seorang anak. Ia benar-benar ingin mempunyai seorang anak yang kelak akan dinamainya, dicintainya, dan diasuhnya dengan tulus. Lalu ia mulai mencari dalam memorinya dari siapa ia harus mendapatkan anak. Tapi dari semua laki-laki yang pernah tidur dengannya tidak ada yang dianggap tepat untuk merealisasikan keinginannya itu. Tidak ada laki-laki yang ia percayai untuk memberinya anak. Namun, meskipun Lola ingin punya anak yang tentunya dari benih seorang laki-laki, Lola tidak pernah ingin mempunyai suami atau menikah. Pandangan Lola mengenai pernikahan kurang lebih seperti berikut,

Tidak, sejujurnya aku tidak memercayai lembaga perkawinan. Bagiku itu lembaga paling munafik yang pernah tercipta. Karena banyak sekali orang-orang, istri atau suami sama saja, selingkuh meski mereka sudah punya banyak anak. Lantas apa gunanya pernikahan? Aku tak sanggup jika anak-anakku suatu saat menyaksikan aku atau suamiku berselingkuh. Tidak, aku tidak mau mengambil resiko itu (Maryam, 2003: 127).


Akhirnya Lola menemukan seorang laki-laki yang sebelumnya asing di dalam kehidupannya. Ia telah jatuh cinta, tapi mengejutkan ketika ia jatuh cinta pada seorang lelaki buta bernama Elang. Lola memutuskan bahwa Elang adalah laki-laki yang akan memberinya anak. Maka dengan cara apapun ia harus mendapatkannya.
Sementara Lola sedang mengejar Elang, Thery, dahabat Lola juga jatuh cinta pada seorang laki-laki bernama Destano. Laki-laki yang mahir berbohong ini adalah seorang mahasiswa yang juga pengedar narkotika. Masa lalu Destano begitu kelam. Ia hanyalah anak pungut yang diurus dengan kasih sayang tulus keluarga nelayan miskin di Caruban, Jawa Timur. Ibu yang mengurusnya waktu kecil dibunuh dalam sebuah pembantaian. Lalu ia dibesarkan sendiri oleh seorang bapak bernama Iqbal. Pergaulan Rizky (nama kecil Destano) telah tersesat sehingga dia berkembang menjadi remaja yang angkuh, gila kekayaan, dan durhaka. Akhirnya Rizky pergi ke Jakarta dengan nama samaran Destano Kusuma Negara putra seorang pejabat juga pengusaha.
Diam-diam Destano mencintai Lola. Sementara ia tidur dengan Thery, ia juga tidur dengan Lola. Sedangkan Lola juga telah mendapatkan Elang. Lama-lama perselingkuhan ini diketahui juga oleh Thery. Akhirnya Thery marah sehingga terjadi pertengkaran hebat. Mereka semua berpisah. Elang pergi ke Singapura untuk operasi mata. Thery meninggalkan sahabatnya Lola karena kecewa, sementara Destano tertangkap polisi karena mengedarkan narkotika. Akhirnya Lola kehilangan Elang untuk selamanya, demikian juga Thery kehilangan Destano yang setelah ditangkap akhirnya menjadi gila.
Merasa senasib, akhirnya Lola dan Thery kembali bersatu. Bagi mereka cinta sahabatlah yang sejati, sampai-sampai hubungan mereka jadi istimewa. Lola dan Thery menjadi pasangan lesbi. Mereka hidup bersama sambil menunggu kelahiran anak Elang yang dikandung Lola dan anak Destano yang dikandung Thery.
Kehilangan lelaki yang dicintai bagi keduanya memang menyedihkan. Ini adalah sisi kehidupan perempuan yang manusiawi. Lepas dari itu semua, Mata Matahari telah “menyudutkan” kaum laki-laki ke level yang inferior. Dengan demikian, maka secara sadar novel ini telah berusaha meruntuhkan sistem patriarki masyarakat kita.
Di antara pemikiran yang menunjukkan upaya meruntuhkan patriarki, selain pandangan tentang lembaga perkawinan adalah pemikiran yang diungkapkan novel ini tentang laki-laki. “,,,,laki-laki sekarang mana ada yang berkaitan dengan hati, mereka sekarang berfikirnya pakai penis”. Selain itu laki-laki digambarkan sebagai makhluk yang mengejar kesenangan semata. Ini digambarkan melalui tokoh-tokoh yang menjadi langganan Lola. Mereka adalah para pengusaha, pejabat, bahkan rektor tua yang telah beranak istri namun tetap saja mau menjadi pelanggan pelacur kelas Lola. Lola yang mewakili perempuan ideal hanya memanfaatkan uang mereka saja.
Sebagai kepala keluarga, laki-laki juga digambarkan sebagai pemimpin yang lemah dan tidak bisa mendidik anak-anaknya. Hal ini ditunjukkan dengan ketidakhadiran tokoh ayah. Lola tidak pernah diurus ayahnya, demikian juga Thery yang hanya diceritakan tinggal dengan ibunya. Sedangkan sisanya adalah sosok ayah yang tidak mampu berbuat banyak. Iqbal gagal mendidik Rizky dengan baik. Tokoh ayah lainnya adalah ayah Elang dan ayah Lala, kekasih elang waktu kecil, di mana kehadiran dan peran tokoh-tokoh ini sangat minim dan sengaja direduksi.
Sebaliknya, novel ini mengangkat level perempuan pada level yang begitu tinggi. Perempuan mempunyai hasrat manusiawi yang sangat kuat, mempunyai sikap yang tegas, mandiri, serta mampu mempertanggungjawabkan apapun yang telah diperbuatnya. Tokoh Lola menjalankan peran sentral seperti disebutkan di atas. Demikian juga Thery, sahabat Lola. Singkatnya, kedua tokoh ini mewakili idealisme feminis untuk menjadi perempuan yang independen, lepas dari pengaruh siapa pun.
Di sisi lain, perempuan yang lemah sengaja “dimatikan”. Nasib Lala, perempuan yang rela melakukan segalanya demi Elang berakhir dengan kematian karena kecelakaan lalu lintas. Demikian juga rahayu, istri Iqbal. Yang selalu ‘nrimo’ dan lemah ini pun terbunuh. Hal ini mengindikasikan bahwa novel ini tidak menyetujui sikap-sikap perempuan yang lemah, nrimo, apalagi dependen terhadap laki-laki.
Dengan mengangkat posisi perempuan ke posisi yang lebih tinggi, maka secara langsung dan sadar, posisi laki-laki yang menjadi oposisi menjadi lemah dan inferior. Dengan cara seperti itulah novel ini meruntuhkan patriarki dengan kekuasaan ayahnya, dominasi laki-laki, atau sebaliknya, inferioritas perempuan. Gagasan-gagasan feminis seperti ini jelas tidak hanya mengungkapkan bias jender di masyarakat, tetapi juga menentang keras budaya patriarki.


***

KEBERPIHAKAN SISTEM TRANSPORTASI INDONESIA

Rangkaian kecelakaan lalu lintas baik darat, laut maupun udara yang terjadi di negara kita baru-baru ini sungguh memprihatinkan. Dalam rentang waktu kurang dari sebulan terakhir ini saja, tercatat beberapa kecelakaan yang merenggut ratusan korban jiwa. Belum tuntas pencarian bangkai Kapal Motor Senopati dan pesawat AdamAir, menyusul anjloknya rangkaian gerbong kereta Bengawan. Entah apa yang sesungguhnya menyebabkan berbagai kecelakaan tersebut, namun hal ini menunjukkan betapa buruknya sistem transportasi di Indonesia.
Apalagi bila kita menengok sedikit ke masa silam, pada tahun 2006 misalnya, menurut laporan sebuah stasiun televisi swasta tercatat 76 kecelakaan kereta api. Angka yang cukup banyak untuk jalur kereta yang sangat sedikit. Penyebab secara umum adalah kondisi rel yang sudah tua, kelebihan muatan, dan kelalaian manusia. Penyebab yang tidak mengherankan, mengingat jalur kereta yang kini beroperasi di Negara kita hampir seluruhnya merupakan “warisan” kolonial Belanda. Demikian juga dengan usia kereta yang kebanyakan sudah renta, jarang sekali didatangkan kereta baru (diimpor karena memang negara kita belum mampu membuat sendiri).
Masalah kecelakaan lalu lintas sebenarnya hanya sebagian kecil dari permasalahan kompleks sistem transportasi kita. Masih banyak permasalahan yang tak kunjung terselesaikan. Mari kita cermati beberapa masalah lainnya seperti, keadaan transportasi massa pada saat mudik lebaran, keadaan transportasi di pelosok desa dan wilayah terpencil di pulau-pulau negeri ini, kondisi jalan di berbagai daerah, pemalakan dan pungli yang kerap terjadi di terminal dan pelabuhan, dan masih banyak permasalahan lain yang mungkin sejenak terabaikan karena perhatian kita tersita oleh kejadian yang lebih menghebohkan. Masalah-masalah ini tak kunjung juga terselesaikan. Lalu siapa yang bertanggung jawab atas semua ini? Sebuah pertanyaan invertif dan kita telah mafhum dengan jawabannya.
Berbagai permasalahan tersebut sekali lagi menambah catatan buruk sistem transportasi Indonesia. Sebuah nilai rapor merah yang bertolak belakang dengan pesatnya industri otomotif belakangan ini. Mobil dan motor terus diproduksi secara besar-besaran. Akibatnya tak ayal lagi kemacetan terjadi di kota-kota besar. Untuk mengantisipasi masalah ini, pemerintah mengusahakan pembangunan beberapa ruas jalan tol dan fly over baru. Sebuah usaha yang memang memberi kemudahan bagi pengguna jalan. Akan tetapi, di sisi lain, pembangunan jalan tol dan fly over ini memicu semakin banyaknya masyarakat kalangan menengah ke atas untuk memiliki kendaraan pribadi. Artinya pengguna jalan tol kebanyakan mobil pribadi yang biasanya dimiliki oleh masyarakat menengah ke atas.
Di sisi lain, transportasi massa masih menyisakan banyak pekerjaan. Setiap tahun pemerintah kewalahan mengantisipasi mudik lebaran, kecelakaan kereta masih kerap terjadi, kelebihan muatan masih dipaksakan dalam kapal, bis, dan kereta api. Akibatnya kecelakaan pun kerap terjadi. Anehnya, setelah kecelakaan terjadi tidak mudah menyimpulkan penyebab kecelakaan, cuaca buruk sering menjadi kambing hitam. Demikian juga dengan evakuasi yang terkesan lamban dan kadang-kadang diskriminatif. Kita tahu, evakuasi AdamAir lebih dahsyat dan melibatkan lebih banyak orang daripada evakuasi terhadap KM Senopati. Padahal kedua alat transportasi ini sama-sama belum ditemukan, bahkan korban KM senopati jauh lebih banyak dibanding korban AdamAir.
Mencermati keadaan transportasi massa di kota besar, kita bisa memperhatikan keadaan bus kota. Seonggok besi tua yang terus dipacu dengan beban yang berjejal. Orang-orang berdiri berdesak-desakan dengan peluh bercucuran. Knalpotnya mengepulkan asap hitam. Polusi udara tak terhindarkan, padahal pemerintah dan pencinta lingkungan menyatakan perang terhadap polusi asap kendaraan bermotor. Parahnya lagi, awak bus sempat berdemonstrasi meminta pembayaran beberapa bulan gaji mereka yang belum ditunaikan manajemen. Ada apa dengan semua ini? Jangankan memperbaiki fasilitas dan pelayanan, yang ada pun terus digerus usia dan kebobrokan manajerial.
Semua itu hanyalah contoh kecil dari banyak masalah lain dari sistem transportasi yang merundung negeri ini. Padahal pemerintah telah membentuk banyak sekali lembaga yang terkait dan berperan di dalam sistem transportasi. Pemerintah beserta lembaga-lembaga tersebut seyogyanya memperhatikan masalah-masalah pelayanan transportasi publik. Bukannya menyangsikan kinerja mereka, namun selama ini belum ada bukti nyata keberpihakan pemerintah dan lembaga terkait pada masyarakat kecil yang menggunakan alat transportasi massa. Adapun janji pemerintah untuk membangun jalur kereta baru, tak kunjung dilaksanakan. Mungkin masih dalam proses rumitnya birokrasi, atau hanya isapan jempol semata.
Sistem transportasi Indonesia belum berpihak pada rakyat kecil. Kita harus kembali bersabar, sementara kita yang sehari-hari menggunakan alat transportasi massa tidak punya jaminan keselamatan. Jangankan berharap fasilitas yang memadai, kita masih harus berhati-hati karena fasilitas yang sedang kita gunakan tidak memberi jaminan keselamatan. Kalau ingin mendapat fasilitas yang enak, kita harus membayar mahal. Itulah yang terjadi. Semoga hal ini bisa membuka mata kita semua sehingga keinginan untuk mendapatkan yang lebih baik tertanam pada semua pihak termasuk pemerintah.

* * *

“ASUPAN”

Saat ini banyak orang yang ragu bila Indonesia adalah negeri yang kaya, makmur sandang, pangan, dan papan. Lagu Koes Plus “bukan lautan tapi kolam susu” hampir tidak berlaku lagi. Beberapa kasus yang terjadi belakangan membuktikan bahwa negara tidak bisa menjamin kemakmuran rakyatnya. Busung lapar di beberapa daerah, kelaparan di Yahukimo, dan kemiskinan yang tak kunjung terselesaikan menjadi tanda betapa negeri ini memprihatinkan.
Media masa telah memberi informasi yang cukup bagi masyarakat tentang kasus-kasus tersebut. Berita keprihatinan dari berbagai sudut negeri telah menjejali nurani kita. Setiap menit selalu ada bencana yang tersiar melalui media lalu sampai kepada kita. Lama-lama panca indera kita pun terbiasa dengan berita-berita tersebut.
Bila kita mencermati berita tersebut, ada hal yang menarik. Dalam berita yang telah menjadi biasa itu muncul sebuah kosa kata yang menggelitik di telinga. Perhatikan kalimat berikut:
1) Kurangnya asupan gizi seimbang menyebabkan busung lapar.
2) Masyarakat Yahukimo membutuhkan asupan makanan bergizi supaya terhindar dari bencana yang labih besar.
Bentuk-bentuk kalimat seperti ini acap kali muncul dalam berita di televisi baru-baru ini. Dilihat dari segi morfologisnya, kata asupan termasuk jenis kata benda yang secara gramatik dibangun dari kata asup + sufiks -an. Jenis kata seperti ini dapat disejajarkan dengan kata “makanan” (makan + sufiks -an), “minuman” (minum + sufiks -an), “tangisan” (tangis + sufiks -an) dan sebagainya.
Selain kata asupan kita lebih dulu mengenal kata “masukan” yang proses pembentukannya sama, yaitu masuk + sufiks -an. Kata masukan diartikan sebagai saran atau nasihat yang membangun. Perhatikan contoh kalimat berikut “Saya mengharapkan masukan Anda untuk penyempurnaan makalah ini”. Kata masukan yang telah sangat lama digunakan ini cukup berterima di semua kalangan
Namun tidak demikian dengan kata asupan. Kata ini tidak ditemukan dalam KBBI. Kata asup justru ditemukan di kamus Bahasa Sunda yang artinya persis sama dengan kata masuk dalam Bahasa Indonesia.
Dalam bahasa Sunda kata asupan dibentuk dari proses gramatik asup + sufiks -an. Bentuk kata seperti ini sejajar dengan kata timuan (timu + sufiks -an), lungsuran (lungsur + sufiks -an), dan sebagainya. Kata-kata asupan, timuan dan lungsuran termasuk kata benda. Namun perhatikan juga kata-kata cokotan (cokot + sufiks -an), lobaan (loba + sufiks -an). Meskipun proses pembentukan kata-kata ini sama, ternyata jenis katanya berbeda. Kata cokotan berjenis kata kerja (perintah), dan lobaan kata keterangan.
Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa, 1) kata asupan yang belakangan ini sering muncul di media massa merupakan kata serapan dari Basa Sunda. Proses penyerapan kata asupan adalah penyerapan yang tanpa gejala perubahan. Artinya kata asupan diserap seutuhnya, baik bentuk maupun maknanya, dan 2) nyata negeri yang kekurangan ini membutuhkan asupan kosakata asing disamping asupan materi untuk memperbaiki keterpurukan selama ini.